BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Belajar adalah syari’at islam yang menjadi kewajiban bagi seluruh umat
islam melalui firman Allah Ta’ala, yaitu ayat yang pertama kali turun dalam
surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Oleh karena itu, mau tidak mau, sebagai umat Nabi
Muhammad kita harus selalu belajar dan belajar.
Terlebih lagi
pada usia anak-anak. Karena pada masa itu proses pembelajaran sangatlah mudah
diterima atau mendapat respon yang baik dari anak-anak.
Akan tetapi, banyak sekali proses
pembelajaran yang dilakukan oleh anak-anak yang dibimbing oleh seorang guru,
menghasilkan hanya sedikit perubahan yang dialami oleh anak, bahkan tidak sama
sekali dalam pembelajar bahasa baik itu menulis, membaca, berbicara dan lain-lain.
Hal itu disebabkan adanya kesulitan anak tersebut dalam belajar. Tentunya
banyak faktor yang dapat mempengaruhinya.
Melalui
makalah ini, saya mencoba mendeskripsikan tentang kesulitan belajar yang
dialami oleh anak serta langkah untuk mengatasinya.
1.2. RUMUSAN
MASALAH
Dari uraian di atas saya
merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang menjadi kesulitan
belajar bahasa pada anak?
2. Apa metode yang paling
tepat untuk mengatasi kesulitan belajar bahasa?
1.3. Metode
dan Teknik Pengumpulan Data
Sumber-sumber bahasan yang
saya gunakan dalam penyusunan makalah ini adalah:
1.
Metode observasi yaitu saya terjun langsung ke lapangan untuk
meneliti agar mudah mendapatkan data-data yang saya butuhkan
2.
Metode biografi yaitu metode dengan cara melihat buku-buku
yang menunjang.
1.4. Tujuan
Penulisan Makalah
Adapun tujuan yang didapat
setelah melakukan penelitian ini
1.
Mengetahui masalah yang dihadapi anak dalam belajar bahasa.
2.
Mengetahui penyebab mengapa anak mengalami kesulitan dalam
mrmbaca, menulis, dan menyimak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
Anak Berkesulitan Belajar
2.1.1 Pengertian Kesulitan
Belajar
Kesulitan
belajar merupakan terjemah dari istilah bahasa Inggris learning disability.
Meskipun sesungguhnya kurang tepat karena learning artinya belajar dan
disability artinya ketidakmampuan sehingga terjemah yang benar seharusnya
adalah ketidakmampuan belajar. Tetapi di Indonesia lebih dikenal dengan
berkesulitan belajar. Selain itu kata berkesulitan juga lebih dipandang lebih
baik dan mempunyai harapan dari pada ketidakmampuan.
Aktivitas
belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar.
Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak lancar, kadang-kadang dapat cepat
menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal
semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk
mengadakan konsentrasi.
Setiap
individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individual ini pulalah yang
menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. Dengan
demikian kesulitan belajar dapat didefinisikan sebagai “suatu keadaan di mana
anak didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya” (Abu Ahmadi dan Widodo
Supriyono, 2004: 77).
Menurut
pendapat The United States Office of Education (USOE) dalam (Mulyono Abdurrahman: 6-7: 2003) menyebutkan bahwa:
Kesulitan
Belajar Khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses
psikologi dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran yang
mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut
mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengar, berpikir, berbicara,
membaca, menulis, mengeja, atau berhitung. Batasan tersebut mencakup
kondisi-kondisi seperti gangguan perceptual, luka pada otak, disleksia, dan
afasia perkembangan. Bahkan batasan tersebut tidak mencakup anak-anak yang
memiliki problema belajar yang penyebab utamanya berasal dari adanya hambatan
dalam penglihatan, pendengaran, atau motorik, hambatan karena tunagrahita,
karena gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan, budaya, atau
ekonomi.
Dari
pernyataan tersebut dijelaskan bahwa kesulitan belajar mencakup permasalahan
pemahaman anak dalam memahami materi yang diterima serta dalam permasalahan
penggunaan bahasa ujaran atau penggunaan tulisan.
Gangguan
mendengar muncul dalam bentuk anak tidak mendengar atau anak anak mengalami
kekurangan pendengaran. Gangguan berpikir muncul dalam bentuk kurangnya kemampuan
anak dalam hal kognitif. Sedangkan gangguan berbicara terlihat dari sulitnya
anak memanfaatkan organ bicaranya untuk berkomunikasi atau kurangnya
perbendaharaan suku kata yang dipunyai anak. Lalu kesulitan terlihat dari
kemampuan anak membaca yang masih sangat lambat sekali atau bahkan mungkin anak
masih belum terlalu faham dengan huruf–huruf tersebut. Kesulitan menulis terlihat
dari tulisan anak yang tidak teratur dan jelek. Selain itu kesulitan menulis
juga bisa disebabkan karena koordinasi tangan yangh kurang baik. Sedangkan
untuk kesulitan mengeja muncul karena sedikitnya kosa kata ank atau masih
sulitnya anak membedakan huruf. Kemudian untuk kesulitan berhitung terjadi
karena anak yang yang masih lemah tentang konsep berhitung atau juga karena
anak yang rendah kognitifnya.
Learning
Disabilities Association of America yang dikutip oleh Sylvia Untario
(www.kesulitanbelajar.org.2011) menyebutkan bahwa:
Kesulitan
belajar atau “Learing Disabilities, LD”, adalah habatan/ gangguan belajar pada
anak dan remaja yang ditandai oleh adanya kesenjangan yang signifikan antara
taraf intelegensi dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai. Hal ini
disebabkan oleh gangguan di dalam sistem saraf pusat otak (gangguan
neurobiologis) yang dapat menimbulkan gangguan perkembangan seperti gangguan
perkembangan bicara, membaca, menulis, pemahaman dan berhitung.
Kesulitan
belajar menunjukan pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk
kesulitan yang nyata dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan,
bercakap–cakap, membaca menulis, menalar, atau kemampuan dalam bidang studi
matemaika.
Pengertian
anak berkesulitan belajar juga dikemukakan oleh Krochack, A. Linda and Thomas G
Ryan dalam jurnal Special of Education Vol 22 No 3 2007 yang dikutip dari (http: //www. google. co. id. International Journal
of Special Education Children With Learning Disability. International Journal
of Special Education Vol 22 No 3 2007)
Definition of
a learning disability is “refer to a number of disorders which may affect the
acquisition, organization, retention, understanding or use of verbal or non verbal information. These
disorders affect learning in individuals who otherwise demonstrate at least
average abilities essential for thinking and/ or reasoning. As such,
learning disabilities are distinct from global intellectual deficiency.
Learning disabilities result from impairments in one or more processes related
to perceiving, thinking, remembering or learning. These disorders are not due
primarily to hearing and/ or vision problems, socio-economic
factors, cultural or linguistic differences, lack of motivation or ineffective
teaching”.
Yang berarti “
Kesulitan belajar mengacu pada sejumlah gangguan yang dapat mempengaruhi
perolehan, organisasi, retensi, pemahaman atau penggunaan informasi verbal atau
nonverbal. Gangguan ini mempengaruhi belajar pada individu yang dinyatakan
dalam mendemonstrasikan kemampuan rata-rata minimal penting untuk berpikir dan/
atau penalaran. Dengan demikian, ketidakmampuan belajar yang berbeda dari
defisiensi intelektual global. Kesulitan belajar merupakan hasil dari gangguan
dari satu atau lebih proses yang terkait dengan mengamati, berpikir, mengingat
atau belajar. Gangguan ini bukan karena terutama untuk mendengar dan perbedaan/
atau visi masalah, faktor-faktor sosial-ekonomi, budaya atau bahasa, kurangnya
motivasi atau mengajar tidak efektif.
Specific
learning disabilities means a disorder of one or more of the basic
psychological processes involved in understanding or in using language, spoken
or written, wich may manifest itself in an imperfect ability to listen, think,
speak, read, write, spel, or do arithmaetic calculations. The term includes
such conditions as perceptual handicaps, brain injury, minimal brain damage,
dyslexia, and developmental aphasia. The term does not include children who
have learning problems which are primarily the result of visual, hearing, or
motor handicaps, of mental retardation, or environmental, cultural, or economic
disadvantage. (Johnson et al, 1980: 37).
Kesulitan
belajar khusus adalah suatu gangguan satu atau lebih dari proses psikologis
dasar yang terlibat dalam pemahaman atau dalam menggunakan bahasa, lisan atau
tertulis, yang dapat memanifestasikan dirinya dalam kemampuan sempurna untuk
mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, spel, atau melakukan
perhitungan dalam aritmatika. Istilah ini mencakup kondisi seperti cacat
persepsi, cedera otak, kerusakan otak minimal, disleksia, dan afasia
perkembangan. Istilah ini tidak mencakup anak-anak yang memiliki masalah
belajar yang terutama hasil visual, pendengaran, atau cacat motor,
keterbelakangan mental, atau merugikan lingkungan, budaya, atau ekonomi.
Dari beberapa
pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kesulitan belajar
adalah salah suatu gangguan yang terjadi pada peserta didik yang menyebabkan
peserta didik memperoleh hasil prestasi belajar yang rendah.
1. Klasifikasi anak
berkesulitan belajar
membuat
klasifikasi anak berkesulitan belajar tidaklah mudah karena pada dasarnya
kelompok anak berkesulitan belajar merupakan kelompok yang heterogen. Mulyono
Abdurrahman (2003: 11) menyebutkan bahwa:
secara garis besar anak
berkesulitan belajar dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, (1) kesulitan
belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning
disabilities) dan (2) kesulitan belajar akademik (academic learning
disabilities). Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan mencakup
gangguan motorik dan motorik, kesulitan belajar bahasa dan komunikasi, dan
kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku social. Sedangkan kesulitan belajr
akademik menunjuk pada adanya kegagalan-kegagalan pencapaian prestasi akademik
yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan-kegagalan tersebut mencakup
penguasaan ketrampilan dalam membaca, menulis, dan atau matematika.
Menurut Abu
Ahmadi dan Widodo Supriyono (2004: 78), kesulitan belajar dapat dikelompokkan
menjadi empat macam, antara lain :
1.
Dilihat dari jenis kesulitan belajar, yaitu ada yang berat
dan ada yang sedang.
2.
Dilihat dari bidang studi yang dipelajari, yaitu ada yang
sebagian bidang studi dan ada yang keseluruhan bidang studi.
3.
Dilihat dari sifat kesulitannya, yaitu ada yang sifatnya
permanen/ menetap, dan ada yang sifatnya hanya sementara.
4.
Dilihat dari segi
faktor penyebabnya, yaitu faktor inteligensi dan faktor non-inteligensi.
Penyebab Kesulitan Belajar
Faktor
penyebab kesulitan belajar belum diketahui secara pasti, Menurut Sunardi (2000:
13) faktor penyebab kesulitan belajar dikelompokkan menjadi tiga kategori,
yaitu: faktor organik dan biologis, faktor genetik, dan faktor lingkungan.
1.) Faktor Organik dan
Biologis
Beberapa
penelitian menyimpulkan bahwa kesulitan belajar disebabkan oleh adanya
disfungsi minimal otak (DMO) meskipun pada beberapa anak, gejala tersebut tidak
ditemui. Selain adanya disfungsi minimal otak, kesulitan belajar ada bukti
tentang adanya faktor biologis yang menjadi penyebab kesulitan belajar
2) Faktor Genetik
Semakin
disadari sekarang bahwa anak berkesulitan belajar cenderung terjadi dalam satu
keluarga. Apakah ini merupakan faktor keturunan atau lingkungan, masih
memerlukan penelitian yang lebih lamjut.
3) Faktor Lingkungan
Faktor
lingkungan yang kurang mendukung menjadi salah satu penyebab anak berkesultan
belajar.
Selain itu
factor kesulitan belajar juga muncul akibat faktor yang terdapat di dalam diri
siswa, dan faktor yang ada di luar diri siswa, baik di lingkungan sekolah
maupun masyarakat.
Adapun faktor
penyebab hambatan dan masalah belajar yang terdapat di dalam diri siswa, antara
lain:
1.
Kelembahan secara fisik, seperti suatu susunan pusat syaraf
yang tidak berkembang secara sempurna, luka, cacat, atau sakit, sehingga
membawa gangguan emosional, penyakit menahun, asma yang menghambat usaha-usaha
belajar secara optimal.
2.
Kelemahan-kelemahan secara mental, baik yang dibawa sejak
lahir maupun karena pengalaman yang sukar diatasi oleh individu yang bersangkutan
dan kurang, seperti kelemahan mental.
3.
Kelemahan-kelemahan emosional, antara lain: rasa tidak aman
4.
Kelemahan yang disebabkan karena kebiasaan dan sikap-sikap
yang salah, antara lain: banyak melakukan aktivitas yang bertentangan dan tidak
menunjang pekerjaan sekolah, menolak atau malas belajar, kurang berani dan
gagal untuk berusaha memusatkan perhatian, kurang kooperatif dan menghindari
tanggung jawab, sering membolos atau tidak mengikuti pelajaran, dan gugup.
Sedangkan
faktor-faktor kesulitan belajar yang terletak di luar diri siswa, antara lain:
Ø Kurikulum yang seragam,
bahan dan buku sumber yang tidak sesuai dengan tingkat kematangan dan perbedaan
individu atau tidak tersedia.
Ø Ketidaksesuaian standart
administratif sistem pengajaran, penilaian, pengelolaan kegiatan dan pengalaman
belajar.
Ø Terlalu berat beban
belajar siswa dan mengajar guru, terlampau besar populasi siswa di dalam kelas,
terlalu banyak menuntut kegiatan di luar.
Ø Terlalu sering pindah
sekolah, atau program, tinggal kelas.
Ø Kelemahan sistem belajar
mengajar pada tingkat pendidikan asal sebelumnya.
Ø Kelemahan yang terdapat
dalam kondisi rumah tangga, pendidikan, sosial ekonomi, keutuhan keluarga,
ketentraman dan keamanan sosial psikologis.
Ø Terlalu banyak kegiatan di
luar jam pelajaran sekolah atau terlalu banyak terlibat dalam kegiatan ekstra
kurikuler.
Ø Kekurangan makan atau
gizi, nutrisi yang jelek
Ø Pandangan masyarakat yang
salah terhadap pendidikan
Ø Tradisi hidup sosial
ekonomi yang terbelakang
1.) Gejala–gejala Kesulitan Belajar.
Menurut pendapat
Titik Sumiyati (2009: 6) gejala–gejala kesulitan belajar
antara lain:
1.
Menunjukkan hasil belajar rendah.
2.
Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan
3.
Lambat dalam melakukan tugas – tugas kegiatan belajar.
4.
Menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti acuh atau
menentang dan sebagainya.
5.
Menunjukkan tingkah laku yang berlainan, seperti membolos,
datang terlambat, dan sebagainya.
6.
Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar seperti
pemurung, pemarah, dan sebagainya.
2.) Penanganan
Kesulitan Belajar
Banyak
alternatif yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar anak
didiknya. Akan tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan
untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting yang meliputi:
1.
Menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian
masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang
benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi anak didik.
2.
Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu
yang memerlukan perbaikan.
3.
Menyusun program perbaikan, khususnya program pengajaran
perbaikan (Muhibbin Syah, 2003: 187).
3.) Metode Drill
Pengertian Metode Drill
Metode drill
disebut metode latihan ialah suatu teknik yang dapat diartikan sebagai suatu cara mengajar
dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan agar siswa memiliki
ketangkasan dan ketrampilan, kemampuan yang lebih tinggi dari apa yang telah
dipelajari (Roestiyah, 2001: 125).
Berdasarkan
pendapat tersebut menyebutkan bahwa metode drill ini digunakan dengan cara
memberikan latihan–latihan secara terus menerus kepada anak agar anak dalam
menguasai materi yang disampaikan anak tidak sekedar tahu tentang materi
tersebut. Tetapi anak juga faham dan juga terampil dalam menghadapi materi yang
disampaikan. Missal, ketika mempunyai anak yang masih kecil, kita mengajarinya
berbicara sedikit demi sedikit dan terus kita ulang sehingga pada akhirnya anak
bisa menguasai kata– kata yang sering kita ucapkan.
Syaiful Bakhri
Djamaroh dan Aswan Zainal dalam Istiqomah (2009: 4) yang berpendapat
methode drill dapat juga disebut dengan methode training yaitu merupakan suatu
cara mengajar yang baik, untuk menanamkan kebiasaan yang baik juga digunakan
untuk memperoleh suatu ketangkasan, kesempatan dan ketrampilan.
Menurut Sukarman
(2008: 6) Drill atau latihan merupakan metode mengajar yang dapat
digunakan untuk mengaktifkan siswa pada saat proses belajar mengajar
berlangsung, karena metode drill menuntut siswa untuk selalu belajar dan
mengevaluasi latihan-latihan yang diberikan oleh guru.
Menurut
Suwarna, dkk dalam Siti Nurhayati (2009: 3) drill yaitu cara
mengajar dengan memberikan latihan secara berulang-ulang mengenai apa yang
telah diajarkan guru sehingga siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan
tertentu.
Menurut Syaiful
Sagala (2006: 217) metode drill merupakan suatu cara mengajar yang baik
untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk
memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan ketrampilan.
Menurut
Sriyono (1992: 112) metode drill adalah latihan dengan praktek yang dilakukan
berulang kali atau kontinyu/ untuk mendapatkan ketrampilan dan ketangkasan
praktis tentang pengetahuan yang dipelajari.
Dari semua
pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode drill
adalah suatu tekhnik mengajar yang dilaksanakan dengan memberikan latihan–latihan
dan dilakukan secara berulang kali.
1.
Kelebihan dan Kekurangan
Diantara
keuntungan metode drill adalah:
v Bahan yang diberikan
secara teratur, tidak loncat-loncat dan step by step akan lebih melekat pada
diri anak dan benar-benar menjadiu miliknya.
v Adanya pengawasan,
bimbingan dan koreksi yang segera diberikan oleh guru memungkinkan murid untuk
segera melakukan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahanya. Dengan demikian juga
akan menghemat waktu belajarnya.
v Pengetahuan atau
ketrampilan siap yang telah terbentuk sewaktu-waktu dapat dipergunakan dalam
keperluan sehari-hari baik untuk keperluan studi maupun untuk bekal hidup di
masyarakat kelak.
Adapun kerugian atau
kelebihan metode drill:
v Dapat membentuk kebiasaan
yang kaku.
v Menimbulkan adaptasi
mekanis terhadap lingkungannya. Didalam menghadapi masalah, siswa menghadapi
secara statis.
v Menimbulkan verbalisme.
Respons terhadap stimulus yang telah terbentuk dengan latihan itu akan berakibat
kurang digunakannya rasio sehingga, inisiatifpun terhambat.
v Latihan yang terlampau
berat akan menimbulkan perasaan benci, baik kepada mata pelajaran maupun kepada
gurunya.
v Latihan dilakukan dalam
pengawasan yang ketat dan dalam suasana yang serius mudah sekali menimbulkan
kebosanan dan kejengkelan. Akhirnya anak enggan berlatih dan malas atau mogok
belajar.
(Sriyono:
1991: 113-114)
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Identitas Siswa, Kesulitan Belajarnya dan cara Meremedinya
Nama : Sintia
Tanggal lahir : 2 Februari 2005
Sekolah : SD
N 2 Wayngison
Nama orang tua :
Ayah :
Asep irawan
Ibu : Erni
Setelah saya
melakukan penelitian ternyata Si anak ini mengalami sedikit kesulitan dalam hal
membaca. Setelah saya mencari informasi dari Si anak tersebut dan dari
orang-orang terdekat yaitu orang tua si anak. Jadi saya menarik kesimpulan
bahwa penyebab si anak mengalami kesulitan membaca yaitu:
1.
Kurangnya motivasi dari orang-orang terdekat.
2.
Kurangnya latihan dalam membaca.
Setelah saya
teliti lebih lanjut dan bertanya kepada orang tua Si anak. Mengapa Si anak ini
mengalami kesulitan membaca tadi telah saya katakan di atas bawasannya Si anak
ini kurang mendapatkan motivasi dari orang tuanya. Hal ini terbukti ketika saya
bertanya kepada orang tua Si anak. Hal yang menjadi dasar kenapa Si anak ini
sulit dalam membaca karena orang tuanya sendiri tidak bisa membaca. Oleh
karenanya orang tua Si anak tidak bisa mengajarkan Si anak untuk membaca.
Terlebih lagi Si anak sangat kurang dalam melakukan latian secara individu,
sehingga ketika Si anak ini disuruh membaca mengalami sedikit kesulitan
ditunjukan dengan ketidaklancaran saat membaca.
Cara Mengatasi kesulitan
membaca:
1.
Ketahui latar pengetahuan sisiwa dalam pengetahuan membaca.
2.
Membangun dasar kosa kata yang kuat.
3.
Ajari pemahaman pada beberapa program intruksi membaca.
4.
Usahakan meningkatkan kecepatan membaca.
5.
Ajarkan strategi membaca.
6.
Dorong siswa menjelmakan strategi menjadi keterampilan.
Nama :
Ice
Tanggal lahir : 12 Maret 2007
Sekolah : SD N 2 Wayngison
Nama orang tua :
Ayah :
Warno
Ibu : Sri Ningsih
Setelah saya
melakukan penelitian ternyata Si ice ini mengalami kesulitan dalam hal menulis.
Hal ini terlihat ketika saya menyuruh menuliskan sebuah kalimat "mama
menolong adik" terlihat saat menuliskan huruf A dan O hampir sama dan
tidak bisa dibedakan antara huruf a dan o. Setelah itu ketika saya mendektekan
sebuah kalimat "ayah membantu ibu mengambil air" banyak kesalahan
dari segi bacaan. Dan dari ciri-ciri ia menulis sama dengan ciri kesulitan
menulis yaitu:
1.
Sudut pensil terlalu besar atau terlalu kecil.
2.
Menggenggam pensil seakan mau meninju.
3.
Menyangkutkan pensil ditangan atau menyeret.
Oleh karena itu cara saya
menangani gangguan ini yaitu:
1. Mengajarkan cara
menggenggam pensil yang benar.
Dengan cara
periksa telunjuk dan jari tengahnya. Kedua jari tersebut harus membentuk
lingkaran terbuka dan pensil bersandar di jari tengah dengan posisu pergelangan
tangan harus lurus.
2. Dorong anak untuk
menulis huruf dari atas kebawah.
Dengan cara ini hasil tulisan akan terlihat lebih rapih dan
juga hal ini lebih mudah dibuatnya dari pada garis melengkung atau diagonal.
Jadi, huruf besar seperti E,F, dan T akan lebih mudah ditulis dibanding A dan
C.
3. Melakukannya dengan
cara yang menyenangkan.
Sesekali
ajaklah anak untuk menulis namanya di atas kertas warna-warni atau juga boleh
sesekali si anak disuruh mengarang sebuah cerita.
Nama : Selita Angeli
Tangal lahir : 19 Juli 2005
Sekolah : SD N 2 Wayngison
Nama orang tua :
Ayah : Hartono
Ibu : Hartini
Setelah saya
melakukan sedikit penelitian ternyata anak ini mengalami kesulitan berbicara.
Hal ini terlihat ketika disuruh berbicara di depan kelas anak ini mengalami
kegugupan, sehingga pada saat mau berbicara kata- kata yang ingin diucapkan
hilang dan menyebabkan Si anak ini diam saja dan bingung mau ngomong apa di
depan. Hal ini bisa disebabkan karena kurang percaya diri, kurangnya penguasaan
kosa kata, kurangnya latihan, dan kurangnya motifasi diri.
Jadi dalam
permasalahan ini saya menggunakan cara-cara seperti di bawah ini dalam
mengajarkan berbicara yaitu:
1.
Saya mengarahkan agar pada waktu berbicara di depan agar
menggunakan kata-kata yang banyak atau tidak langsung. Hal ini diharapkan
ketika berbicara tidak kehabisan kata-kata sehingga tidak blank.
2.
Pembentukan kata-kata baru yaitu dengan menambahkan kata-kata
tambahan pada saat menyampaikan materi atau yang lainnya.
3.
Menggunakan kata-kata baru yang mudah dikenal.
4.
Menggunakan kata yang saling berhubungan.
5.
Menggunakan kata-kata yang biasa didengar orang.
6.
Menggunakan ekpresi hal ini ditujukam supaya apa yang kita
maksud lebih meyakinkan audien.
7.
Menggunakan gerak tubuh.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Setelah saya
melakukan penelitian ini dapat saya simpulkan bahwa kesulitan belajar baik itu
menulis, berbicara, dan membaca didasari karena faktor
ekternal dan faktor internal.
4.2 Saran
Penulis
mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan untuk
rekan-rekan mahasiswa dan mahasiswi. Dan demi sempurnanya makalah ini saya
selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman, Mulyono, 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka cipta.
Wood, Derek, 2011. Kiat Mengatasi Gangguan Belajar. Jogjakarta: katahari.
https://akhwatbasil.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar