Selasa, 20 Maret 2018

Kesulitan belajar bahasa pada anak


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Belajar adalah syari’at islam yang menjadi kewajiban bagi seluruh umat islam melalui firman Allah Ta’ala, yaitu ayat yang pertama kali turun dalam surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Oleh karena itu, mau tidak mau, sebagai umat Nabi Muhammad kita harus selalu belajar dan belajar.
Terlebih lagi pada usia anak-anak. Karena pada masa itu proses pembelajaran sangatlah mudah diterima atau mendapat respon yang baik dari anak-anak.
Akan tetapi, banyak sekali proses pembelajaran yang dilakukan oleh anak-anak yang dibimbing oleh seorang guru, menghasilkan hanya sedikit perubahan yang dialami oleh anak, bahkan tidak sama sekali dalam pembelajar bahasa baik itu menulis, membaca, berbicara dan lain-lain. Hal itu disebabkan adanya kesulitan anak tersebut dalam belajar. Tentunya banyak faktor yang dapat mempengaruhinya.
Melalui makalah ini, saya mencoba mendeskripsikan tentang kesulitan belajar yang dialami oleh anak serta langkah untuk mengatasinya.

1.2. RUMUSAN MASALAH
Dari uraian di atas saya merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang menjadi kesulitan belajar bahasa pada anak?
2. Apa metode yang paling tepat untuk mengatasi kesulitan belajar bahasa?


1.3. Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Sumber-sumber bahasan yang saya gunakan dalam penyusunan makalah ini adalah:
1.      Metode observasi yaitu saya terjun langsung ke lapangan untuk meneliti agar mudah mendapatkan data-data yang saya butuhkan
2.      Metode biografi yaitu metode dengan cara melihat buku-buku yang menunjang.

1.4. Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan yang didapat setelah melakukan penelitian ini
1.      Mengetahui masalah yang dihadapi anak dalam belajar bahasa.
2.      Mengetahui penyebab mengapa anak mengalami kesulitan dalam mrmbaca, menulis, dan menyimak.   


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori
Anak Berkesulitan Belajar
2.1.1 Pengertian Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar merupakan terjemah dari istilah bahasa Inggris learning disability. Meskipun sesungguhnya kurang tepat karena learning artinya belajar dan disability artinya ketidakmampuan sehingga terjemah yang benar seharusnya adalah ketidakmampuan belajar. Tetapi di Indonesia lebih dikenal dengan berkesulitan belajar. Selain itu kata berkesulitan juga lebih dipandang lebih baik dan mempunyai harapan dari pada ketidakmampuan.
Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak lancar, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi.
Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. Dengan demikian kesulitan belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu keadaan di mana anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya” (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, 2004: 77).
Menurut pendapat The United States Office of Education (USOE)  dalam (Mulyono Abdurrahman: 6-7: 2003) menyebutkan bahwa:
Kesulitan Belajar Khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologi dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengar, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung. Batasan tersebut mencakup kondisi-kondisi seperti gangguan perceptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Bahkan batasan tersebut tidak mencakup anak-anak yang memiliki problema belajar yang penyebab utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihatan, pendengaran, atau motorik, hambatan karena tunagrahita, karena gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi.
Dari pernyataan tersebut dijelaskan bahwa kesulitan belajar mencakup permasalahan pemahaman anak dalam memahami materi yang diterima serta dalam permasalahan penggunaan bahasa ujaran atau penggunaan tulisan.
Gangguan mendengar muncul dalam bentuk anak tidak mendengar atau anak anak mengalami kekurangan pendengaran. Gangguan berpikir muncul dalam bentuk kurangnya kemampuan anak dalam hal kognitif. Sedangkan gangguan berbicara terlihat dari sulitnya anak memanfaatkan organ bicaranya untuk berkomunikasi atau kurangnya perbendaharaan suku kata yang dipunyai anak. Lalu kesulitan terlihat dari kemampuan anak membaca yang masih sangat lambat sekali atau bahkan mungkin anak masih belum terlalu faham dengan huruf–huruf tersebut. Kesulitan menulis terlihat dari tulisan anak yang tidak teratur dan jelek. Selain itu kesulitan menulis juga bisa disebabkan karena koordinasi tangan yangh kurang baik. Sedangkan untuk kesulitan mengeja muncul karena sedikitnya kosa kata ank atau masih sulitnya anak membedakan huruf. Kemudian untuk kesulitan berhitung terjadi karena anak yang yang masih lemah tentang konsep berhitung atau juga karena anak yang rendah kognitifnya.

Learning Disabilities Association of America yang dikutip oleh Sylvia Untario (www.kesulitanbelajar.org.2011) menyebutkan bahwa:
Kesulitan belajar atau “Learing Disabilities, LD”, adalah habatan/ gangguan belajar pada anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai. Hal ini disebabkan oleh gangguan di dalam sistem saraf pusat otak (gangguan neurobiologis) yang dapat menimbulkan gangguan perkembangan seperti gangguan perkembangan bicara, membaca, menulis, pemahaman dan berhitung.
Kesulitan belajar menunjukan pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk kesulitan yang nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakap–cakap, membaca menulis, menalar, atau kemampuan dalam bidang studi matemaika.
Pengertian anak berkesulitan belajar juga dikemukakan oleh Krochack, A. Linda and Thomas G Ryan dalam jurnal Special of Education Vol 22 No 3 2007 yang dikutip dari  (http: //www. google. co. id. International Journal of Special Education Children With Learning Disability. International Journal of Special Education Vol 22 No 3 2007)
Definition of a learning disability is “refer to a number of disorders which may affect the acquisition, organization, retention, understanding or use of verbal or non verbal information. These disorders affect learning in individuals who otherwise demonstrate at least average abilities essential for thinking and/ or reasoning. As such, learning disabilities are distinct from global intellectual deficiency. Learning disabilities result from impairments in one or more processes related to perceiving, thinking, remembering or learning. These disorders are not due primarily to hearing and/ or vision problems, socio-economic factors, cultural or linguistic differences, lack of motivation or ineffective teaching”.
Yang berarti “ Kesulitan belajar mengacu pada sejumlah gangguan yang dapat mempengaruhi perolehan, organisasi, retensi, pemahaman atau penggunaan informasi verbal atau nonverbal. Gangguan ini mempengaruhi belajar pada individu yang dinyatakan dalam mendemonstrasikan kemampuan rata-rata minimal penting untuk berpikir dan/ atau penalaran. Dengan demikian, ketidakmampuan belajar yang berbeda dari defisiensi intelektual global. Kesulitan belajar merupakan hasil dari gangguan dari satu atau lebih proses yang terkait dengan mengamati, berpikir, mengingat atau belajar. Gangguan ini bukan karena terutama untuk mendengar dan perbedaan/ atau visi masalah, faktor-faktor sosial-ekonomi, budaya atau bahasa, kurangnya motivasi atau mengajar tidak efektif.
Specific learning disabilities means a disorder of one or more of the basic psychological processes involved in understanding or in using language, spoken or written, wich may manifest itself in an imperfect ability to listen, think, speak, read, write, spel, or do arithmaetic calculations. The term includes such conditions as perceptual handicaps, brain injury, minimal brain damage, dyslexia, and developmental aphasia. The term does not include children who have learning problems which are primarily the result of visual, hearing, or motor handicaps, of mental retardation, or environmental, cultural, or economic disadvantage. (Johnson et al, 1980: 37).
Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang terlibat dalam pemahaman atau dalam menggunakan bahasa, lisan atau tertulis, yang dapat memanifestasikan dirinya dalam kemampuan sempurna untuk mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, spel, atau melakukan perhitungan dalam aritmatika. Istilah ini mencakup kondisi seperti cacat persepsi, cedera otak, kerusakan otak minimal, disleksia, dan afasia perkembangan. Istilah ini tidak mencakup anak-anak yang memiliki masalah belajar yang terutama hasil visual, pendengaran, atau cacat motor, keterbelakangan mental, atau merugikan lingkungan, budaya, atau ekonomi.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kesulitan belajar adalah salah suatu gangguan yang terjadi pada peserta didik yang menyebabkan peserta didik memperoleh hasil prestasi belajar yang rendah.

1. Klasifikasi anak berkesulitan belajar
membuat klasifikasi anak berkesulitan belajar tidaklah mudah karena pada dasarnya kelompok anak berkesulitan belajar merupakan kelompok yang heterogen. Mulyono Abdurrahman (2003: 11) menyebutkan bahwa:
secara garis besar anak berkesulitan belajar dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, (1) kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning disabilities) dan (2) kesulitan belajar akademik (academic learning disabilities). Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan mencakup gangguan motorik dan motorik, kesulitan belajar bahasa dan komunikasi, dan kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku social. Sedangkan kesulitan belajr akademik menunjuk pada adanya kegagalan-kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan-kegagalan tersebut mencakup penguasaan ketrampilan dalam membaca, menulis, dan atau matematika.
Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (2004: 78), kesulitan belajar dapat dikelompokkan menjadi empat macam, antara lain :
1.      Dilihat dari jenis kesulitan belajar, yaitu ada yang berat dan ada yang sedang.
2.      Dilihat dari bidang studi yang dipelajari, yaitu ada yang sebagian bidang studi dan ada yang keseluruhan bidang studi.
3.      Dilihat dari sifat kesulitannya, yaitu ada yang sifatnya permanen/ menetap, dan ada yang sifatnya hanya sementara.
4.       Dilihat dari segi faktor penyebabnya, yaitu faktor inteligensi dan faktor non-inteligensi.

Penyebab Kesulitan Belajar
Faktor penyebab kesulitan belajar belum diketahui secara pasti, Menurut Sunardi (2000: 13) faktor penyebab kesulitan belajar dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu: faktor organik dan biologis, faktor genetik, dan faktor lingkungan.
1.) Faktor Organik dan Biologis
Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa kesulitan belajar disebabkan oleh adanya disfungsi minimal otak (DMO) meskipun pada beberapa anak, gejala tersebut tidak ditemui. Selain adanya disfungsi minimal otak, kesulitan belajar ada bukti tentang adanya faktor biologis yang menjadi penyebab kesulitan belajar
2) Faktor Genetik
Semakin disadari sekarang bahwa anak berkesulitan belajar cenderung terjadi dalam satu keluarga. Apakah ini merupakan faktor keturunan atau lingkungan, masih memerlukan penelitian yang lebih lamjut.
3) Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang kurang mendukung menjadi salah satu penyebab anak berkesultan belajar.
Selain itu factor kesulitan belajar juga muncul akibat faktor yang terdapat di dalam diri siswa, dan faktor yang ada di luar diri siswa, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Adapun faktor penyebab hambatan dan masalah belajar yang terdapat di dalam diri siswa, antara lain:
1.      Kelembahan secara fisik, seperti suatu susunan pusat syaraf yang tidak berkembang secara sempurna, luka, cacat, atau sakit, sehingga membawa gangguan emosional, penyakit menahun, asma yang menghambat usaha-usaha belajar secara optimal.
2.      Kelemahan-kelemahan secara mental, baik yang dibawa sejak lahir maupun karena pengalaman yang sukar diatasi oleh individu yang bersangkutan dan kurang, seperti kelemahan mental.
3.      Kelemahan-kelemahan emosional, antara lain: rasa tidak aman
4.      Kelemahan yang disebabkan karena kebiasaan dan sikap-sikap yang salah, antara lain: banyak melakukan aktivitas yang bertentangan dan tidak menunjang pekerjaan sekolah, menolak atau malas belajar, kurang berani dan gagal untuk berusaha memusatkan perhatian, kurang kooperatif dan menghindari tanggung jawab, sering membolos atau tidak mengikuti pelajaran, dan gugup.
Sedangkan faktor-faktor kesulitan belajar yang terletak di luar diri siswa, antara lain:
Ø  Kurikulum yang seragam, bahan dan buku sumber yang tidak sesuai dengan tingkat kematangan dan perbedaan individu atau tidak tersedia.
Ø  Ketidaksesuaian standart administratif sistem pengajaran, penilaian, pengelolaan kegiatan dan pengalaman belajar.
Ø  Terlalu berat beban belajar siswa dan mengajar guru, terlampau besar populasi siswa di dalam kelas, terlalu banyak menuntut kegiatan di luar.
Ø  Terlalu sering pindah sekolah, atau program, tinggal kelas.
Ø  Kelemahan sistem belajar mengajar pada tingkat pendidikan asal sebelumnya.
Ø  Kelemahan yang terdapat dalam kondisi rumah tangga, pendidikan, sosial ekonomi, keutuhan keluarga, ketentraman dan keamanan sosial psikologis.
Ø  Terlalu banyak kegiatan di luar jam pelajaran sekolah atau terlalu banyak terlibat dalam kegiatan ekstra kurikuler.
Ø  Kekurangan makan atau gizi, nutrisi yang jelek
Ø  Pandangan masyarakat yang salah terhadap pendidikan
Ø  Tradisi hidup sosial ekonomi yang terbelakang
1.) Gejala–gejala Kesulitan Belajar.
Menurut pendapat Titik Sumiyati (2009: 6) gejala–gejala kesulitan belajar antara lain:
1.      Menunjukkan hasil belajar rendah.
2.      Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan
3.      Lambat dalam melakukan tugas – tugas kegiatan belajar.
4.      Menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti acuh atau menentang dan sebagainya.
5.      Menunjukkan tingkah laku yang berlainan, seperti membolos, datang terlambat, dan sebagainya.
6.      Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar seperti pemurung, pemarah, dan sebagainya.
2.) Penanganan Kesulitan Belajar
Banyak alternatif yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar anak didiknya. Akan tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting yang meliputi:
1.      Menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi anak didik.
2.      Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.
3.      Menyusun program perbaikan, khususnya program pengajaran perbaikan (Muhibbin Syah, 2003: 187).
3.) Metode Drill
Pengertian Metode Drill
Metode drill disebut metode latihan ialah suatu teknik yang dapat diartikan sebagai suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan agar siswa memiliki ketangkasan dan ketrampilan, kemampuan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari (Roestiyah, 2001: 125).
Berdasarkan pendapat tersebut menyebutkan bahwa metode drill ini digunakan dengan cara memberikan latihan–latihan secara terus menerus kepada anak agar anak dalam menguasai materi yang disampaikan anak tidak sekedar tahu tentang materi tersebut. Tetapi anak juga faham dan juga terampil dalam menghadapi materi yang disampaikan. Missal, ketika mempunyai anak yang masih kecil, kita mengajarinya berbicara sedikit demi sedikit dan terus kita ulang sehingga pada akhirnya anak bisa menguasai kata– kata yang sering kita ucapkan.
Syaiful Bakhri Djamaroh dan Aswan Zainal dalam Istiqomah (2009: 4) yang berpendapat methode drill dapat juga disebut dengan methode training yaitu merupakan suatu cara mengajar yang baik, untuk menanamkan kebiasaan yang baik juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, kesempatan dan ketrampilan.
Menurut Sukarman (2008: 6) Drill atau latihan merupakan metode mengajar yang dapat digunakan untuk mengaktifkan siswa pada saat proses belajar mengajar berlangsung, karena metode drill menuntut siswa untuk selalu belajar dan mengevaluasi latihan-latihan yang diberikan oleh guru.
Menurut Suwarna, dkk dalam Siti Nurhayati (2009: 3) drill yaitu cara mengajar dengan memberikan latihan secara berulang-ulang mengenai apa yang telah diajarkan guru sehingga siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan tertentu.
Menurut Syaiful Sagala (2006: 217) metode drill merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan ketrampilan.
Menurut Sriyono (1992: 112) metode drill adalah latihan dengan praktek yang dilakukan berulang kali atau kontinyu/ untuk mendapatkan ketrampilan dan ketangkasan praktis tentang pengetahuan yang dipelajari.
Dari semua pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode drill adalah suatu tekhnik mengajar yang dilaksanakan dengan memberikan latihan–latihan dan dilakukan secara berulang kali.
1.      Kelebihan dan Kekurangan
Diantara keuntungan metode drill adalah:
v  Bahan yang diberikan secara teratur, tidak loncat-loncat dan step by step akan lebih melekat pada diri anak dan benar-benar menjadiu miliknya.
v  Adanya pengawasan, bimbingan dan koreksi yang segera diberikan oleh guru memungkinkan murid untuk segera melakukan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahanya. Dengan demikian juga akan menghemat waktu belajarnya.
v  Pengetahuan atau ketrampilan siap yang telah terbentuk sewaktu-waktu dapat dipergunakan dalam keperluan sehari-hari baik untuk keperluan studi maupun untuk bekal hidup di masyarakat kelak.
Adapun kerugian atau kelebihan metode drill:
v  Dapat membentuk kebiasaan yang kaku.
v  Menimbulkan adaptasi mekanis terhadap lingkungannya. Didalam menghadapi masalah, siswa menghadapi secara statis.
v  Menimbulkan verbalisme. Respons terhadap stimulus yang telah terbentuk dengan latihan itu akan berakibat kurang digunakannya rasio sehingga, inisiatifpun terhambat.
v  Latihan yang terlampau berat akan menimbulkan perasaan benci, baik kepada mata pelajaran maupun kepada gurunya.
v  Latihan dilakukan dalam pengawasan yang ketat dan dalam suasana yang serius mudah sekali menimbulkan kebosanan dan kejengkelan. Akhirnya anak enggan berlatih dan malas atau mogok belajar.
(Sriyono: 1991: 113-114)




BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Identitas Siswa, Kesulitan Belajarnya dan cara Meremedinya

Nama                                                          : Sintia
Tanggal lahir                                   : 2 Februari 2005
Sekolah                                           : SD N 2 Wayngison
Nama orang tua :
Ayah                                                           : Asep irawan
Ibu                                                  : Erni

Setelah saya melakukan penelitian ternyata Si anak ini mengalami sedikit kesulitan dalam hal membaca. Setelah saya mencari informasi dari Si anak tersebut dan dari orang-orang terdekat yaitu orang tua si anak. Jadi saya menarik kesimpulan bahwa penyebab si anak mengalami kesulitan membaca yaitu:
1.      Kurangnya motivasi dari orang-orang terdekat.
2.      Kurangnya latihan dalam membaca.
Setelah saya teliti lebih lanjut dan bertanya kepada orang tua Si anak. Mengapa Si anak ini mengalami kesulitan membaca tadi telah saya katakan di atas bawasannya Si anak ini kurang mendapatkan motivasi dari orang tuanya. Hal ini terbukti ketika saya bertanya kepada orang tua Si anak. Hal yang menjadi dasar kenapa Si anak ini sulit dalam membaca karena orang tuanya sendiri tidak bisa membaca. Oleh karenanya orang tua Si anak tidak bisa mengajarkan Si anak untuk membaca. Terlebih lagi Si anak sangat kurang dalam melakukan latian secara individu, sehingga ketika Si anak ini disuruh membaca mengalami sedikit kesulitan ditunjukan dengan ketidaklancaran saat membaca.
Cara Mengatasi kesulitan membaca:
1.      Ketahui latar pengetahuan sisiwa dalam pengetahuan membaca.
2.      Membangun dasar kosa kata yang kuat.
3.      Ajari pemahaman pada beberapa program intruksi membaca.
4.      Usahakan meningkatkan kecepatan membaca.
5.      Ajarkan strategi membaca.
6.      Dorong siswa menjelmakan strategi menjadi keterampilan.

Nama                                                          : Ice
Tanggal lahir                                   : 12 Maret 2007
Sekolah                                           : SD N 2 Wayngison
Nama orang tua :
Ayah                                                           : Warno
Ibu                                                  : Sri Ningsih

Setelah saya melakukan penelitian ternyata Si ice ini mengalami kesulitan dalam hal menulis. Hal ini terlihat ketika saya menyuruh menuliskan sebuah kalimat "mama menolong adik" terlihat saat menuliskan huruf A dan O hampir sama dan tidak bisa dibedakan antara huruf a dan o. Setelah itu ketika saya mendektekan sebuah kalimat "ayah membantu ibu mengambil air" banyak kesalahan dari segi bacaan. Dan dari ciri-ciri ia menulis sama dengan ciri kesulitan menulis yaitu:
1.      Sudut pensil terlalu besar atau terlalu kecil.
2.      Menggenggam pensil seakan mau meninju.
3.      Menyangkutkan pensil ditangan atau menyeret.

Oleh karena itu cara saya menangani gangguan ini yaitu:
1. Mengajarkan cara menggenggam pensil yang benar.
Dengan cara periksa telunjuk dan jari tengahnya. Kedua jari tersebut harus membentuk lingkaran terbuka dan pensil bersandar di jari tengah dengan posisu pergelangan tangan harus lurus.
2. Dorong anak untuk menulis huruf dari atas kebawah.
Dengan cara ini hasil tulisan akan terlihat lebih rapih dan juga hal ini lebih mudah dibuatnya dari pada garis melengkung atau diagonal. Jadi, huruf besar seperti E,F, dan T akan lebih mudah ditulis dibanding A dan C.
3. Melakukannya dengan cara yang menyenangkan.
Sesekali ajaklah anak untuk menulis namanya di atas kertas warna-warni atau juga boleh sesekali si anak disuruh mengarang sebuah cerita.

Nama                                                          : Selita Angeli
Tangal lahir                         : 19 Juli 2005
Sekolah                                           : SD N 2 Wayngison
Nama orang tua :
Ayah                                                           : Hartono
Ibu                                                  : Hartini

Setelah saya melakukan sedikit penelitian ternyata anak ini mengalami kesulitan berbicara. Hal ini terlihat ketika disuruh berbicara di depan kelas anak ini mengalami kegugupan, sehingga pada saat mau berbicara kata- kata yang ingin diucapkan hilang dan menyebabkan Si anak ini diam saja dan bingung mau ngomong apa di depan. Hal ini bisa disebabkan karena kurang percaya diri, kurangnya penguasaan kosa kata, kurangnya latihan, dan kurangnya motifasi diri.
Jadi dalam permasalahan ini saya menggunakan cara-cara seperti di bawah ini dalam mengajarkan berbicara yaitu:
1.      Saya mengarahkan agar pada waktu berbicara di depan agar menggunakan kata-kata yang banyak atau tidak langsung. Hal ini diharapkan ketika berbicara tidak kehabisan kata-kata sehingga tidak blank.
2.      Pembentukan kata-kata baru yaitu dengan menambahkan kata-kata tambahan pada saat menyampaikan materi atau yang lainnya.
3.      Menggunakan kata-kata baru yang mudah dikenal.
4.      Menggunakan kata yang saling berhubungan.
5.      Menggunakan kata-kata yang biasa didengar orang.
6.      Menggunakan ekpresi hal ini ditujukam supaya apa yang kita maksud lebih meyakinkan audien.
7.      Menggunakan gerak tubuh.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Setelah saya melakukan penelitian ini dapat saya simpulkan bahwa kesulitan belajar baik itu menulis, berbicara, dan membaca didasari karena faktor ekternal dan faktor internal.

4.2 Saran
Penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan untuk rekan-rekan mahasiswa dan mahasiswi. Dan demi sempurnanya makalah ini saya selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun.




DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Mulyono, 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka cipta.
Wood, Derek, 2011. Kiat Mengatasi Gangguan Belajar. Jogjakarta: katahari.
https://akhwatbasil.wordpress.com
 


Tidak ada komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda