BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Belajar adalah syari’at islam yang menjadi kewajiban bagi seluruh umat
islam melalui firman Allah Ta’ala, yaitu ayat yang pertama kali turun dalam
surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Oleh karena itu, mau tidak mau, sebagai umat Nabi
Muhammad kita harus selalu belajar dan belajar.
Terlebih lagi
pada usia anak-anak. Karena pada masa itu proses pembelajaran sangatlah mudah
diterima atau mendapat respon yang baik dari anak-anak.
Akan tetapi, banyak sekali proses
pembelajaran yang dilakukan oleh anak-anak yang dibimbing oleh seorang guru,
menghasilkan hanya sedikit perubahan yang dialami oleh anak, bahkan tidak sama
sekali dalam pembelajar bahasa baik itu menulis,membaca,berbicara dan
lain-lain. Hal itu disebabkan adanya kesulitan anak tersebut dalam belajar.
Tentunya banyak faktor yang dapat mempengaruhinya.
Melalui
makalah ini, saya mencoba mendeskripsikan tentang kesulitan belajar yang
dialami oleh anak serta langkah untuk mengatasinya.
1.2. Rumusan Masalah
Dari uraian di atas saya
merumuskan masalah sebagai berikut:
1.2.1Apa yang menjadi kesulitan
belajar bahasa pada anak?
1.2.2Bagaimana cara untuk mengatasi kesulitan
belajarbahasa pada anak?
1.3. Metode
dan Teknik Pengumpulan Data
Dalam
penyusunan Makalah ini
penulis menggunakan beberapa metode dalam mengumpulkan data antaralain sebagai
berikut:
1.4.1 Observasi
Metode observasi adalah metode yang dilakukan
secara langsung pada obyek yang diteliti atau diamati.
1)
Pada Minggu, 07Desember 2014 penulis melaksanakan kunjungan ke tempat observasi secara
langsung di SDN 1 Purworejo Kec. Padangratu Kab. Lampung Tengah.
2)
Pada Minggu, 14 Desember 2014 penulis melaksanakan kunjungan lagi guna
meremedi ke
tempat observasi secara langsung di SDN 1 Purworejo Kec. Padangratu Kab.
Lampung Tengah.
1.4.2 Pustaka Dokumentasi
Merupakan metode
penelitian dengan bahan-bahan yang telah disimpan sebagai Arsip atau DokumenDi
ambil dari:
1) Abdurahman, Mulyono. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
2) Wood, Derek. 2011. Kiat Mengatasi Gangguan Belajar.
Jogjakarta: Kata Hati.
3) Iskandar,
Wassid. 2009. Strategi Pembelajaran
Bahasa. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
4) Taringan,
HG. 2009. Pengajaran Remedi Bahasa.
Bandung: Angkasa.
1.4. Tujuan
Penulisan Makalah
Adapun tujuan yang didapat
setelah melakukan penelitian ini
1.
Mengetahui masalah yang dihadapi anak dalam belajar bahasa;
2.
Mengetahui penyebab mengapa anak mengalami kesulitan dalamberbahasa, menulis,dan membaca.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Kesulitan Belajar (Learning Disability)
2.1.1 United Sites Office
of Education (1977)
Kesulitan Belajar Khusus adalah Suatu gangguan dalam
satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan
penggunaan bahasa ujaran atau tulisan.
2.1.2 National Joint Committee
for Learning Disabilities (NCLD)
Kesulitan belajar menunjuk
pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk kesulitan yang
nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap-cakap,
membaca, menulis, menalar, atau kemampuan dalam bidang studi matematika.
2.1.3 Association for
Children and Adulth with Learning Disabilities (ACALD)
Kesulitan Belajar Khusus
adalah Suatu
kondisi kronis yang diduga bersumber neurologis yang secara selektif mengganggu
perkembangan, Integrasi, dan/atau kemampuan verbal dan/atau non verbal.
2.2 Definisi Kesulitan
Belajar yang diteliti Penulis
2.2.1 Kesulitan Belajar
Bahasa
1) Owens (1984: 379)
Bahasa merupakan kode atau
sisitem konversional yang disepakati secara sosial untuk menyajikan berbagai
pengertian melalui penggunaan simbol-simbol sembarang (arbitrary symbols) dan
tersusun berdasarkan aturan yang telah ditentukan.
2) American Speech Laguage
Hearing Association (ASLHA)
Ada tiga komponen wicara,
yaitu (1) Artikulasi, (2) Suara, dan (3) Kelancaran. Berdasarkan tiga macam
komponen tersebut maka kesulitan wicara juga menyangkut kesulitan dalam
artikulasi, penyuaraan, dan kelancaran (Lovitt, 1989: 146).
2.2.2 Kesulitan Belajar
Membaca
1) Bryan dikutip oleh
Mercer (1979: 200)
Mendefinisikan disleksia
sebagai suatu sindroma kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen kata dan
kalimat, mengintegrasikan komponen-komponen kata dan kalimat, dalam belajar
segala sesuatu yang berkenaan dengan waktu, arah, dan masa.
2) Lerner dikutip oleh Mercer
(1979: 200)
Kesulitan belajar membaca atau
disleksia sangat bervariasi, tetapi semuanya menunjuk pada adanya gangguan pada
fungsi otak.
2.2.3 Kesulitan Belajar
Menulis
1) Lerner
Menulis adalah Menuangkan ide ke dalam
suatu bentuk Visual (1985: 413).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
kemampuan anak untuk menulis. (1) motorik, (2) perilaku, (3) persepsi, (4)
memori, (5) kemampuan melaksanakan cross modal, (6) penggunaan tangan yang
dominan, dan (7) kemampuan memahami instruksi.
2.3 Penyebab Kesulitan Belajar
Faktor
penyebab kesulitan belajar belum diketahui secara pasti, Menurut Sunardi (2000:
13) faktor penyebab kesulitan belajar dikelompokkan menjadi tiga kategori,
yaitu: faktor organik dan biologis, faktor genetik, dan faktor lingkungan.
1.) Faktor Organik dan
Biologis
Beberapa
penelitian menyimpulkan bahwa kesulitan belajar disebabkan oleh adanya Disfungsi Minimal Otak (DMO) meskipun
pada beberapa anak, gejala tersebut tidak ditemui. Selain adanya disfungsi
minimal otak, kesulitan belajar ada bukti tentang adanya faktor biologis yang
menjadi penyebab kesulitan belajar.
2) Faktor Genetik
Semakin
disadari sekarang bahwa anak berkesulitan belajar cenderung terjadi dalam satu
keluarga. Apakah ini merupakan faktor keturunan atau lingkungan, masih memerlukan
penelitian yang lebih lamjut.
3) Faktor Lingkungan
Faktor
lingkungan yang kurang mendukung menjadi salah satu penyebab anak berkesultan
belajar.
Selain itu
factor kesulitan belajar juga muncul akibat faktor yang terdapat di dalam diri
siswa, dan faktor yang ada di luar diri siswa, baik di lingkungan sekolah
maupun masyarakat.
Adapun faktor
penyebab hambatan dan masalah belajar yang terdapat di dalam diri siswa, antara
lain:
1.
Kelembahan secara fisik, seperti suatu susunan pusat syaraf
yang tidak berkembang secara sempurna, luka, cacat, atau sakit, sehingga
membawa gangguan emosional, penyakit menahun, asma yang menghambat usaha-usaha
belajar secara optimal.
2.
Kelemahan-kelemahan secara mental, baik yang dibawa sejak
lahir maupun karena pengalaman yang sukar diatasi oleh individu yang
bersangkutan dan kurang, seperti kelemahan mental.
3.
Kelemahan-kelemahan emosional, antara lain: rasa tidak aman
4.
Kelemahan yang disebabkan karena kebiasaan dan sikap-sikap
yang salah, antara lain: banyak melakukan aktivitas yang bertentangan dan tidak
menunjang pekerjaan sekolah, menolak atau malas belajar, kurang berani dan
gagal untuk berusaha memusatkan perhatian, kurang kooperatif dan menghindari
tanggung jawab, sering membolos atau tidak mengikuti pelajaran, dan gugup.
Sedangkan
faktor-faktor kesulitan belajar yang terletak di luar diri siswa, antara lain:
Ø Kurikulum yang seragam,
bahan dan buku sumber yang tidak sesuai dengan tingkat kematangan dan perbedaan
individu atau tidak tersedia.
Ø Ketidaksesuaian standart
administratif sistem pengajaran, penilaian, pengelolaan kegiatan dan pengalaman
belajar.
Ø Terlalu berat beban
belajar siswa dan mengajar guru, terlampau besar populasi siswa di dalam kelas,
terlalu banyak menuntut kegiatan di luar.
Ø Terlalu sering pindah
sekolah, atau program, tinggal kelas.
Ø Kelemahan sistem belajar
mengajar pada tingkat pendidikan asal sebelumnya.
Ø Kelemahan yang terdapat
dalam kondisi rumah tangga, pendidikan, sosial ekonomi, keutuhan keluarga,
ketentraman dan keamanan sosial psikologis.
Ø Terlalu banyak kegiatan di
luar jam pelajaran sekolah atau terlalu banyak terlibat dalam kegiatan ekstra
kurikuler.
Ø Kekurangan makan atau
gizi, nutrisi yang jelek
Ø Pandangan masyarakat yang
salah terhadap pendidikan
Ø Tradisi hidup sosial
ekonomi yang terbelakang
1.) Gejala–gejala Kesulitan Belajar.
Menurut
pendapat Titik Sumiyati (2009:6) gejala–gejala kesulitan belajar antara lain:
1.
Menunjukkan hasil belajar rendah;
2.
Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan;
3.
Lambat dalam melakukan tugas–tugas kegiatan belajar;
4.
Menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti acuh atau
menentang dan sebagainya;
5.
Menunjukkan tingkah laku yang berlainan, seperti membolos, datang
terlambat, dan sebagainya;
6.
Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar seperti pemurung,
pemarah, dan sebagainya.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Laporan Hasil Observasi
3.1.1
Identitas
Siswa dan Kesulitan Belajarnya
3.1.1)Kesulitan Belajar Bahasa
Nama : Rifki Andi
TTL :Purwosari, 02 Juni 2005
Kelas : IV
Alamat : Purworejo
Nama orang tua
1.)Ayah : Toip Mustofa
2.) Ibu : Sulastri
Hasil Penelitian:
Anak ketika dirumah dan di lingkungannya sering
menggunakan bahasa daerah atau bahasa Ibu.Sehingga ketika anak tersebut
disekolah sulit berbahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan,pemerolehan bahasa
adalah pemerolehan bahasa yang anak peroleh secara alami dan lingkungan tidak
seragam. Bahasa pertama disebut juga bahasa ibu atau bahasa pertama dipelajari.
Bunyi-bunyi yang didengar dari lingkungan terdekatnya dipakai untuk berkomunikasi.
Sehingga anak sulit menerima bahasa kedua atau bukan bahasa ibunya. Oleh karena
itu,ditambah lagi kurangnya memproduksi bahasa Indonesia. Sehingga anak sulit untuk mengucapkan. Jadi ada 3 kesulitan yang
muncul:
1.
Artikulasi: Ketika berbicara, mengucapkan atau melafalkan bahasa Indonesia
kata-katanya sering salah atau keliru.
2.
Suara: Bunyi yang keluar
sedikit tersendat-sendat saat pengujarannya.
3.
Kelancaran: Saat
melafalkannya terbata-bata karena terbiasa menggunakan bahasa Ibu.
3.1.2 Kesulitan Belajar Membaca
Nama :Firman Syahrul
TTL : Purwosari, 05 Mei 2005
Kelas :VI
Alamat :Purworejo
Nama orang tua
1) Ayah : Turiman
2) Ibu : Jumirah
Hasil Penelitian:
Ketika
saya lakukan praktek anak tersebut memiliki sebuah kebiasaan yang menjadi
ciri-ciri kesulitan membaca:
1. Sulit dalam
mengeja serta mengingat kata yang belum pernah ia jumpai.
2. Memiliki
kekurangan dalam diskriminasi penglihatan.
3. Belum bisa
memehami simbol bunyi.
4. Belum
mampu menginterprestasikan penglihatan dan pendengaran karena kurang tidur dan
kosentrasi.
5. Menunjuk tiap
kata yang sedang dibaca.
6. Kurangnya
motivasi dari orang yang terdekat.
7. Pengucapan katanya
sering kali salah, tersendat-sendat dan ragu-ragu.
8. Ketika
membaca bukan mata yang bergerak tapi kepalanya yang bergerak.
9. Menempatkan buku dengan
aneh dan jarak pandang yang cukup dekat.
3.1.3 Kesulitan Belajar Menulis
Nama : Deny Alfian
TTL : Purwosari, 03 November 2005
Kelas : III
Alamat : Purworejo
Nama orang tua
1.) Ayah : Ujang Sutrisna
2.) Ibu : Lasiah
Hasil Penelitian:
Sulit
untuk menyimpan kata-kata didalam memori, Sulit untuk membedakan huruf-huruf atau kata, Tidak gemarnya menulis huruf yang menurut dia tidak mengerti, kesalahan dalam memegang pena,
cara meletakkan bukunya berubah-ubah, kurangnya latihan menulis, sulit
membedakan huruf ketika saya Ejakan “arifin pergi ke pasar” yang di tulis malah
“arivin pergi ke pasar” jadi bisa di katakan Dia kesulitan membedakan huruf.
3.2 Metode Meremedinya (Solusinya)
1) Pengertian Remedi
Dalam Webster’s
New Twentieth Century Dictionary, kita menemukan keterangan sebagai berikut:
Remedi berasal
dari bahasa latin, yang bearti menyembuhkan kebali; dari re ‘kembali’ dan
mederi ‘menyembuhkan’.
1. Setiap obat
atau pengobatan/perawatan yang menyembuhkan, menghilangkan atau membebaskan
penyakit atau gangguan jasmaniah, mengurangi kesakitan atau perasaan sakit,
atau upaya memulihkan kesehatan.
2. Sesuatu yang memperbaiki, menetralkan, atau memberhentikan suatu
kejahatan atau kesalahan, pertolongan, pembebasan, menebus, dan memperbaiki.
Sementara itu, remediasi
dalam pendidikan berarti tindakan atau proses penyembuhan/peremedian atau
penanggulangan ketidakmampuan atau masalah-masalah pembelajaran (1983: 1528).
Dalam sumber lain kita membaca
penjelasan:
Remediasi
adalah tindakan melakukan diagnosis dan perawatan (MC Ginnis & Smith, 1982:
355)
“ remedial
grammar (dalam pengajaran bahasa) adalah suatu istilah yang digunakan untuk meremedi,
mengoreksi/memperbaiki, atau mengkompensasikan/mengimbangi pemahaman atau penggunaan
yang tidak memadai yang dibuat oleh pembelajar terhadap setiap aspek tata
bahasa suatu bahasa” (Ricards[et all] 1987: 244).
Berdasarkan
keterangan diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa dalam kata atau istilah
remedi tercatat pengertian diagnosis, penanggulangan, perawatan, penyembuhan,
dan perbaikan. Jadi, di katakan seorang guru harus meremedi kesalahan berbahasa
para siswanya, bermakna sangguru harus dapat:
a) Mendiaknosis kesalahan itu;
b) Merawat/menyembuhkan kesalahan
itu;
c) Menanggulangi kesalahan itu; dan
d) Memperbaiki dan mengoreksi kesalahan
itu.
3) Metode Drill
Metode drill
disebut metode latihan ialah suatu teknik yang dapat diartikansebagai suatu
cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan agar siswa
memiliki ketangkasan dan ketrampilan, kemampuan yang lebih tinggi dari apa yang
telah dipelajari (Roestiyah, 2001:125).
Berdasarkan
pendapat tersebut menyebutkan bahwa metode drill ini digunakan dengan cara
memberikan latihan–latihan secara terus menerus kepada anak agar anak dalam
menguasai materi yang disampaikan anak tidak sekedar tahu tentang materi
tersebut. Tetapi anak juga faham dan juga terampil dalam menghadapi materi yang
disampaikan. Missal, ketika mempunyai anak yang masih kecil, kita mengajarinya
berbicara sedikit demi sedikit dan terus kita ulang sehingga pada akhirnya anak
bisa menguasai kata–kata yang sering kita ucapkan.
Syaiful Bakhri
Djamaroh dan Aswan Zainal dalam Istiqomah (2009:4) yang berpendapat methode
drill dapat juga disebut dengan methode training yaitu merupakan suatu cara
mengajar yang baik, untuk menanamkan kebiasaan yang baik juga digunakan untuk
memperoleh suatu ketangkasan, kesempatan dan ketrampilan.
Menurut
Sukarman (2008:6) Drill atau latihan merupakan metode mengajar yang dapat
digunakan untuk mengaktifkan siswa pada saat proses belajar mengajar
berlangsung, karena metode drill menuntut siswa untuk selalu belajar dan
mengevaluasi latihan-latihan yang diberikan oleh guru.
Menurut
Suwarna, dkk dalam Siti Nurhayati (2009:3) drill yaitu cara mengajar dengan
memberikan latihan secara berulang-ulang mengenai apa yang telah diajarkan guru
sehingga siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan tertentu.
Menurut
Syaiful Sagala (2006:217) metode drill merupakan suatu cara mengajar yang baik
untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk
memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan ketrampilan.
Menurut Sriyono (1992: 112) metode
drill adalah latihan dengan praktek yang dilakukan berulang kali atau kontinyu
untuk mendapatkan ketrampilan dan ketangkasan praktis tentang pengetahuan yang
dipelajari.
3.2.1)Kesulitan Belajar Bahasa
Ada
lima macam pendekatan remediasi bagi anak berkesulitan belajar bahasa menurut
Lovitt, 1989: 165:
(1) pendekatan
proses;
(2) pendekatan
analisis tugas;
(3) pendekatan
behavioral;
(4) pendekatan
interaktif-interpersonal;
(5) pendekatan sistem lingkungan total.
Pertama-tama saya mengajarkan
bunyi huruf alfabet yang benar dan berulang-ulang, serta saya menyuruhnya
memperhatikan semua huruf alfabet agar Dia mengetahui perbedaan-perbedaan antar
huruf, serta melatih Dia berbahasa yang baik, tidak menggunakan bahasa ibu pada
saat berbicara dengan guru, bahasa ibu yang ada pada Dia yang membuatnya
kesulitan dalam mengucapkannya sudah sedikit demi sedikit luntur dan melatihnya
berbicara didepan teman-temannya agar terbiasa dengan suasana supaya
menghilangkan sedikit kegugupannya pada saat berbicara bahasa indonesia. Jadi
saya lakukan remedi ini secara terus menerus pada saat peremedian yang saya
lakukan.
3.2.2 Kesulitan Belajar
Membaca
Cara
penyembuhannya:
1.
saya ajarkan metode Alfabetik: yaitu memperkenalkan Dia
berbagai huruf alfabet dan kemudian merangkaikan huruf-huruf tersebut menjadi
suku kata, kata, dan kalimat yang mudah dimengerti. Seperti “ tadi pagi saya
makan nasi’.
2.
Kekurangan pada penglihatan yang di deritanya dapat
diatasi dengan kaca mata yang dapat membantu memperjelas penglihatannya dan
saya menyuruhnya untuk sering mengonsumsi buah-buahan dan sayuran yang
mengandung vitamin A.
3.
Saya memberikan macam-macam simbol bunyi dan cara
penggunaannya serta cara membacanya ketika ada dalam kalimat.
4.
Daya otaknya yang kurang terjadi karena kurang
konsentrasi sehingga saya menyuruhnya untuk sering menghirup udara segar, dan
tidur yang cukup.
5.
Saya menyuruh dia membaca dengan tidak menggunakan tangan
untuk membantunya membacanya.
6.
Saya berikan dia petuah, cerita pengalaman saya serta
memberikan semangat padanya untuk selalu belajar.
7.
Kurang Percaya diri yang ada pada dirnya saya sembuhkan
dengan mengajarkannya untuk membaca didepan teman-temannya dengan keras dan
bila salah saya suruh mengulanginya berulang kali sampai dia lancar.
8.
Ketika membaca saya melarangnya untuk menggerakan
kepalanya, sserta saya mencontohkannya lalu kemudian dia saya suruh
mempraktekannya.
9.
Saya beritahu dia untuk membaca pada posisi yang baik
yaitu memberi jarak antara buku dengan mata minimal 30 cm supaya tidak cepat
rusak alat penglihatannya.
3.2.3 Kesulitan Belajar Menulis
Pertama
saya ajarkan Dia untuk memahami dan menghafal alfabet. Kemudian saya ajarkan
cara memegang pena yang baik yaitu:Dengan cara periksa telunjuk dan jari tengahnya. Kedua
jari tersebut harus membentuk lingkaran terbuka dan pensil bersandar di jari
tengah dengan posisi pergelangan tangan harus lurus. Dorong anak untuk menulis
huruf dari atas kebawah: dengan cara ini hasil tulisan akan terlihat lebih rapih dan
juga hal ini lebih mudah dibuatnya dari pada garis melengkung atau diagonal. Terahir saya
berikan latihan menulis secara terus menerus dan berulang-ulang sampai
tulisannya bagus.
BAB IV
PENUTUP
4.1Kesimpulan
Kesulitan
belajar adalah kondisi dimana anak dengan kemampuan intelegensi rata-rata atau
di atas rata-rata,namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar
yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi,
berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi
integrasi sensori motorik. Ada beberapa kesulitan belajar
yakni:
Kesulitan Belajar Bahasa, Kesulitan Belajar Membaca, dan Kesulitan Belajar Menulis.
Remedi adalah Usaha aktif untuk mendiaknosa menentukan
penyembuhan atau perawatan terhadap siswanya yang mengalami kesulitan belajar.
Dan di lakukan secara terus menerus secara berkesinambungan sampai tercapainya
tujuan ahir yaitu keberhasilan.
4.1 Saran
Penulis
mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan untuk rekan-rekan
mahasiswa dan mahasiswi. Dan demi sempurnanya makalah ini saya selaku penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna untuk perbaikan penulis saat
penulis akan membuat sebuah makalah pada lain waktu.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman, Mulyono. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Wood, Derek. 2011. Kiat Mengatasi Gangguan Belajar.
Jogjakarta: Kata Hati.
Iskandar, Wassid. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung:
PT. Remaja Rosda Karya.
Taringan,
HG. 2009. Pengajaran Remedi Bahasa.
Bandung: Angkasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar