Selasa, 20 Maret 2018

HASIL PENELITIAN KESULITAN BELAJAR DI SDN 02 PURWOREJO Kec. PADANGRATU LAMPUNG TENGAH


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Belajar adalah syari’at islam yang menjadi kewajiban bagi seluruh umat islam melalui firman Allah Ta’ala, yaitu ayat yang pertama kali turun dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Oleh karena itu, mau tidak mau, sebagai umat Nabi Muhammad kita harus selalu belajar dan belajar.
Terlebih lagi pada usia anak-anak. Karena pada masa itu proses pembelajaran sangatlah mudah diterima atau mendapat respon yang baik dari anak-anak.
Akan tetapi, banyak sekali proses pembelajaran yang dilakukan oleh anak-anak yang dibimbing oleh seorang guru, menghasilkan hanya sedikit perubahan yang dialami oleh anak, bahkan tidak sama sekali dalam pembelajar bahasa baik itu menulis,membaca,berbicara dan lain-lain. Hal itu disebabkan adanya kesulitan anak tersebut dalam belajar. Tentunya banyak faktor yang dapat mempengaruhinya.
Melalui makalah ini, saya mencoba mendeskripsikan tentang kesulitan belajar yang dialami oleh anak serta langkah untuk mengatasinya.

1.2. Rumusan Masalah
Dari uraian di atas saya merumuskan masalah sebagai berikut:
1.2.1Apa yang menjadi kesulitan belajar bahasa pada anak?
1.2.2Bagaimana cara untuk mengatasi kesulitan belajarbahasa pada anak?




1.3. Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Dalam penyusunan Makalah ini penulis menggunakan beberapa metode dalam mengumpulkan data antaralain sebagai berikut:                      
1.4.1 Observasi
Metode observasi adalah metode yang dilakukan secara langsung pada obyek yang diteliti atau diamati.
1)   Pada Minggu, 07Desember 2014 penulis melaksanakan kunjungan ke tempat observasi secara langsung di SDN 1 Purworejo Kec. Padangratu Kab. Lampung Tengah.
2)   Pada Minggu, 14 Desember 2014 penulis melaksanakan kunjungan lagi guna meremedi ke tempat observasi secara langsung di SDN 1 Purworejo Kec. Padangratu Kab. Lampung Tengah.
1.4.2  Pustaka Dokumentasi
Merupakan metode penelitian dengan bahan-bahan yang telah disimpan sebagai Arsip atau DokumenDi ambil dari:
1) Abdurahman, Mulyono. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
2) Wood, Derek. 2011. Kiat Mengatasi  Gangguan Belajar. Jogjakarta: Kata Hati.
3) Iskandar, Wassid. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
4) Taringan, HG. 2009. Pengajaran Remedi Bahasa. Bandung: Angkasa.



1.4. Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan yang didapat setelah melakukan penelitian ini
1.      Mengetahui masalah yang dihadapi anak dalam belajar bahasa;
2.      Mengetahui penyebab mengapa anak mengalami kesulitan dalamberbahasa, menulis,dan membaca.   






















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kesulitan Belajar (Learning Disability)
2.1.1 United Sites Office of Education (1977)
Kesulitan Belajar Khusus adalah Suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan.
2.1.2 National Joint Committee for Learning Disabilities (NCLD)
Kesulitan belajar menunjuk pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk kesulitan yang nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar, atau kemampuan dalam bidang studi matematika.
2.1.3 Association for Children and Adulth with Learning Disabilities (ACALD)
Kesulitan Belajar Khusus adalah Suatu kondisi kronis yang diduga bersumber neurologis yang secara selektif mengganggu perkembangan, Integrasi, dan/atau kemampuan verbal dan/atau non verbal.
 2.2 Definisi Kesulitan Belajar yang diteliti Penulis
2.2.1 Kesulitan Belajar Bahasa
1) Owens (1984: 379)
Bahasa merupakan kode atau sisitem konversional yang disepakati secara sosial untuk menyajikan berbagai pengertian melalui penggunaan simbol-simbol sembarang (arbitrary symbols) dan tersusun berdasarkan aturan yang telah ditentukan.
2) American Speech Laguage Hearing Association (ASLHA)
Ada tiga komponen wicara, yaitu (1) Artikulasi, (2) Suara, dan (3) Kelancaran. Berdasarkan tiga macam komponen tersebut maka kesulitan wicara juga menyangkut kesulitan dalam artikulasi, penyuaraan, dan kelancaran (Lovitt, 1989: 146).  
2.2.2 Kesulitan Belajar Membaca
1) Bryan dikutip oleh Mercer (1979: 200)
Mendefinisikan disleksia sebagai suatu sindroma kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen kata dan kalimat, mengintegrasikan komponen-komponen kata dan kalimat, dalam belajar segala sesuatu yang berkenaan dengan waktu, arah, dan masa.
2) Lerner dikutip oleh Mercer (1979: 200)
Kesulitan belajar membaca atau disleksia sangat bervariasi, tetapi semuanya menunjuk pada adanya gangguan pada fungsi otak.
2.2.3 Kesulitan Belajar Menulis
1) Lerner
Menulis adalah Menuangkan ide ke dalam suatu bentuk Visual (1985: 413).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan anak untuk menulis. (1) motorik, (2) perilaku, (3) persepsi, (4) memori, (5) kemampuan melaksanakan cross modal, (6) penggunaan tangan yang dominan, dan (7) kemampuan memahami instruksi. 
2.3 Penyebab Kesulitan Belajar
Faktor penyebab kesulitan belajar belum diketahui secara pasti, Menurut Sunardi (2000: 13) faktor penyebab kesulitan belajar dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu: faktor organik dan biologis, faktor genetik, dan faktor lingkungan.
1.) Faktor Organik dan Biologis
Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa kesulitan belajar disebabkan oleh adanya Disfungsi Minimal Otak (DMO) meskipun pada beberapa anak, gejala tersebut tidak ditemui. Selain adanya disfungsi minimal otak, kesulitan belajar ada bukti tentang adanya faktor biologis yang menjadi penyebab kesulitan belajar.
2) Faktor Genetik
Semakin disadari sekarang bahwa anak berkesulitan belajar cenderung terjadi dalam satu keluarga. Apakah ini merupakan faktor keturunan atau lingkungan, masih memerlukan penelitian yang lebih lamjut.
3) Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang kurang mendukung menjadi salah satu penyebab anak berkesultan belajar.
Selain itu factor kesulitan belajar juga muncul akibat faktor yang terdapat di dalam diri siswa, dan faktor yang ada di luar diri siswa, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Adapun faktor penyebab hambatan dan masalah belajar yang terdapat di dalam diri siswa, antara lain:
1.      Kelembahan secara fisik, seperti suatu susunan pusat syaraf yang tidak berkembang secara sempurna, luka, cacat, atau sakit, sehingga membawa gangguan emosional, penyakit menahun, asma yang menghambat usaha-usaha belajar secara optimal.
2.      Kelemahan-kelemahan secara mental, baik yang dibawa sejak lahir maupun karena pengalaman yang sukar diatasi oleh individu yang bersangkutan dan kurang, seperti kelemahan mental.
3.      Kelemahan-kelemahan emosional, antara lain: rasa tidak aman
4.      Kelemahan yang disebabkan karena kebiasaan dan sikap-sikap yang salah, antara lain: banyak melakukan aktivitas yang bertentangan dan tidak menunjang pekerjaan sekolah, menolak atau malas belajar, kurang berani dan gagal untuk berusaha memusatkan perhatian, kurang kooperatif dan menghindari tanggung jawab, sering membolos atau tidak mengikuti pelajaran, dan gugup.
Sedangkan faktor-faktor kesulitan belajar yang terletak di luar diri siswa, antara lain:
Ø  Kurikulum yang seragam, bahan dan buku sumber yang tidak sesuai dengan tingkat kematangan dan perbedaan individu atau tidak tersedia.
Ø  Ketidaksesuaian standart administratif sistem pengajaran, penilaian, pengelolaan kegiatan dan pengalaman belajar.
Ø  Terlalu berat beban belajar siswa dan mengajar guru, terlampau besar populasi siswa di dalam kelas, terlalu banyak menuntut kegiatan di luar.
Ø  Terlalu sering pindah sekolah, atau program, tinggal kelas.
Ø  Kelemahan sistem belajar mengajar pada tingkat pendidikan asal sebelumnya.
Ø  Kelemahan yang terdapat dalam kondisi rumah tangga, pendidikan, sosial ekonomi, keutuhan keluarga, ketentraman dan keamanan sosial psikologis.
Ø  Terlalu banyak kegiatan di luar jam pelajaran sekolah atau terlalu banyak terlibat dalam kegiatan ekstra kurikuler.
Ø  Kekurangan makan atau gizi, nutrisi yang jelek
Ø  Pandangan masyarakat yang salah terhadap pendidikan
Ø  Tradisi hidup sosial ekonomi yang terbelakang
1.) Gejala–gejala Kesulitan Belajar.
Menurut pendapat Titik Sumiyati (2009:6) gejala–gejala kesulitan belajar antara lain:
1.      Menunjukkan hasil belajar rendah;
2.      Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan;
3.      Lambat dalam melakukan tugas–tugas kegiatan belajar;
4.      Menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti acuh atau menentang dan sebagainya;
5.      Menunjukkan tingkah laku yang berlainan, seperti membolos, datang terlambat, dan sebagainya;
6.      Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar seperti pemurung, pemarah, dan sebagainya.





















BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Laporan Hasil Observasi
3.1.1 Identitas Siswa dan Kesulitan Belajarnya
3.1.1)Kesulitan Belajar Bahasa
Nama                  : Rifki Andi
TTL                    :Purwosari, 02 Juni 2005
Kelas                  : IV
Alamat               : Purworejo
Nama orang tua
1.)Ayah              : Toip Mustofa
2.) Ibu                : Sulastri
Hasil Penelitian:
Anak ketika dirumah dan di lingkungannya sering menggunakan bahasa daerah atau bahasa Ibu.Sehingga ketika anak tersebut disekolah sulit berbahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan,pemerolehan bahasa adalah pemerolehan bahasa yang anak peroleh secara alami dan lingkungan tidak seragam. Bahasa pertama disebut juga bahasa ibu atau bahasa pertama dipelajari. Bunyi-bunyi yang didengar dari lingkungan terdekatnya dipakai untuk berkomunikasi. Sehingga anak sulit menerima bahasa kedua atau bukan bahasa ibunya. Oleh karena itu,ditambah lagi kurangnya memproduksi bahasa Indonesia. Sehingga anak sulit untuk mengucapkan. Jadi ada 3 kesulitan yang muncul:
1.      Artikulasi: Ketika berbicara, mengucapkan atau melafalkan bahasa Indonesia kata-katanya sering salah atau keliru.
2.      Suara: Bunyi yang keluar sedikit tersendat-sendat saat pengujarannya.
3.      Kelancaran: Saat melafalkannya terbata-bata karena terbiasa menggunakan  bahasa Ibu.
3.1.2 Kesulitan Belajar Membaca
Nama                  :Firman Syahrul
TTL                    : Purwosari, 05 Mei 2005
Kelas                  :VI
Alamat               :Purworejo
Nama orang tua
1) Ayah               : Turiman
2) Ibu                 : Jumirah
Hasil Penelitian:
Ketika saya lakukan praktek anak tersebut memiliki sebuah kebiasaan yang menjadi ciri-ciri kesulitan membaca:
1. Sulit dalam mengeja serta mengingat kata yang belum pernah ia jumpai.
2. Memiliki kekurangan dalam diskriminasi penglihatan.
3. Belum bisa memehami simbol bunyi.
4. Belum mampu menginterprestasikan penglihatan dan pendengaran karena kurang tidur dan kosentrasi.
5. Menunjuk tiap kata yang sedang dibaca.
6. Kurangnya motivasi dari orang yang terdekat.
7. Pengucapan katanya sering kali salah, tersendat-sendat dan ragu-ragu.
8. Ketika membaca bukan mata yang bergerak tapi kepalanya yang bergerak.
9. Menempatkan buku dengan aneh dan jarak pandang yang cukup dekat.

3.1.3 Kesulitan Belajar Menulis
Nama                  : Deny Alfian
                        TTL                 : Purwosari, 03 November 2005
Kelas                  : III
Alamat               : Purworejo
Nama orang tua
1.) Ayah              : Ujang Sutrisna
2.) Ibu                : Lasiah
Hasil Penelitian:
Sulit untuk menyimpan kata-kata didalam memori, Sulit untuk membedakan huruf-huruf atau kata, Tidak gemarnya menulis huruf yang menurut dia tidak mengerti, kesalahan dalam memegang pena, cara meletakkan bukunya berubah-ubah, kurangnya latihan menulis, sulit membedakan huruf ketika saya Ejakan “arifin pergi ke pasar” yang di tulis malah “arivin pergi ke pasar” jadi bisa di katakan Dia kesulitan membedakan huruf.

3.2 Metode Meremedinya (Solusinya)
1) Pengertian Remedi
Dalam Webster’s New Twentieth Century Dictionary, kita menemukan keterangan sebagai berikut:
Remedi berasal dari bahasa latin, yang bearti menyembuhkan kebali; dari re ‘kembali’ dan mederi ‘menyembuhkan’.
1. Setiap obat atau pengobatan/perawatan yang menyembuhkan, menghilangkan atau membebaskan penyakit atau gangguan jasmaniah, mengurangi kesakitan atau perasaan sakit, atau upaya memulihkan kesehatan.
2. Sesuatu yang memperbaiki, menetralkan, atau memberhentikan suatu kejahatan atau kesalahan, pertolongan, pembebasan, menebus, dan  memperbaiki.
Sementara itu, remediasi dalam pendidikan berarti tindakan atau proses penyembuhan/peremedian atau penanggulangan ketidakmampuan atau masalah-masalah pembelajaran (1983: 1528).
Dalam sumber lain kita membaca penjelasan:
Remediasi adalah tindakan melakukan diagnosis dan perawatan (MC Ginnis & Smith, 1982: 355)
Yang lebih menjurus lagi adalah aketerangan sebagai berikut:
“ remedial grammar (dalam pengajaran bahasa) adalah suatu istilah yang digunakan untuk meremedi, mengoreksi/memperbaiki, atau mengkompensasikan/mengimbangi pemahaman atau penggunaan yang tidak memadai yang dibuat oleh pembelajar terhadap setiap aspek tata bahasa suatu bahasa” (Ricards[et all] 1987: 244).
Berdasarkan keterangan diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa dalam kata atau istilah remedi tercatat pengertian diagnosis, penanggulangan, perawatan, penyembuhan, dan perbaikan. Jadi, di katakan seorang guru harus meremedi kesalahan berbahasa para siswanya, bermakna sangguru harus dapat:
a)      Mendiaknosis kesalahan itu;
b)      Merawat/menyembuhkan kesalahan itu;
c)      Menanggulangi kesalahan itu; dan
d)     Memperbaiki dan mengoreksi kesalahan itu.
3) Metode Drill
Metode drill disebut metode latihan ialah suatu teknik yang dapat diartikansebagai suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan agar siswa memiliki ketangkasan dan ketrampilan, kemampuan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari (Roestiyah, 2001:125).
Berdasarkan pendapat tersebut menyebutkan bahwa metode drill ini digunakan dengan cara memberikan latihan–latihan secara terus menerus kepada anak agar anak dalam menguasai materi yang disampaikan anak tidak sekedar tahu tentang materi tersebut. Tetapi anak juga faham dan juga terampil dalam menghadapi materi yang disampaikan. Missal, ketika mempunyai anak yang masih kecil, kita mengajarinya berbicara sedikit demi sedikit dan terus kita ulang sehingga pada akhirnya anak bisa menguasai kata–kata yang sering kita ucapkan.
Syaiful Bakhri Djamaroh dan Aswan Zainal dalam Istiqomah (2009:4) yang berpendapat methode drill dapat juga disebut dengan methode training yaitu merupakan suatu cara mengajar yang baik, untuk menanamkan kebiasaan yang baik juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, kesempatan dan ketrampilan.
Menurut Sukarman (2008:6) Drill atau latihan merupakan metode mengajar yang dapat digunakan untuk mengaktifkan siswa pada saat proses belajar mengajar berlangsung, karena metode drill menuntut siswa untuk selalu belajar dan mengevaluasi latihan-latihan yang diberikan oleh guru.
Menurut Suwarna, dkk dalam Siti Nurhayati (2009:3) drill yaitu cara mengajar dengan memberikan latihan secara berulang-ulang mengenai apa yang telah diajarkan guru sehingga siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan tertentu.
Menurut Syaiful Sagala (2006:217) metode drill merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan ketrampilan.
Menurut Sriyono (1992: 112) metode drill adalah latihan dengan praktek yang dilakukan berulang kali atau kontinyu untuk mendapatkan ketrampilan dan ketangkasan praktis tentang pengetahuan yang dipelajari.
3.2.1)Kesulitan Belajar Bahasa
Ada lima macam pendekatan remediasi bagi anak berkesulitan belajar bahasa menurut Lovitt, 1989: 165:
(1) pendekatan proses;
(2) pendekatan analisis tugas;
(3) pendekatan behavioral;
(4) pendekatan interaktif-interpersonal;
(5) pendekatan sistem lingkungan total.
Pertama-tama saya mengajarkan bunyi huruf alfabet yang benar dan berulang-ulang, serta saya menyuruhnya memperhatikan semua huruf alfabet agar Dia mengetahui perbedaan-perbedaan antar huruf, serta melatih Dia berbahasa yang baik, tidak menggunakan bahasa ibu pada saat berbicara dengan guru, bahasa ibu yang ada pada Dia yang membuatnya kesulitan dalam mengucapkannya sudah sedikit demi sedikit luntur dan melatihnya berbicara didepan teman-temannya agar terbiasa dengan suasana supaya menghilangkan sedikit kegugupannya pada saat berbicara bahasa indonesia. Jadi saya lakukan remedi ini secara terus menerus pada saat peremedian yang saya lakukan.
3.2.2 Kesulitan Belajar Membaca
Cara penyembuhannya:
1.    saya ajarkan metode Alfabetik: yaitu memperkenalkan Dia berbagai huruf alfabet dan kemudian merangkaikan huruf-huruf tersebut menjadi suku kata, kata, dan kalimat yang mudah dimengerti. Seperti “ tadi pagi saya makan nasi’.
2.    Kekurangan pada penglihatan yang di deritanya dapat diatasi dengan kaca mata yang dapat membantu memperjelas penglihatannya dan saya menyuruhnya untuk sering mengonsumsi buah-buahan dan sayuran yang mengandung vitamin A.
3.    Saya memberikan macam-macam simbol bunyi dan cara penggunaannya serta cara membacanya ketika ada dalam kalimat.
4.    Daya otaknya yang kurang terjadi karena kurang konsentrasi sehingga saya menyuruhnya untuk sering menghirup udara segar, dan tidur yang cukup.
5.    Saya menyuruh dia membaca dengan tidak menggunakan tangan untuk membantunya membacanya.
6.    Saya berikan dia petuah, cerita pengalaman saya serta memberikan semangat padanya untuk selalu belajar.
7.    Kurang Percaya diri yang ada pada dirnya saya sembuhkan dengan mengajarkannya untuk membaca didepan teman-temannya dengan keras dan bila salah saya suruh mengulanginya berulang kali sampai dia lancar.
8.    Ketika membaca saya melarangnya untuk menggerakan kepalanya, sserta saya mencontohkannya lalu kemudian dia saya suruh mempraktekannya.
9.    Saya beritahu dia untuk membaca pada posisi yang baik yaitu memberi jarak antara buku dengan mata minimal 30 cm supaya tidak cepat rusak alat penglihatannya.
3.2.3 Kesulitan Belajar Menulis
Pertama saya ajarkan Dia untuk memahami dan menghafal alfabet. Kemudian saya ajarkan cara memegang pena yang baik yaitu:Dengan cara periksa telunjuk dan jari tengahnya. Kedua jari tersebut harus membentuk lingkaran terbuka dan pensil bersandar di jari tengah dengan posisi pergelangan tangan harus lurus. Dorong anak untuk menulis huruf dari atas kebawah: dengan cara ini hasil tulisan akan terlihat lebih rapih dan juga hal ini lebih mudah dibuatnya dari pada garis melengkung atau diagonal. Terahir saya berikan latihan menulis secara terus menerus dan berulang-ulang sampai tulisannya bagus.

























BAB IV
PENUTUP

4.1Kesimpulan
Kesulitan belajar adalah kondisi dimana anak dengan kemampuan intelegensi rata-rata atau di atas rata-rata,namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi integrasi sensori motorik. Ada beberapa kesulitan belajar yakni: Kesulitan Belajar Bahasa, Kesulitan Belajar Membaca, dan Kesulitan Belajar Menulis.
Remedi adalah Usaha aktif untuk mendiaknosa menentukan penyembuhan atau perawatan terhadap siswanya yang mengalami kesulitan belajar. Dan di lakukan secara terus menerus secara berkesinambungan sampai tercapainya tujuan ahir yaitu keberhasilan.

4.1 Saran
Penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan untuk rekan-rekan mahasiswa dan mahasiswi. Dan demi sempurnanya makalah ini saya selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna untuk perbaikan penulis saat penulis akan membuat sebuah makalah pada lain waktu.









DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Mulyono. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Wood, Derek. 2011. Kiat Mengatasi  Gangguan Belajar. Jogjakarta: Kata Hati.
Iskandar, Wassid. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Taringan, HG. 2009. Pengajaran Remedi Bahasa. Bandung: Angkasa.
 


Tidak ada komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda