BAB
I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Meskipun
anak berkesulitan belajar tergolong anak biasa, mereka tidak memerlukan sekolah
khusus atau sekolah luar biasa. Mereka dapat belajar disekolah biasa atau
sekolah reguler bersama anak lain yang tidak berkesulitan belajar. Meskipun
demikian, anak berkesuliatan belajar memerlukan pelayanan pendidikan khusus
atau pendidikan luar biasa. Pemberian pelayanan pendidikan luar biasa bagi anak
berkesuliatan balajr inilah yang akan dibahas paa pelajaran ini. Pembahasan
akan mencakup keempat hal, yaitu berbagai pilihan penempatan, peranan guru anak
berkesulitan belajar, hubungan antara orang tua dengan guru, dan program
bimbingan bagi orang tua. Dalam pembicaraan terdahulu telah kita utarakan
butir-butir yang berkaitan dengan pengajaran remidi bahasa, strategi perawatan
keslahan, tipe kesalahan dan tipe perawatan, serta prinsip-prinsip dasar
perawatan kesalahan. Semua upaya tersebut kita paparkan untuk membantu dan
mempermudah para pengajar mengoreksi kesalahan berbahasa para siswa serta
mengurangi,bahkan jika dapat menghilangkn atau menghapus kesalahan-kesalahan
tersebut.
Selanjutnya,
untuk apa kesalahan berbahasa itu dirawat, dikoreksi, dikurangi, dan
dihapuskan? Agar para siswa atau para pembelajar dapat berbahasa dengan baik
dan benar. Selain itu, agar para pembelajar juga terampil berbahasa, menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis, yang merupakan tujuan utama setiap pengajaran
bahasa.
Sekarang
mari kita pusatkan perhatian kepada “pembelajar” (the learnner), khususnya
“pembeajar bahasa” (the language learner. Apakah kita, para pengajar, para
guru, sudah memahami serta menyadari benar-benar “bahasa yang bagaimana yang
kita harapkan dikuasai oleh para pembelajar” sesuai pendidikan yang kita
berikan kepada mereka? Dalam pembelajaran ini, kita aka membahas masalah bahasa
pembelajar bahasa sebagai jawaban atas pertanyaan tadi. Adapun butir-butir yang
akan kita bicarakan selajutnya,
meliputi:
a)
Tujuan
pembelajaran/pembellajaraan bahasa;
b)
Ciri-ciri
bahasa pembelajr bahasa yang idea;
c)
Ciri-ciri
pembelaajar bahasa yang terampil menulis;
d)
Sarana
pembelajaran keterampilan berbicara.
2.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Jelaskan
ciri-ciri
dari pendekatan yang berdasarkan kemahiran atau proficiency-based approach
dalam pengajaran bahasa di tingkat Sekolah Dasar dan sekolah menengah?
2.
Apa saja keuntungan dan kekurangan dari
sistem pemberian pelayanan dalam bentuk kelas reguler?
3.
TUJUAN
Ada empat tujuan
yang akan dicapai melalui pembahasan alam pembelajaran ini. Keempat
tujuan tersebut adalah agar anda dapat:
a.
Memahami
berbagi pilihan penempatan pemberian pelayanan PLB bagi anak berkesulitan
belajar,
b.
Memahami
peranan guru anak berkesulitan belajar,
c.
Memahami
hubungan antara orang tua dengan guru untuk meningkatkan keefektifan
pembelajaran,dan
d.
Memahami
program bimbingan bagi orang tua.
BAB II
PEMBAHASAAN
SISTEM
PEMBERIAN PELAYANAN PENDIDIKAN
1. Berbagai
Pilihan Penempatan
Dalam
memilih sistem penempatan untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada anak
berkesulitan belajar ada faktor yang perlu dipertimbangkan. Berbagai faktor
tersebut adalah tingkat kesulitan kebutuhan anak untuk memperoleh pelayanan
yang sesuai, dan keterampilan sosial dan akademik anak. Suatu tim yang menangani
anak berkesulitan belajar biasanya menganjurkan untuk memilih suatu sistem
pemberian pelayanan yang menggabungkan beberapa tipe pelayanan.
Menurut
Lerner (1988: 141) ada tiga sistem penempta yang banyak dipilih oleh sekolah,
yaitu kelas khusus (special class), ruang sumber (resource rooom), dan kelas
reguler ( reguler class). Menurut Lerner, 20 persen anak berkesulitan belajar
di amerika serikat mempeoleh pelayanan kelas khusus, 62 persen di ruang sumber,
dan 15 persen di ruang reguler. Berikut ini secara berturur – turut akan
dibahas pemberian pelayanan pendidikan dalam kelas khusus, ruang sumber, dan
ruang regular.
a.
Kelas
Khusus
Sekolah
yang menyelenggarankan kelas khusus biasanya menempatkan 10 atau 20 anak
berkkesulitan belajar dalam satu kelas. Pengelompokan dapat diasarkan atas
taraf kesulitan atau faktor – faktor lain. Ada dua macam kelas khusus yang bisa
digunakan yaitu kelas khusus sepanjang hari belajar dan kelas khusus untuk
bidang studi tertentu.
Dalam
kelas khusus sepanjang hri belajar anak berkesulitan belajar diajar oleh guru
khusus. Mereka berinteraksi dengan anak yang tidak berkesulitan belajar hanya
pad asaat beristirahat. Jenis pelayanan ini adalah yang paling bersifat
membatasi pergaulan anak berkesulitan belajar dengan anak yang tidak
berkesulitan belajar dalam sistem pendidikan integratif.
Dalam
kelas khusus dalam bidang studi anak-anak belajar bidang studi yang tidak dapat
mereka ikuti di kelas reguler. Untuk bidang-bidang studi seperti olah raga,
musik,kerajinan tanggan, dn lain-lin yang dapat dilakukan bersama anak yang
tidak berkesulitan belajar, mereka melakukan bersama. Sebagian besar dari waktu
yang digunakan didalam kelas khusus jenis ini umumnya untuk pelajaran membaca,
menulis,berhitung, dan kadang-kadang juga tentang keterampilan sosial atau
aspek-aspek khusus dari bahasa.
Sistem
pemberian pelayanan dalam kelas khusus tiak hanya memiliki keuntungan tetapi
juga memiliki kekurangan. Keuntungan dari sistem pemberian pelayanan ini adalah
:
ü Pembelajarannya
menjadi lebih efesien kerena pengelompokannya homogen
ü Anak
berkesulitan belajar lebih banyak memperoleh pelayanan yang bersifat individual
dari seorang guru.
Adapun
kekurangan ari sistem pemberian pelayanan ini adalah:
ü Anak
berkesulitan belajar sering memperoleh cap negatifyang dapat menggangu
kepercayaan diri, penolakan dari teman, perolehan pekerjaan di masa depan,
sikap negatif dari keluarga, dan harapan untuk berhasil yang rendah dari
seorang guru
ü Anak
berkesulitan belajar cendrung hanya dapat berimitasi dengan sesam mereka.
b.
Ruang
Sumber
Ruang
sumber merupakan ruang yang disediakan oleh sekolah untuk memberikan pelayanan
pendidikan khusus bagi anak yang membutuhkan, terutama yang tergolong
berkesulitan belajar. Di dalam ruang tersebut terdapat guru remedial dan
berbagai media belajar. Aktivitas di dalam ruang sumber umumnya berkonsentrasi
pada upaya memperbaiki keterampilan dasar seperti membaca, menulis, dan
berhitung. Guru sumber atau guru remedial dituntut untuk mengusai bidang
keahlian yang berkenaan dengan pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. Guru
sumber diharapkan juga dapat menjagi “pengganti” guru kels dan menjadi
konsultan bagi guru reguler. Anak belajar di ruang sumber sesuai dengan jadwal
yang telah ditentukan. Guru diruang sumber biasanya menangani 15 samapi 20 anak
tiap hari.
Pemberian
pelayanan dalam bentuk ruang sumber memiliki keuntungan tetapi juga kekurangan. Kekurangannnya adalah
:
ü Anak
yang memerlukan bantuan khusus di bidang akademik atau sosial memperoleh
bantuan dari guru yang terlatih,dan
ü Anak
berkesulitan belajar tetap berada di dalam kelas reguler sehinggamereka dapat
bergaul dengan anak yang tidak tergolong berkesulitan belajar.
Adapun
kekurangan sistem pemberian pelayanan jenis ini adalah:
ü Meningkatkan
jumlah waktu terbuang untuk pindah dari kelas regular ke ruang sumber
ü Mengurangi
kemampuan guru kelas atau guru reguler untuk menangani anak secara inividual
ü Meningkatkan
kemungkinan adanya inkonsistensi pendekatan pembelajaran
ü Meningkatkn
jumlah spesialis yang bekerja untuk anak
yang dapat menimbulkan pelayanan yang terpecah-pecah
ü Dapat
meningkatkan konflik antara kebutuhan kelompok dan kebutuhan inividual.
c.
Kelas
Reguler
Jenis
pelayanan dalam bentuk kelas reguler dimaksudkan untuk mengubah citra tentang
adanya dua tipe anak, yaitu anak yang berkesulitan belajar dan anak yang tidak
berkesulitan belajar. Dalam kelas reguler yang dirancang untuk membantu anak
berkesulitan belajar diciptakan suasana belajar koperatif sehingga memungkinkan
semua anak, baik yang berkesulitan belajar maupun yang tidak berkesulitan
belajar, dapat menjalin kerjasama untuk mencapai suatu tujuan belajar. Suasana
belajar koperatif diciptakan untuk menghindari terjadinya kompetisi antara anak
berkesulitan belajar dengan anak yang tidak berkesulitan belajar dan untuk
menghindari terjadinya duplikasi pemberian pelayanan. Program pelayanan
pendidikan individual diberikan kepada semua anak yang membutuhkan baik yang
berkesulitan belajar maupun yang tidak, dan bahkanjuga diberikan kepada anak
berbakat (gifted and talented).
Sistem
pemberian pelayanan dalam bentuk kelas reguler memiliki banyak keuntungan
tetapi juga memiliki banyak kekurangan. Berbagai keuntungan dan sistem ini
adalah:
Ø Nak
berkesulitan belajar akan menggunakan anak yang tidak berkesulitan belajar
sebagai model perilaku mareka
Ø Mengelola
anak berkesulitan belajar di kelas reguer lebih murah daripada menyediakan
merak pe;ayanan dan situasi khusus
Ø Anak
yang tidak berkesulitan belajar dapat menjadi lebih memahmi adanya perbedaan
antarindividu
Ø Guru
reguler dimungkinkan untuk menjadi lebih dapat menyesuaikan pembelajaran mereka
dengann karakteristik individual semua anak.
Adapun
berbagi kekurangan sistem pemberian pelayanan dalam bentuk kelas reguler:
Ø Anak
berkesulitan belajar kurang memperoleh pelayanan individual
Ø Anak
berkesulitan belajar masih mungkin memperoleh cap negatif dari anak yang tidak
berkesulitan belajar
Ø Anak
berkesuitan belajar mungkin akan sering gagal karena sulitnya bahan dan tugas
Ø Nak
berkesulitn belajar akan dirugikan
karena tidak memperoleh pelayanan PLB yang sistematis dan latiahn
keterampilan dasar yang cukup
Ø Semangat
juang (morale) guru kelas atau guru reguler mungkin akan terpengaruh secara
negatif karena banyak di antara mereka yang tidak dipersiapkan untuk menangani
anak berkesulitan belajar.
2. Peranan
Guru Khusus Untuk Anak Berkesulitan Belajar
Di
negara kita guru khusus bagi anak berkesulitan beljar masuh sangat langka.
Meskipun jurusan pendidikan luar biasa FIP IKIP Jakarta telah menyelenggarakan
pendidikan guru khusus bagi anak berkesulitan belajar sejak tahun 1970-an,
penempatan lulusannya ke dalam sistem
persekolahan masih mengalami banyak kesulitan. Pada tahun akademik 1993/1994
kurukulum jurusan PLB telah cecara tegas mencantumkan adanya bidang kekhususan pendidikan akan berkesulitan
belajar. Mulai tahun akademik tersebut, jurusan PLB membuka tuhuh bidang
kekhususan, yaitu:
1. Pendidikan
bagi anak tunanetra
2. Pendidikan
bagi anak tunarunggu
3. Pendidikan
bagi anak tunagrahita
4. Pendidikan
bagi anak tunadaksa
5. Pendidikan
bagi anak tunalaras
6. Pendidikan
bagi anak berkesulitan belajar
7. Pendidikan
bagi anak berbakat
Ada
sembilan peranan guru khusus bagi anak berkesulitan belajar di sekolah (lerner,
1988:147). Kesembilan peranan tersebut adalah:
1. Menyusus
rancangan program identifikasi, asesmen, dan pembelajaran anak berkesulitan
belajar;
2. Berpartisipasi
dalampenjaringan, asesmen, dan evluasi anak berkesulitan belajar;
3. Berkonsultasi
dengan para ahli yang berkait dan menginterpretasikan laporan meraka;
4. Melaksanakan
tes, baik dengan tes formal maupun informal;
5. Berpatisipasi
dalam penususan program pendidikan yang diindividulkan (individualized
educatioan programs)
6. Mengimplemntasikan
program pendidikan yanng diinividualkan;
7. Menyelanggarkan
pertemuan dan wawancara dengan orang tua
8. Bekerjasama
dengan guru reguler atau guru kelas untuk memahami adak dan menyediakan
pembelajran yang efektif; dan
9. Membantu
anak dalam mengembangka pemahaman diri dan memperoleh harapan untuk berhasil
serta keyakinan kesanggupan mengatasi kesulitan belajar.
Ada
da kompetensi yang perlu dikuasi oleh guru bagi anak berkesulitan belajar,
yaitu kompetensi teknis (technical competencies) dan kompetensi konsultasi
(collaborative consultation competencies), (Lerner, 1988:148). Kompetensi
teknis mencakup (1) memahami berbagai teori tentang berkesulitan belajar, (2)
memahami berbagai tes yang terkait dengan berkesulitan belajar, (3) terampil
dalam melaksanakan asesmen dan evaluasi,dan (4) terampil dalam mengajarkan
bahasa lisan, bahasa tulis, membaca, matematika, mengelola perilaku, dan
terampil dalam memberikan pelajaran prevokasional dan vokasional. Orang-orang
yang terkait dengan upaya memberikan bantuan kepada anak tersebut terutama
adaah guru reguler atau guru kelas, administrator sekolah, tim ahli (dokter,
psikolog, konselor dam sebagainya), dan orang tua.
Guru
reguler sering tidak memperoleh latihan dalam bidang PLB dan tidak
dipersiapakan untuk mengajar anak berkesulitan belajar. Mereka sering takut
terhadap tanggung jawab dan enggan menerima tugas tambahan untuk membantu anak
berkesulitan belajar. Padahal,tujuan pembelajaran yang dirancang untuk anak
hanya dapat dicapai jika semua orang yang terlibat dalam memberikan bantuan
kepada anak tersebut berfungsi secara terintegrasi.
Perlu
dibeakan antara konsultasi dan kolaborasi. Dalam konsultasi, seorang
profesional (misalnya, guru bagi anak berkesulitan belajar) menjalin hubungan
dengan seorang concultee (misalnya, guru kelas reguler). Problem konsultasi
akan muncul jika kedua belah pihak saling tidak menganggap pakar dan guru kelas
tidak tersedia menerima anjuran “pakar” tersebut. Dalam kolaborasi, kedua belah
pihak, baik guru bagi anak berkesulitan
belajar maupun guru kelas diasumsikan memiliki taraf keahlian yang setara
terhadap situasi permasalahan yang dihadapi, yang memungkinkan terjadinya
interaksi yang terbuka. Dalam konsep konsultasi kolaboratif sifat konsultasi
dan kolaborasi digabungkan sehingga tercipta suasana kesejawatan yang setara.
Ada
beberapa prinsip konsultasi kolaboratif
yang perlu diperhatikan. Beberapa prinsip tersebut adalah seperti dikemukakan
berikut ini:
a. Tujuan umum.
Tujuan umum program pembelajaran anak berkesulitan belajar harus disadari oleh
semua personel sekolah. Jika tiap ppersonel sekolah bekerja dengan tujuan yang berbeda,
maka anak dapat menimbulkan konflik dan ketidakpuasan.
b. Komunikasi jelas dan terbuka.
Suatu sistem komunikasi yang terencana diperlukan untuk membantu menetapkan
dasar-dasar perseptual umum antaranggota yang terlibat dalam upaya
penanggulangan kesulitan belajar.
c. Kejelasaan tanggung jawab.
Adalah hal yang sangat penting untuk menjelaskan tanggung jawab semua orang
yang terlibat upaya penanggulangan berkesulitan belajar.tanpa adanya kejelasan
tanggung jawab msing-masing anggota akan mudah terjadi konflik dan disfungsi.
d. Menanggulangi koflik.
Jika berbagai masalah muncul., berbagai metode untuk memecahaakan
masalah-masalah tersebut harus dikembangkan. Berbagai masalah tersebut tidak
boleh diabaikan tetapi juga tidak boleh dipecahkan secara paksa. Semua informasi
harus ditempatkan terbuka, dan berbagi problema hrus dihadapi oleh semua orang
yang terkait.
e. Waktu dan fasilitas yang cukup.
Tanpa adanya waktu yang cukup untuk merancang, mengkomunikasikan,dan
mengevaluasi,program pendidikan bagi anak berkesulitan belajar akan mengalami
banyak kesulitan dalam kegiatan sekolah yang padat. Ruangan, waktu, dan jaminan
bahwa pertemuan-pertemuan tidak terganggusangat diperlukan untuk suatu kerja
produktif.
Kerjasama
antaranggota tim sangat diperlukan dalam penanggulangan kesulitan belajar. Ada
berbagai aktivitas yang diharapkan dapat meningkatkan kerjasama atau
kolaborasi. Berbagai aktivitas tersebut dalah seperti yng dikemukakan berikut
ini:
1. Pendidikan-servic.
Guru reguler dan personel sekolah yang lain sering tidak dibekali pengetahuan
tentang pendidikan bagi anak berkesulitn belajar. Agar semua personel sekolah
bersedia memberikan dukungan menjalin kerjasama dalam upaya membantu anak
berkesulitan belajar, maka diperlukan adanya pendidikan inservice bagi mereka.
2. Demontrasi.
Guru bagi anak berkesulitan belajar dapat mendemonstrasikan kepada personel
sekolah tentang bahan, metode, teknik, dan tes yang digunakan untuk memecahkan
masalah kesulitan belajar.
3. Metode studi kasus.
Diskusi yng mendalam tentang seorang anak berkesulitan belajaar dapat
melibatkan guru kelas dan personel sekolah lain. Melalui studi kasus diharapkan
paraa guru dapat memahami proses asesmen, intervensi, dan aspekk-aspek lain
dari kesulitan belajar.
4. Pengalaman klinis. Kerjasama
antarpersonel sekolah dapat dilakukan dengan melibatkan mereka secara langsung
dalam pelaksanaan diagnosis dan pengajaran. Pengalaman semacam ini dapat
meningkatan pemahaman guru tentang kesulitan belajar sehingga mereka memahami
pula arti kerjasa dalam upaya pemecahannya.
5. Pembicara tamu dan menghadiri
seminar. Menghadirkan pakar pendidikan anak berkesulitan
belajar untuk memberikan ceramah di sekolah merupakan salah satu upaya untuk
menumbuhkan sikap positif para guru kelas sehingga mereka bersedia memberikan
urunan tenaga dan pikiran untuk memecahkan masalah kesulitan belajar. Upaya
lain adalah dengan meminta kepada para guru atau personel sekolah lain untuk
hadir dalam seminar atau simposium tentang anak berkesulitan belajar.
6. Laporan berkala.
Laporan berkala atau jurnal yang berkaitan dengan kesulitan belajar hendaknya
menjadi salah satu bacaan yang disediakan oleh sekolah bagi para guru. Bacaan
semacam itu diharapkan dapat meningkatkan sikap positif guru terhadap upaya
penanggulangankesulitan belajar.
3. Hubungan
Orang Tua dan Guru
Dalam
menjalin hubungan dengan orang tua, guru perlu memahami bahwa ada berbagai
reaksi para orang tua terhadap anak mereka yang berkesulitan belajar. Menurut
Lerner (1988:154) ada tiga macam reaksi para orang tua terhadap anak mereka
yang berkesulitan belajar, yaitu (1) menolak atau tidak dapat menerima kenyataan, (2) kompensasi yang berlebihan,
dan(3) menerima anak sebagaimana adanya.
Sikap
menolak atau tidak dapat menerima kenyataan sering diperlihatkan dalam bentuk
adanya hubungan sayang-benci dan menerima- menolak anak. Hubungan saang-benci
merupakan sikap ambivalensi, kadang-kadang sayang dan kadang-kadang benci
terhadap anaknya yang tergolong berkesulitan beljar. Begitu pula dengan sikap
menerima-menolak, orang tua disuatu saat dapat menerima anak sebagaimana adanya
tetapidi saat lain menolak. Sikap orang tua yang membenci dan menolak anak
berkesulitan belajar tidak hanya dapat menghambat anak untuk menyesuaikan diri
dengan kesulitannya tetapi juga menghambat komunikasi di dalam keluara sehingga
pada girilannya dapat menimbulkan rasa yng tidak aman pada anak.
Orang
tua yang bersikap menerima anak berkesulitan belajar apa adanya adalah yang
paling positif, yang memungkinkan anak tumbuh dan berkembang secara optimal.
Menurut Robinson seperti dikutip oleh Mercer (1979: 99), yang dimaksud dengan
menerima anak adalah menghargai apa yang dimilik anak, menyadari kekurangannya,
dan aktif menjalinhubungan yang menyenangkan dengan anak. Menurut Wortis
seperti diktip oleh Mercer (1979: 99), ada dua indikator dari orang tua yang
menerima anak apa adanya, yaitu (1) tetap melakukan aktivitas kehidupan yang
normaal, dan (2) berupaya mempertemukan anak dengan kebutuhannya.
Menurut
Mercer (1979: 95), sikap yang menerim anak apa adanya adalah tahapan akhir dari
penyesuaian orang tua dalam menghadapi anaknya yang berkesulitan belajar. Ada
lima tahapan penyesuaian orang tua dalam mengahadapi anaknya yang berkesulitan
belajar, yaitu (1) menyadari adanya masalah, (2) mengenal masalah, (3) mencari
penyebab, (4) mencari penyembuhan, dan yang terakhir adalah, (5) menerima anak
apa adanya.
Kesadaran
terhadap adanya masalah biasanya muncul pada saat orang tua melihat adanya
gejala-gejala penyimpangan yang negatif pada anak. Gejala-gejala tersebut
antara lain adalah (a) belum dapat duduk pada usia sembilan bulan, (b) belum
dapat berjalan pada usia 18 bulan atau dua tahun, (c) belum apat berbicara satu
katayanng dapat mengerti pada usia tiga tahun, (d) sering pandangannya kosong,
(e) tangannya kaku dan canggung, (f) sering terantuk dan jatuh, (g) memberikan
reaksi yang keras terhadap peristiwa yang remeh, (h) tiak mudah tertawa, dan
(i) tidak menyukai permainan sembunyi-sembunyi atau cilukba. Menyadari adanya
masalah tersebut biasanya orang tua berusaha mencari informasi profesional
kepada guru TK atau kepada dokter anak.
Untuk
megurangi kecemasan, ada orang tua yang menggunakan mekanisme pertahanan diri.
Bentuk mekanisame pertahanan diri yang paling umum dan paling primitif menurut
Mercer (1979: 96) adalah penyangkalan (denial). Mungkin orang tua menggunakan
mekanisme pertahanan diri alam bentuk memberikan perlindungan yang berlebihan
(overprotection) dengan melarang ank berpatisipasi dalam kegiatan yang dapat
dilakukan dan disukai anak itu sendiri. Setelah tahap mengakui adanya masalah,
orang tua biasanya memasuki tahap mencari penyebab. Menurut Robinson seperti
dikutip oleh Mercer (1979: 97), ada dua alasan orang tua mencari penyebab
kesulitan belajar. Pertama, dengan
mengetahui penyebab diharapkan dapat ditemukan jalan untuk memperbaiki atau
mencegah kesulitan belajar. Kedua,
dengan mengetahui penyebab, dihrapkan dapat mengurangi beban berat perasaan
berdosa. Diagnosis umumnya didasarkan atas manifestasi perilaku, bukan pada
dasar neurologik atau genetik; dan di samping itu orang tua mungkin menemukan
berbagai teori yang berbeda-beda tentang penyebab kesulitan belajar.
Tahapan
berikutnya adalah mencari peenyembuhan. Kebanyakan orang tua mencari
penyembuhan didasarkan atas pandanga etiologis atau penyebab tertentu. Jika
penyebabnya kekurangan vitamin, mungkin akan disembuhkan dengan memberikan
vitamin tertentu. Jika penyebabnya disfungsi otak minimal, mungkin akan
disembuhkan dengan litahan-latihan perseptual motor, dan jika penyebabnya
pendidikan yang keliru, mungkin akan disembuhkan dengan memanipulasi lingkungan
untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yag diinginkan.
Tahapan
terakhir penyesuaian orang tua dalam menghadapi anak berkesulitan belajar
adalah menerima anak sebagaimana adanya. Setelah melalui tahapan-tahapan sebelumnya,
biasanya orang tua sampai pada tahapan akhir penyesuaian ini. Pertemuan oraang
tua guru hendaknya dipandang oleh kedua belah pihak sebagi wahana untuk membntu
anak. Dengan melakukan koordinasi berbagai upaya orang tua guru dapat
bekerjasama untuk membantu anak mencapai kemajuan.
Para orang tua umumnya ingin mengetahui
tentang bantuan yang dapat mereka berikan kepada anak di rumah. Ada berbagai
aktivitas yang menurut Mercer (1979: 102) dapat dikerjakan oleh orang tua di
rumah untuk membantu anak, yaitu (1) melakukan observasi perilaku anak, (2)
memperbaiki perilaku anak, (3) mengajar anak.
Orang
tua mempunyai lebih banyak waktu untuk bergaul dengan anak sehingga mereka
dapat lebih leluasa untuk melakukan observasi perilaku anak bila dibandingan dengan
guru, dokter, atau konselor. Adapun perilaku anak yang perlu diobservasi oleh
orang tua antara lain adalah yang berkaitan dengan kemampuan anak bermain
bersama kaka atau adiknya, jenis permainan yang disukai, kebiasaan
makan,kebiasaan tidur, dan benda atau peristiwa yang ditakuti anak. Anak
berkesulitan belajar sering memperlibatkan banyak masalah perilaku. Beberapa
masalah perilaku yang paling umum adalah hiperaktivitas, kecenggungan, dan
emosi yang labil.
Masyarakat
umumnya memandang bahwa tugas orang tua di rumah adalah menanamkan kebiasaan
dan tradisi yang berlaku dalam lingkungan sosialnya. Orng tua diharapkan dapat
mengjarkan kepada anak tentang norma dan keterampilan sosial. Pertama, pandangan yang tidak
memperbolehkan orang tua mengajarkan bidang akademik kepada anak. Kedua, pandangan yang menganjurkan agar
orang tua mengajarkan bidang akademik kepada anak di rumah. Pandangan yang
tidak memperbolehkan orang tua mengajarkan bidang akademik kepada anak bertolak
dari alasan (1) orang tua tidak memiliki keterampilan mengajar yang esensial,
(2) sering menimbulkan ketegangan dan frustrasi pada anak, (3) waktu anak untuk
bermain menjadi berkurang, dan (4) orang tua mungkin akan merasa bersalah jika
tidak memiliki waktu untuk mengajar anak. Pandangan yang menganjurkan agar
orang tua mengajarkan bidang akademik kepada anak bertolak dari alasan bahwa
(1) jika mendapat orang yang dapat berfungsi sebagai guru di rumah, dan (2)
orang tua dapat menjadi pelengkap bagi pebelajaran disekolah.
4. Program
Bimbingan dan Latihan bagi Orang Tua
Meskipun
peranan orang tua terhadap keberhasilan anak di sekolah telah lama dikenal,
penyediaan pelayanan bimbingan dan latihan bagi orang tua di sekolah, terutama
di TK dan SD, masih sangat terbatas. Berikut ini akan dikemukakan program
bimbingan dan program latihan bagi orang tua.
a.
Program
Bimbingan Bagi Orang Tua
Menurut
McDowell seperti dikutip oleh Mercer (1979: 100), ada dua macam pendekatan
dalam memberikan bimbingan bagi orang tua, yaitu pendekatan informasional dan pendekatan
psikoterapetik. Mercer mengemukakan contoh pendekatan ini dengan suatu
pertemuan berangkai yang diselenggarakan oleh Mc Whirter. Sekolah
menyelenggarakan suatu rangkaian pertemuan bagi orang tua anak berkesulitan
belajar dan kepada mereka diberikan
informasi tentang anak berkesulitan belajar dan latihan uuntuk
menanggulanginya. Pedekatan psikoterapetik memusatkan perhatian pada usaha
membantu orang tua memahami konflik keluarga dan gangguan emosional yang
disebabkannya. Menurut Abrams dan Kaslow seperti dikutip oleh Mercer (1979:
104) ada beberapa macam strategi pemberian bantuan bagi anak berkesulitan
belajar seperti dikemukakan berikut ini.
Ø Hanya intervensi pendidikan.
Strategi ini ditujukan kepadaa anak berkesulitan belajar tanpa gangguan emosional,
yang memiliki keluarga stabil dan harmonis
Ø Hanya terapi indiviual.
Strategi ini ditujukan kepda anak berkesulitan belajar yang orang tuanya
memiliki gangguan yang sulit disembuhkan seperti orang tua yang pecandu obat
bius, peminum alkohol, psikotik, atau yang menolak anak.
Ø Bimbingan kelompok orang tua.
Strategi ini untuk orang tua yangbaik,
yang dirasakan akan memperoleh keuntugan dari pertemuan-pertemuan kelompok yang
berupaya memecahkan masalah kesulitan belajar anak-anak mereka.
Ø Terapi indiviual dan tutorial.
Strategi ini untuk anak berkesulitan balajr yang membutuhkan intervensi
akademik yang sistematik dan orang tuanya memiliki gangguan yang sulit
disembuhkan.
Ø Terapi bersamaan anak dan orang tua
dengan pemberian terapi yang berbeda. Strategi ini
digunakan jika pemberian terapi kepada anak dan orang tua secara bersamaan
dapat menimbulkan kecemasan atau perasaan tertekan.
Ø Terapi bersamaan anak dan orang tua
dengan pemberi terapi yang sama. Strategi ini tepat
digunakan jika orang tua dan anak dapat
menjalin interaksi kopertif.
Ø Terapi keluarga yang terdiri dari
anak, orang tua, dan saudara-saudara kandung. Strategi
ini tepat digunakan bagi keluarga yang dapat memecahkan masalah dengan
menciptakan lingkungan sosial yang salinh menunjang atau koperatif.
Strategi
psikoterapetik dapat dipandang sebagai strategi yang cendrung menekankan pada
peran orang tua dalam memecahkan masalah emosional anak, yang memandang perlu
adanya perbaikan keseluruhan lingkungan keluarga.
b.
Program
Latiahan Bagi Orang Tua
Program
ini ditujukan kepada orang tua untuk memperoleh keterampilan mengajar,
berinteraksi, dan mengelola perilaku anak secara efektifdi rumah. Menurut
McDowell seperti dikutip oleh Mercer (1979: 101) ada dua pendekataandalam
program latihan bagi orang tua, yaitu (a) pendekatan komunikasi (communication
approach) dan (b) pendekatan keterlibatan
( involvement approach).
Pendapatan
komunikasi menekankan pada penyelenggaraan komunikasi langsung anatara orang
tua dengan anak, sedangkan pedekatan keterlibatan menekankan pada upaya
pemecahan masalh praktis meluli kerjasama kelompok.
Dinkmeyer
dan Carlson seperti dikutip Mercer (1979: 102) mengembangkan suatu strategi
keterlibatan yang disebut “C-Group” yang mambantu orang tua memecahkan masalah
praktis melalui kerjasama (collaboratioan), konsultasi (consiltation),
klarifikasi (clarifikation), konfrontasi (confrontation), perhatian dan
pengasuhan (concern and alam pendekatan ini orang tua dcaring), kerahasiaan (
confidentiality), dan tanggung jawab (commitment) pada perubahan. Dalam
pendekatan ini arang tua diminta untuk menyajikan masalah-masalah praktis
kepada kelompok dan kemudian mereka mencoba memecahkan masalah sesuai dengan saran yang dikemukakan
oleh keompok.
PENGAJARAN
REMIDI BAHASA
1. Tujuan Pembelajaran Bahasa
Sadar atau tidak sadar, tujuan kita
sebagai guru adalah untuk membuat pandai anak didik atau siswa kita dalam mata
pelajaran yang kita ajarkan. Apabila hal ini kita sadari benar-benar, maka
sudah selayaknya kita pustakakan perhatian kita kepada pembelajar atau dalam
bahasa inggrisnya focus on the leaner. Hal ini kita tegaskan karena
dalam kenyataanna masih ada(bahkan banyak). Pengajaran didalam kelas sadar atau
tidak yang berfokus pada pengajar atau guru, yang dalam bahasa inggrisnya focus
on the theacer.
Apa sebenarnya tujuan pembelajaran
bahasa ? apa sebenarnya tujuan pembelajaran bahasa? dua pertanyaan yang
nampaknya sepele, tetapi jika direnungkan justru menuntut pemikiran yang
mendalam dan luas. Apa sebenarnya yang perlu dipelajari para pembelajar:belajar
menggunakan bahasa (learning to use language)atau menggunakan bahasa untuk
belajar (using language to learn).
Apabila kita sepakat mengatakan bahwa
program-program pengajaran bahasa kita adalah untuk melayani para siswa, maka
seyogianya kita berfokus padakebutuhan pembelajaran kita. Dengan demikian,
analisis kebutuhan memanfaatkan informasi subjektif dan objektif (misalnya data
kuesioner, tes, wawancara, observasi) dan berupaya memperoleh informasi
mengenai:
a) Situasi
tempat suatu bahasa akan digunakan ( termasuk siapa yang memakainya dengan
siapa)
b) Maksud
dan tujuan pemakaian bahasa
c) Tipe
komunikasi yang akan digunakan ( misalnya tertulis, lisan, formal, informal).
d) Tingkat
kemahiran/kecakapan yang diinginkan ( Richards, platt dan weber , 1987:189).
Dewasa ini, ada semacam pengakuan umum
bahwa tujuan instruksional hendaknya mencerminkan tujuan akhir menggunakan
bahasa oleh pembelajar, dan bahwa tujuan tersebut dapat diketahui mlalui
analisis kebutuhan ( Bagshaw & Bridley 1984). Karya-karya Richterich (1972,
1975), Munby (1978), dan Van Ek (1975) telah meratakan jalan dalam pengembangan
prosedur bagi penentuan kebutuhan pembelajar secara sisitematis dan penggunaan
informasi yang diperoleh dalam pengembangan tujuan dan silabus bagi suatu
program bahasa.
Asumsi yang mendasari sejumlah upaya
untuk menggunakan analisis kebutuhan untuk mencapai sesuatu pada pengajaran
ialah bahwa prosedur-prosedur analisis kebutuhan akan memudahkan kita untuk
mengkhususkan diri secara lebih akurat pada jenis-jenis bahasa yang dibutuhkan
oleh para pembelajar. Pada umumnya, dinyatakan sebagai kesatuan dasar bahasa,
yang penguasaannya akan terlihat pada kompetensi linguistic dan kompetensi
komunikatif. Sebagai contoh, new York state core curriculum for English as a
second language in the secondary schools (university of the state of new York
1983) telah berupaya dan berhasil menetapkan isi bahasa (language content )
yang diperlukan bagi “limited English proficient student [to] attain
communicative and linguistic competence”. Dengan kata lain, bagi para siswa
yang kepandaiannya pada taraf “sekian”, harus menguasai kompetensi komunikatif
dan kompetensi linguistik dengan taraf “sekian”, jadi terdapat keserasianantara
kepandaian dan kompetensi. Kurikulum tersebut mendaftarkan berbagai tujuan bagi
menyimak, berbicara, membaca,menulis, dan kebudayaan pada empat tingkatan
pengajaran dan menentukan keterampilan menyimak dan berbicara, struktur
gramatikal, kosakata, keterampilan membaca, menulis, dan topic-topik cultural
bagi setiap tingkat.
Jenis pendekatan pengembangan kurikulum
seperti ini memang merupakan sesuatu yang jelas dan masuk akal, dan diharapkan
memberikan suatu dasar bagi pembelajaran dalam bidang-bidang isi (content
areas) dan dalam bidang-bidang tertentu. Focus kurikulum yang seperti itu dapat
dirangkum sebagai learning to use language atau belajar menggunakan
bahasa. hal ini mencerminkan suatu falsafah umum yang mendasari sejumlah
program pengajaran bahasa, sebagai dasar bagi prestasi akademik. Kita dapat mengacu hal seperti ini sebagai
pendekatan keterampilan berbahasa atau language skill approach. Cirri-ciri
pendekatan keterampilan berbahasa tersebut adalah :
a) Kebutuhan
pembelajar dibatasi berdasarkan bahasa dan keterampilan berbahasa
b) Ada
focus pada kompetensi linguistik dan kompetensi komunikatif
c) Penguasaan
bahasa dilihat sebagai kunci kerah pembelajaran isi dan kerah prestasi akademik
d) Ada
pemisahan antara pembelajaran bahasa dan pembelajaran isi
Menurut pendekatan ini agar kita dapat
bergerak maju dan berhasil dalam system sekolah reguler maka yang dibutuhkan
oleh pembelajaran bahasa ( lebih-lebih bahasa kedua tau B2 ) adalah pengajaran
bahasa yang lebih lanjut. Para pembelajar harus mempunyai kemahiran dan
keterampilan berbahasa.
Kurangnya atau rendahnya kemahiran atau
kefasihan berbahasa merupakan alasan utama bagi kegagalan akademik para (maha)
golongan minoritas bahasa. akan tetapi, apabila para (maha) siswa telah fasih
atau mahir berbahasa, maka mereka dapat dilibatkan dalam program bahasa
menyeluruh selama keterbatasan kemahiran berbahasanya tidak mengganggu kemajuan
akademik mereka (Cummins, 1981 :4). Hal ini terasa bagi para (maha) siswa kita
yang pernah belajar diluar negeri, misalnya dinegeri Belanda dengan bahasa
Belandanya, diJerman dengan bahasa Jerman, di amerika serikat, kanada,
Australia, dan selandia baru dengan bahaa inggris, dirusia dengan bahasa rusia,
dijepang dengan bahasa jepang, dan lain-lain.
Walaupun secara logika intutif
pendekatan ini dapat diterima, tetap timbul keprihatinan bahwa pendekatan
keterampilan berbahasa hanya mencerminkan sebagian dari keseluruhan kebutuhan
para pembelajar. Apalagi kalau kita ingat bahwa paling sedikit terdapat empat
tipe pembelajar yaitu:
a. Pembelajar
: konkret atau concrete learner: para pembelajar tipe ini lebih suka belajar
dengan permainan, gambar, film dan video, berbicara berpasangan, belajar
melalui penggunanaan kaset dan pergi berdarmawisata atau mengadakan ekskursi.
b. Pembelajar
: analitis atau analytical learners: Para pembelajar yang suka menelaah tata
bahasa, menelaah buku-buku bahasa (Inggris, Indonesia, dan lain-lain),
mengadakan studi sendiri, menemui kesalahan diri sendiri, mencari atau mungkin
dengan kebutuhan pembelajaran siswa dalam kelas-kelas pelajaran pokok mereka.
c. Porsi
pelajaran bahasa sasaran yang berfokus pada pola-pola structural, terutama
mengenai morfologi, tampaknya sedikit sekali member sumbangan terhadap upaya
mempertemukan kebutuhan akademik langsung para siswa (Saville-Troike, 1984:
216).
Saville-Troike menyimpulkan bahwa
program bahasa Inggris sebagai bahasa kedua kerapkali mengajarkan bahasa Inggris
sebagai “tujuan akhir’’ dan bukan sebagai “sarana mencapai tujuan’’. Para
peneliti terlalu sering berfokus pada cara pembelajar mempelajari bahasa
Inggris, bukan pada bagaimana cara pembelajar belajar menggunakan menggunakan
bahasa Inggis sebagai sarana pembelajaran (cf. Richards 1985). Konklusi ini
tidak akan mengejutkan kita, karena bila kita meneliti kurikulum dan
bahan-bahannya berdasarkan pendekatan keterampilan berbahasa atau language-skill
approach, kita melihat bahwa bahasa seringkali diajarkan sebagai “tujuan’’
dan bukan sebagai “sarana’’ pembelajaran. Kurikulum yang seperti itu dapat
mempengaruhi para pembelajaran kita karena mereka gagal memfokuskan diri pada
jenis-jenis pembelajaran yang ditemui para siswa dalam kelas-kelas reguler.
Mengenai hal itu, Mohan (1985: 1) pernah
mengemukakan bahwa “setiap pendekatan pendidikan yang mempertimbangkan
pembelajaran bahasa saja dan mengabaikan pokok bahasan tidak akan sesuai dengan
kebutuhan para pembelajar. Yang justru diperlukan adalah suatu pendekatan
integrative yang menghubungkan pembelajaran bahasa dan pembelajaran isi,
memperlakukan bahasa sebagai media pembelajaran, dan mengakui peranan konteks
dalam komunikasi’’. Fokus kurikulum yang seperti itu adalah pada using
language to learn dan bukan pada learning to use language. Richards
(1985) mengacu kurikulum seperti ini sebagai sebagai proficiency-based
curriculum atau kurikulum yang berdasarkan kemahiran, yaitu kurikulum yang
memperlakukan pembelajaran bahasa sebagai bawahan dari jenis-jenis tujuanyang
menegaskan bahwa para pembelajar perlu menggunakan bahasa dalam dunia nyata.
Dalam program bahasa Inggis sebagai bahasa kedua yang dirancang bangun untuk
membantu para pembelajar memasuki sistem sekalah reguler, fokusnya tertuju pada
jenis-jenis tugas kognitif dan instruksional serta kegiatan yang ditemui oleh
para pembelajar dalam kelas-kelas isi(pokok bahasan) mereka.
Ciri-ciri dari
pendekatan yang berdasarkan kemahiran atau proficiency-based approach dalam
pengajaran bahasa di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah adalah:
a) Kebutuhan
pembelajaran dibatasi berdasarkan tugas dan kegiatan yang memberi cirri kepada
pembelajaran dalam bidang-bidang isi (pokok bahasan);
b) Pembelajaran bahasa dipandang dari segi
kemahiran, yaitu sebagai keterampilan yang diperlukan untuk menggunakan bahasa
bagi berbagai tujuan pendidikan;
c) Adanya
integrasi pembelajaran bahasa dan pembelajaran isi.
Sebagai rangkuman pembicaraan terdahulu,
marilah kita perhatikan gambar 6.1 berikut ini.
Titik tolak bagi perkembangan kurikulum
bahasa berdasarkan kemahiran pada tingkat sekolah dasar atau menengah adalah
analisis mengenai bentuk dan isi pembelajaran serta pengajaran dalam kurikulum.
Untuk membuat analisis kebutuhan seperti itu, maka dibutuhkan suatu upaya
kolaboratif yang melibatkan para guru bahasa sasaran, para guru pokok bahasan
atau isi, dan para pembelajar bahasa sasaran. Marilah kita tinjau tujuan,
prosedur, aplikasi, dan contoh untuk menyelesaikan analisis yang
dimaksudkan itu.
Tujuan .
Tujuan utama analisis kebutuhan dalam kurikulum yang berdasarkan kemahiran
adalah untuk mengenali hakikat pembelajaran dan pengajaran dalam bidang isi
dengan jalan mengenali tugas dan kegiatan-kegiatan yang diperlukan para
pembelajar, yang harus diselesaikan oleh para pembelajar serta keterampilan
yang dibutuhkan atau dituntut oleh tugas tersebut. Oleh karena itu, fokusnya
diarahkan pada berbagai ragam isi kurikulum, seperti tuntutan
kognitif,linguistik,dan instruksional dari tugas serta kegiatan tersebut.
Prosedur. Kendala-kendala
yang terdapat dalam pengenalan kebutahan pembelajar dalam bidang isi ini
hendaknya tidak terlalu diremehkan. Anialisis kebutuhan akan menjadi lebih
mudah dalam situasi-situasi tempat kurikulum inti tertentu dapat diikuti,
dibandingkan dengan situasi yang di dalamnya para pembelajar dapat memilih
kursus-kursus atau pelajaran-pelajaran dari mata pelajaran fakultatif yang luas
dan bertingkat. Dalam hal yang terakhir ini, informasi yang kurang khusus dan
dapat digeneralisasikan dalam bidang isi adalah fokus bagi pengumpulan data.
Berbagai prosedur dapat ditempuh dalam melaksanakan suatu analisis kebutuhan
antara lain:
a) Survey
kepustakaan: banyak sekali kepustakaan yang ada
mengenai bahasa dan pembelajaran yang berkaitan dengan kurikulum, misalnya
Herber (1979) memperkenalkan keterampilan berbahasa dalam bidang isi tertentu;
Mohan (1986) memperkenalkan skemata kognitif dalam bidang isi;
b) Wawancara
dengan para guru bidang isi: para guru dapat diwawancarai
untuk menentukan apa yang mereka anggap sebagai konsep utama dan keterampilan
kognitif yang perlu dikuasai oleh para pembelajar demi keberhasilannya dalam
bidang pokok mereka, untuk menentukan persepsi mereka mengenai masalah yang
dihadapi oleh para siswa bahasa sasaran dalam kelas mereka, dan untuk
memperoleh informasi mengenai gaya pengajaran khas yang mereka gunakan di dalam
kelas mereka;
c) Wawancara
dengan para pembelajar: para pembelajar yang telah
menyelesaikan pengajaran bahasa sasaran dan berada pada tingkatan yang berbeda
dalam kurikulum sekolah reguler dapat diwawancarai untuk menentukan persepsi
mereka mengenai kesulitan yang terdapat dalam berbagai pokok isi;
d) Analisis
isi buku-buku teks; analisis buku teks dapat memberikan
suatu dasar penilaian isi konseptual dan isi linguistik buku-buku teks dan
skemata konseptual serta skema pembelajaran yang dikandungnya.
e) Analisis
kurikulum dan penugasan kelas;
f) Analisis
ujian dan protokol-protokol ujian;
g) Observasi
kelas: Saville-Troike (1984) melaporkan bahwa ada dua jenis
kegiatan pedagogik yang diobservasikan dalam kelas isi, yang merupakan masalah
khusus bagi para pembelajar bahasa kedua yaitu: teacher-to-whole-class-participant-stucture
(kelas diberi pembicaraan dan bacaan sebagai suatu keseluruhan ) dan fully
independent participant structure (para siswa diberi instruksi atau
pengajaran tertulis atau lisan yang diadakan tanpa interaksi tambahan dengan
orang dewasa atau teman sebaya;
h) study
kasus: studi longitudional terhadap para pencapai sukses
yang tinggi dan para pencapai keberhasilan yang bertaraf rendah dapat digunakan
untuk membangun atau membentuk profil kategori pembelajar yang beraneka ragam;
i)
konsultasi dengan para pakar dalam bidang
hubungan bahasa dan kurikulum.
Penerapan. Prosedur seperti di atas
tentu menurunkan berbagai jenis data, yang beberapa di antaranya bersifat
impresionistik dan subjektif, beberapa lagi bersifat objektif dan dapat
dihitung. Akan tetapi, semua itu secara potensial dapat digunakan dalam
mengembangkan atau mengevaluasi kurikulum
B2 yang dirancang untuk mempersiapkan para siswa masuk ke dalam kelas sekolah
menengah reguler. Analisis mengenai informasi yang tersedia atau diperoleh untuk membantu kita mengenai
isi dan keterampilan yang mendasari prestasi dalam bidang isi serta
mengembangkan suatu pendekatan kea rah persiapanpara pembelajar B2 untuk
keterampilan tersebutjuga isi pelajarannya. Hal itu juga memudahkan kita
mengevaluasi maksud dan tujuan kurikulum kita yang bergerak ke arah sana.
Contoh.
Sebuah contoh pendekatan yang baik untuk mengembangkan kurikulum B2 yang lebih
berfokus pada learning through English dibandingkan learning English telah
dikemukakan dalam karya Mohan (1986). Dia menyajikan suatu pengorganisasian
kerangka kerja bagi pengajaran bahasa yang berkaitan dengan kurikulum yang
terdiri atas proses-proses berikut ini.
a) Mengembangkan
suatu pengorganisasian kerangka kerja bahasa dan keterampilan berfikir di
seberang kurikulum
b) Meningkatkan
komunikasi pokok bahasan…
c) Menentukan
strategi-strategi bagi pengembangan keterampilan berfikir dalam kerangka kerja
umum ini.
Berpusat pada suatu topic dan perluasan
urutan kegiatan di sekitar atau topik itu yang melibatkan pengetahuan praktis
dan teoritis. Dia mengilustrasikan betapa topik-topik yang ditarik dari bidang
isi dapat digunakan sebagai dasar bagi kegiatan kelas yang dirancang untuk
mengnintegrasika pembelajaran pemahaman
terhadap pokok bahasan.
Karya Tikunoff (1985) dalam bidang
pendidikan kedwibahasaan memberikan contoh lain mengenai bagaimana caranya
pengajaran isi dan pengajaran bahasa dapat diintegrasikan. Dia menggolongkan
siswa yang dapat berpartisipasi secara efektif dalam pengajaran kelas dalam
bahasa Inggris sebagai kecakapan serta fungsional atau functionally
proficient. beliau memberikan tiga komponen kecakapan fungsional siswa
(1985: 4) sebagai berikut:
a) Kompetensi
partisipasi atau participative competencei kemampuan beresponsi secara memadai
terhadap tuntutan tugas-tugas kelas terhadap kaidah-kaidah procedural untuk
menyelesaikannya.
b) Kompetensi
interaksional atau interactional competence: kemapuan beresponsi
secara memadai terhadap kaidah wacana
sosial, berinteraksi secara memadai dengan teman-tema sebaya ataupun
orang-orang yang dewasa sementara menyelesaikan tugas-tugas kelas.
c) Kompetensi
akademik atau academic competence: kemampuan memperoleh keterampilan baru,
mengasirailasikan informasi baru, dan membangun atau membentuk konsep baru.
Tikunoof
berpendapat bahwa tujuan pengajaran bagi para siswa yang mempelajari
kemahiran ini hendaknya untuk mengembangkan kompetensi-kompetensi tersebut
dalam diri para pembelajar, dan beliau mendiskusikannya dalam sejumlah
kemungkinan strategi dan prosedur. Brown, Anderson, Shillock, dan Yule (1948)
menyajikan suatu rasionalisasi yang terinci bagi suatu pendekatan yang berbeda
untuk mengembangkan keterampilan lisan yang diperlukan untuk pembelajaran
kelas. Mereka mengemukakan suatu taksonomi tugas-tugas bertingkat yang dapat
digunakan untukmengembangkan informasi yang berhubungan dengan penggunaan
bahasa. tugas-tugas mereka mengacu kepada kesenjangan informasi kegiatan yang
merupakan tempat para pembelajar bekerja berpasang-pasangan, satu orang pembelajar
menggunakan menggunakan informasi tersebut untuk maksud tertentu. Tugas-tugas
yang melibatkan seorang siswa menggunakan isyarat-isyarat visual seperti itu,
menginstruksikan yang lainnya untuk:
a) Memasang
suatu alat
b) Menyelesaikan
suatu pola atau diagram
c) Mengikuti
suatu rute pada peta
d) Menyusun
seperangkat objek dalam konfigurasi tertentu
Tugas-tugas diklasifikasikan sesuai
dengan tuntutan kognitif danlinguistik yang mereka buat dan digunakan sebagai
dasar bagi kegiatan lisan suplementer reguler.
Beberapa pendekatan karenanya telah
disusun dan diajukan sebagai dasar bagi pengembangan strategi pedagogik yang
menghubungkan pembelajaran isi dan pembelajaran bahasa. suatu upaya bersama
kini diperlukan untuk menentukan atau memperhitungkan konsekuensi praktis pendekatan
tersebut dan untuk mengumpulkan informasi mengenai keefektifannya dalam konteks
dan dalam hubungan pembelajaran yang beraneka ragam serta berbeda-beda.
C. CIRI-CIRI PEMBELAJAR BAHASA IDEAL.
Kurikulum bahasa (terlebih B2) yang
berfokus pada using language to learn mengimplikasikan pendekatan yang
berbeda terhadap analisis kebutuhan, bila dibandingkan dengan kurikulum lain
yang dibangun berdasarkan learning to use language. Dia mengarah kepada
penyambungan aneka tujuan program yang berbeda dan pendekatan yang berbeda
terhadap penentuan segala sesuatu yang termasuk ke dalam kurikulum itu. Oleh
karena pembicaraan di atas telas berfokus terutama pada hal-hal yang menentukan
isi atau bobot kurikulum itu, maka kini kita mempertimbangkan dan meneliti
bagaimana caranya dapat melibatkan para pembelajar dalam proses tersebut.
Melalui bagaimana caranya dapat pula menentukan prosedur dan strategi
pembelajar dan peranan yang dapat dimainkan oleh telaah strategi pembelajar
dalam pengembangan metodologi kelas. Akan tetapi, sebelumnya kita akan
mempertimbangkan asumsi-asumsi yang mendasari sejumlah praktik pengajaran
mutlak.
Metodologi atau metode dalam pengajaran
bahasa terdiri atas seperangkat teknik penyajian, praktik, dan pengujian
keterampilan bahasa, yang diturunkan dari suatu teori tertentu mengenai hakikat
kemahiran berbahasa dan dari suatu rancungan instruksional
tertentu,
yang diturunkan dari asumsi-asumsi teoritis tersebut. Jadi, tekhnik-tekhnik
kelas yang dipergunakan oleh guru mencerminkan falsafah yang mendasari metode
yang dianutnya (paling sedikit, dalam teori). Seorang guru yang mengikuti
metodelogi komunikatif, misalnya akan cenderung menggunakan “kegiatan berbicara
interaktif yang berdasarkan kefasihan/kelancaran”, barangkali menggunakan kerja
pasangan dan kegiatan berdasarkan tugas yang melibatkan suatu kesenjangan
informasi atau information-gap. Seorang
guru pendekatan alamiah akan mengadakan kegiatan yang menuntut pemahaman bermakna
dan memungkinkan kegiatan berbicara dikembangkan secara bertahap. Seorang guru
cara diam (silent way) akan menuntut ucapan dan tata bahasa yang baik dan benar
serta akan menggunakan berbagai objek dan kartu untuk mendatangkan atau
menghasilkan produksi yang baik, sedangkan guru yang menerapkan response fisik
total akan menunda kebutuhan/keperluan untuk berbicara dan sejak awal
mengkonsentrasikan diri pada kegiatan yang berdasarkan tindakan yang menuntut
response fisik, tetapi kerap kali juga responsi nonverbal dari para pembelajar.
Pada setiap contoh diatas, kita mencatat
bahwa metodelogi adalah aplikasi suatu rancang bangun intruksional dan falsafah
intruksional tertentu atau teori mengendalikan praktik. Sang pembelajar masuk
kedalam pertimbangan sebagai suatu aspek system antaran, system kiriman, dan
penerima teknologi pendidikan yang
merupakan aplikasi falsafah pendidikan perseorangan atau linguistik tertentu
ataupun teori psikolinguistik tertentu. Bahkan apa yang disebut learner centred
atau pendekatan humanistik justru falsafah pembelajaran dan pengajaran yang
dianut oleh sang gurulah yang dominan, dan para pembelajar diharapkan
memasukkan diri mereka kedalam tanpa ragu-ragu. Inilah yang disebut sebagai
pendekatan atas bawah atau top-down approach dalam pengajaran bahasa.
Dalam tahun terakhir ini para pendidik
beralih kepada suatu sumber kebijakan pilihan dalam pengembangan metode
pengajaran, yaitu para pembelajar sendiri. Terdorong oleh kesadaran bahwa
pembelajar dapat menggntikan dan memajukan metode serta teknik, bukan
sebaliknya. Maka dari itu, para penelitipun melihat secara lebih dekat lagi
para pembelajar dalam upaya menemukan bagaimana caranya para pembelajar
berhasil mencapai keberhasilan mereka. Wenden member komentar bahwa dari sudut
pandangan ini, sang pembelajar dilihat sebagai individu yang aktif dan dapat
menentukan sendiri dan memproses informasi dengan cara yang rumit bahkan
kadang-kadang idiosinkratik (aneh), yang jarang dapat diramalkan atau
diperkirakan terlebih dahulu. Oleh karena itu, tujuan penelitian adalah
menemukan apa yang dapat dilakukan oleh para pembelajar aktif dan dapat
menentukan sendiri untuk membantu diri mereka mempelajari bahasa kedua.
Berbagai studi mengenai strategi
pembelajar telah difokuskan berbagai operasi, proses, prosedur, dan heuristic
yang diterapkan oleh para pembelajar pada tugas pembelajaran bahasa kedua.
Rubin membedakan antara strategi yang secara langsung mempengaruhi
pembelajaran, seperti swapantau, memorisasi, atau praktik/latihan, dan yang
secara tidak langsung memberikan sumbangan kepada pembelajaran, seperti mencari
kesempatan untuk berbicara, dengan penutur asli, sehingga memperoleh
pengetahuan bahasa sasaran. Strategi-strategi ini dapat dilakukan secara sadar
dan tidak sadar. Beberapa diantaranya memberikan cirri kepada perangkata pembelajar,
atau pendekatan kearah pembelajaran bahasa kedua secara umu, sedangkan yang
lainnya menerapkan pada jenis masalah pembelajaran bahasa tertentu. Dalam
kategori yang pertama, terdapat laporan kategori-kategori yang digunakan oleh
para pembelajar bahasa yang berhasil, dalam katgori khusus telah
diperkenalkan/dikaji berdasarkan wawancara dan obserasi terhadap para
pembelajar yang baik.
Jones merangkum beberapa strategi yang
ada hubungannya dengan para pembelajar, yang berhasil dalam studi tersebut.
1. Valuing : menghargai budaya, bahasa, dan penuturnya
2. Planning :
memikirkan kebutuhan bahasa dan memenuhinya
3. Evaluating : selalu meningkatkan proses
pembelajaran
4. Monitoring : memantau semua faset
bahasanya/ orang lain
5. Internalizing : tahu apa yang akan dipelajari
dan melakukannya dengan baik
6. Hipotesising : mempunyai hipotesis dan dapan mentesnya
7. Rehearsing : selalu berlatih agar dapat
berbicara dengan orang lain
8. Communicating : selalu mencari kesempatan untuk
berkomunikasi
9. Persisting : selalu mencoba, kalau
perlu denaga cara lain, agar berhasil
10. Risktaking : tidak takut berbuat salah
dalam berkomunikasi
11. Practicing : selalu tekun berlatih
12. Inferenching : dapat meramalkan/ menarik
kesimpulan
13. Attending
to meaning: selalu mencari makna kata, frase, dll
14. Attending
to form : menaruh perhatian pada
pola bahasa
15. Absorbing : dapat membenamkan diri
kedalam bahasa target
16. Etc
dan lain-lain
Informasi seperti ini sangat berguna
dalam/untuk memperluas pengertian kita mengenai pembelajaran B2 yang sukses dan
dapat dipakai sebagai dasar bagi pengembangan kegiatan-kegiatan yang dirancang
untuk meningkatkan kesadaran pembelajar dan mengontrol gaya belajarnya
sendiri(cf.Willing,1985). Akan tetapi, untuk memberikan informasi yang dapat
diterapkan secara langsung pada pengajaran, perlu dilengkapi dengan studi-studi
mengenai strategi-strategi yang diterapkan oleh para pembelajar, yang berhasil
didalam konteks sekolah dan dalam hubungannya dengan tugas-tugas pembelajaran
khusus. Berdasarakan persfektif ini, ada beberapa pertanyaan yang dapat
diajukan, antara lain:
1. Strategi
pembuatan catatan apa yang benar-benar efektif dilakukan oleh para penyimak
selama ceramah?
2. Teknik
dasar apa saja yang digunakan oleh para pembaca efisien pada saat membaca
buku-buku teks?
3. Prosedur
pengumpulan informasi apa saja yang digunakan oleh para siswa, yang secara
konsisten memperoleh angka yang baik
pada tugas-tugas studi sosial?
4. Bagaimanakah
caranya para pembaca yang baik mengenai tugas-tugas pembacaan yang sulit,
bagaimana strategi mereka (dapat) berbeda
dari yang digunakan oleh para pembaca yang kurang efektif.
5. Proses
penilaian apa saja yang digunakan oleh para penulis yang terampil?
6. Strategi
pengerjaan ujian apa saja yang digunakan oleh para siswa yang sukses?
Jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan
serupa itu akan memberikan informasi yang dapat secara langsung
menginformasikan metodologi pengajaran kita. Sekarang ada baiknya kita meneliti
beberapa cara untuk memperoleh informasi yang seperti itu dan penggunaan yang
dapat dibuat.
Para pengajar dan peneliti telah
mengembangkan sejumlah pendekatan bagi pengumpulan jenis-jenis data tersebut
yang mencakup
a) Wawancara
:para pembelajar diwawancarai sesudah menyelesaikan suatu tugas, untuk melihat
apakah mereka dapat mengingat kembali strategi yang mereka gunakan untuk
menyelesaikan tugas tersebut; para pengajar dapat pula diwawancarai untuk
memperoleh informasi mengenai mengenai strategi yang digunakan oleh para
pembelajar.
b) Kuesioner:
para pembelajar dapat diberi koesioner yang mengandung berbagai jenis strategi,
dan diminta untuk menyatakan yang mana yang akan mereka pilih untuk
menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran khusus.
c) Telaah
berbicara-nyaring: para pembelajar dapat dilatih untuk menceritakan proses
pikiran mereka pada mikrofon sambil menyelesaikan suatu tugas. Missal, seorang
pembelajar dapat menceritakan/melisankan pikirannya dan heuristik mentalnya apabila dia menemui suatu bagian
yang sulit dalam bahasa bacaan
Observasi: para siswa mungkin
diobservasi sambil melakukan tugas-tugas di kelas atau di dalam laboratorium.
Sebagai contoh, suatu rekaman video
mengenai seorang siswa yang sedang menyelesaikan tugas membaca atau menulis
yang memuat informasi yang berkenaan dengan gerakan mata, istirahat dan
revisi-revisi direkam untuk analisis selanjutnya. Pembelajar mungkin
diwawancarai sesudah itu sambil video diputar dan diminta untuk memperhatikan
segala sesuatu yang terjadi.
Aplikasi atau penerapan:
informasi-informasi yang diperoleh dari studi-studi seperti ini dapat digunakan
untuk mengembangkan strategi yang lebih efektif baik bagi para pengajar ataupun
para pembelajar. Para pembelajar yang
menggunakan strategi yang tidak efisien dapat dilatih dan menggantinya dengan
yang lebih efektif .sekali mereka terlatih secara tepat dan memadai, anak-anak
tersebut telah dapat menggunakan strategi untuk menaikkan atau mengangkat
tingkat performasi mereka sampai pada tingkat pembelajaran orang dewasa yang
tidak terlatih, tetapi normal dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik
tertentu. Latihan strategi memang efektif untuk meningkatkan performansi para
siswa mengenai beberapa tingkatan membaca dan tugas-tugas memecahkan masalah.
Contoh. Sejumlah kajian telah tersedia
untuk mendemonstrasikan kegunaan praktis riset mengenai strategi pembelajaran.
Studi mengenai bagaimana cara para pembelajar menghadapi (mengadakan pendekatan
terhadap) tugas-tugas membaca, misalnya, telah memberi informasi mengenai
strategi yang digunakan oleh pembaca yang baik dan jelek. Phillips (1875)
menggunakan prosedur think-aloud untuk mengusut atau memeriksa strategi pembaca
dalam menggarap kosakata yang tidak diketahui artinya. Berdasarkan pemberian
para siswanya, pakar wanita yang bernama Phillips ini menemukan bahwa strategi
yang digunakan oleh para pembaca yang efisien, meliputi pengkategorisasian
kata-kata secara gramatikal, penafsiran operasi-operasi gramatikal, dan
pengenalan asal-usul serta akar kata-kata. Contoh lain, terdapat pula dalam
karya Hosendfeld (1984) yang telah menggunakan tehnik-tehnik yang bersamaan
dalam menelaah proses yang digunakan para pembaca B2 jika mereka menemui
kata-kata baru. Dalam sebuah studi lain (Hosenfeld 1977) terdapat perbedaan
antara yang mempunyai skor tinggi dan skor rendah dalam kemahiran membaca yang
telah dites atau diuji; yang berskor tinggi cenderung memahami makna bahan
bacaan, membaca frasa yang lebih banyak, melangkahi kata-kata yang tidak
penting, dan dapat menerka makna kata-kata baru yang belum dikenal dari
konteks; sedangkan yang beskor rendah cenderung kehilangan makna kalimat
setelah mereka membaca sandinya, membaca kata demi kata atau dalam frasa-frasa
singkat, jarang melangkahi kata-kata, dan kembali ke daftar kata, bila mereka
menemui kata-kata baru. Sebagai tambahan, para pembaca yang sukses cenderung
mengenali kategori gramatikal kata-kata, dapat menemukan perbedaan susunan kata
dalam bahasa asing, mengetahui kerabat/asal-usul kata, dan menggunakan glosari
atau daftar kata hanya sebagai upaya terahir (hosenfeld, 1984: 233).
D.
CIRI-CIRI PEMBELAJAR BAHASA YANG TERAMPIL MENULIS
Telaah yang berkenaan bagaimana cara
para pembelajar mengadakan pendekatan terhadap tugas menulis, telah difokuskan
pada keefektifan proses yang digunakan oleh para pembelajar (Raimes 1985). Lapp
(1984) merangkumkan beberapa riset
mengenai perbedaan antara penulis yang terampil dan penulis yang tidak
terampil berkenaan dengan perilaku pengulangan dan prapenulisan (apa yang
dilakukan oleh seseorang penulis sebelum sampai kepada pengawalan/permulaan
menulis), pembuatan draff/naskah isi dan proses penulisan (bagaimana penulis
menyusun secara actual bagian penulisanya), dan perilaku perevisian (revisi dan
koreksi, perubahan dan perbaikan yang dibuat oleh penulis) sebagai berikut ini.
1.
Perilaku pengulangan dan prapenulisan
Penulis
yang terampil:
a)
menggunakan waktu berfikir mengenai tugas dan merencanakan bagaimana cara
pendekatan terhadapnya; mengumpulkan dan
menata informasi;
b)
mempunyai berbagai jenis strstegi atau siasat untuk menolong mereka, misalnya
pembuatan catatan, membaca, dan membuat daftar-daftar.
Penulisan tidak
terampil:
a)
menggunakan sedikit waktu untuk perencanaan;
b)
mungkin mulai kebingungan tentang tugas;
c)
mempunyai sedikit strategi perencanaan dan pengorganisasian yang tersedia.
2.
Perilaku pembuaan daftar draff dan penulisan
Penulisan yang terampil:
a)
menggunakan informasi dan gagasan-gagasan yang diturunkan dari pengulangan
untuk menggerakan tulisan;
b)
memerlukan waktu untuk menbuat gagasan-gagasan yang berkembang;
c)
merekam gagasan di atas kertas secara cepat dan lancer;
d)
mempunyai sumber daya bahasa yang tersedia secara memuaskan (misalnyatata
bahasa, kosakata) untuk memudahkan mereka mudah berkonsentrasi pada makna dari
pada bentuk;
e)
menyediakan dan menggunakan waktu untuk meninjau kembali apa yang mereka tulis
untuk memberi kesempatan kepada tulisan mereka untuk memancing dan mencetuskan
gagasan-gagasan baru;
f)
meninjau kembali pada kalimat dan
tingkatan paragraph;
g)
mengetahui bagaimana cara menggunakan review atau peninjauan kembali untuk
memecahkan masalah-masalah penyusunan tulisan;
h)
menggunakan peninjauan kembali sebagai sarana untuk memancing atau mecetuskan
perencanaan;
i)
mengacu kembali pada pengulangan data untuk memelihara/ mempertahankan focus
dan memancing penulisan selanjutnya;
j)
mengarahkan perhatian terutama pada tingkatan-tingkatan makna yang lebih
tinggi.
Penulisan
yang tidak terampil:
a)
memulai pekerjaan tugas dengan segera;
b)
mengacu pada tugas atau topik untuk menggerakan atau mencetuskan tulisan;
c)
mempunyai sumber daya bahasa yang tersedia secara terbatas dan karena itu
secara cepat memerhatikan masalah-masalah bahasa;
d)
menggunakan sedikit waktu untuk meninjau kembali apa yang mereka hasilkan;
e)
meninjau hanya bagian-bagian naskah yang singkat;
f)
tidak menggunakan peninjauan kembali untuk memecahkan masalah-masalah
penyusunan tulisan;
g)
tidak mempunyai perhitungan/ penilaian terhadap pengulangan data;
h)
terutama menaruh perhatian pada pemilihan kosakata dan pembentukan/formasi
kalimat.
3. Perilaku Perevisian
Penulisan
yang terampil:
a.
Membuat
lebih sedikit perubahan formal pada tingkatan permulan;
b.
Menggunakan
revisi-revisi dengan tepat untuk menjelasakan makna/arti;
c.
Membuat
revisi-revsi efektif yang mengubah arah dan fokus naskah/teks;
d.
Mengadakan
perbaikan pada semua tataran (leksikal, kalimat, wacana);
e.
Menambah,mengurangi,mengganti,
dan menyusun kembali hal-hal tertentu pada waktu mengadakan revisi;
f.
Meninjau
kembali dan memperbaiki melalui proses penyusunan naskah;
g.
Kerapkali
berhenti dulu untuk meninjau kembali dan merevisin selama penulisan kembali
draft pertama;
h.
Perevisin
tidak menghalangi kemajuan, arah, dan pengawasan proses penilaian;
i.
Tidak
terganggu kebingungan temporer tang timbul selama proses perevisian;
j.
Menggunakan
proses revisi untuk menurunkn isi baru
dan memancing keperluan bagi revisi selanjutnya.
Penulis
yang tidak terampil:
a.
Membuat
banyak perubahan formal pada tingkatan permulaan;
b.
Revisi-revisi
tidak selalu memperjelas makna;
c.
Tidak
membuat revisi-revisi besar dalam pengarahan atau fokus pada teks;
d.
Merevisi
terutama pada tingkatan leksikal dan kalimat;
e.
Tidak
membuat penggunaan penambahan, pengurangan, penggantian, da penyusunan kembali
secara efektif;
f.
Mambuat
kebanyakan revisi hanya selama penulisan draft pertama;
g.
Tidak
ada jeda bagi peninjauan kembali selama penyalinan draft pertama;
h.
Perevisani
turut mempengaruhi proses penyusunan naskah;
i.
Terganggu
oleh kebingungan yang ada kaitannya dengan perevisin sehingga mengurangi
keinginan untuk mengadakan revisi;
j.
Menggunakan
proses perevisian terutama pada tata bahasa, ejan, tanda baca, dan kosakata
yang benar.
Sementara ini, banyak studi-studi
yang mendasarkan temuan-temuan tersebut para penggarapan para penulisan B1,
maka temuan yang sama yang berkaitan dengan para penulis B2 (misalnya Heuring
1984) justru mendorong para guru mengevaluasi strategi pengajaran mereka untuk
menuntukan apakah mereka itu mempromosikan strategi pembelajaran yang efektif
atau tidak efektif pada para pembelajara. Padda umumnya, banyak teknik yang
digunakan dalam pengajaran menulis,seperti perubahan outline atau menulis dari
suatu model retoris, mungkin lebih banyak memberi halangan daripada memberi
dorongan perkembangan keterampilan menulis efektif, karena mereka mengarahkan
perhatian pembelajar pada bentuk dan mekanisme penulisan yang terlalu dini,
serta terlalu cepat dalm proses penulisan itu (Richards, 1988: 12-4).
E.
SARANA PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BERBICARA
Para guru ataau pengajar bahasa
haruslah mengenal KSUPP(P) yang merupakan sarana pembelajaran keterampilan
lisan yang berpusat pada siswa, dengan suatu komponen menulis yang bersifat
fakultatif. Saranan ini dirancang untuk digunakan sewaktu-waktu sepanjang tahu
pengajaran, dan terutama sangat efektif dalam kelas-kelas yang segala disusul
oleh liburan panjang, hari-hari raya, dan peristiwa–peristiwa menarik yang
khusus, seperti periwstiwa-peristiwa olah raga, kegiatan-kegiatan kebudayaan, dan
kejadian-kejadian luar biasa. Selain itu, juga dapat digunakan dalam menantikan
liburan atau peristiwa yang sebelumnya telah dijadwalkan waktunya, atau dalam
mendiskusikan rencanna-rencana yang akan datang, termasuk studi alumni,
jabatan,dan perkawinan.
KSUPP(P) adalah singkatan dari kisahkan, Siapkan, Ulangi, Pakai, Pamerkan, Dan
Pekerjaan Rumah yang disimpan didalam tanda kurung karena bersifat
fakultatif atau pilihan. Dalam bahasa inggris disebut PPRUE(H) sebagai
singkatan dari Present, Prepare, Rehearse,
Use, Exhabit, Dan Homework.berikut ini kita bicarakan satu demi satu secara
singkat fase-fase tersebut dengan tema “sesudah liburan panjang”.
Kisahkan. Seorang pengajar memulai
pelajaran engan suatu pembicaraan singkat. Dalam pembicaraan ini, dia menghubungkannya
dengan pengalaman pribadi, menceritakan di kelas apa yang dilakukannya apa yang
terjadi pada dirinya, dan bagaimana dia merasakan hal itu. Sesudah liburan
panjang, misalnya dia dapat menceritakan, mengisahkan di muka kelas, perjalanan
yang dilakukannya, film yang ditontonnya, atau peristiwa olahraga yang
diikutinya. Guru harus mengisahkan semua ini semenarik mungkin agar memuku para
siswa, dan dia harus membuat pembicaraan pada tingkat yang dapat dipahami oleh
seluruh siswa dikelas. Fase pertama ini berlangsung antara lima menit sampai
sepuluh menit.
Fase kisahkan ini penting karena berbagi alasan. Pertama,
fase ini memberi kemungkinan berbagai model pengisahan, suatu hal yang biasanya
tidak teringat apabila para siswa ditempatkan dalam kerja kelompok tau
pasangan. Kedua, hal ini memberikan kesempatan kepada para siswa untuk
berpraktik menyimak dengan baik, yang merupakan suatu kegiatan yang penting
tetapi kerapkali terbaikan. Kegita, hal ini membatasi topik bagi kelas,
membatasi daerah pembicaraan (perjalanan, film, olahraga,dan lain-lain) dan
kosakata yang diperlukan. Fase ini jaga merupakan suatu cara yang baik untuk
memulai pelajaran kelas karena para siswa tidak dibuat untuk berbicara
langsung, hanya menyimak sesuatu (pengalaman guru sendiri) yang biasanya sangat
menarik bagi mereka.
Siapkan. Setelah seorang pengajar
menyajikan pembicaraannya, mmaka para siswa disuruh mempersiapkan pembicaraan
serupa itu dalam pasangan-pasangan. Pembicaraan ini henaknya berbentuk
percakapan sehari-hari, dan tidak dalam bentuk pembicaraan formal.
Pasangan-pasangan tersebut hendaknya mengemukakan pertanyaan satu sama lain
mengenai liburan mereka, dan menjawabnya sebaik mungkin. Seorang pengajar dapat
menolong mereka di sini dengan cara menulis daftar topik atau
pertanyaan-pertanyaan yang ada kaitannya dengan topik itu di papan tulis. (perjalanan. Apakah kamu mengadakan
perjalanan? Ke mana kamu pergi? Dengan siapa kamu pergi? Di mana kamu
tinggal/menginap? Apa yang kamu lakukan di sana? Menarikkah bagimu perjalanan
itu?dan sebagainya). Para siswa harus didorong untuk tidak menganggap hal ini
sebagai sesuatu yang mekanis, dan hanya merupakan latihan tanya jawab. Oleh
karena itu, hendaknya mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang menarik bagi
mereka sendiri, dan selalu dicoba untuk menjawabnya secara jujur.
Kelancaran atau kefasihan tidak usah
diharapkan selama fase persiapkan ini. Para pembelajar membutuhkan waktu untuk
menyusun jawaban-jawaban mereka dan tidak dapat diharapkan untuk menghasilkan
“draft pertama” ang sempurna. Walaupun tidak secara realistis diharapkan dari
mereka untuk mencatat mengenai bahasa sasaran. Mereka mempunyai banyak hal yang
ingin mereka katakan/ceritakan dan kerapkali mereka lebih mudah
mengeskpresikannya, mula-mula dalam bahsa asli sebelum berahli ke bahasa
sasaran. Mereka harus didorong bekerja bersama-sama untuk sampai pada ekuivalen
bahasa sasaran yang wajar dan berterima pada saat ini. Hal yang penting pada
akhir fase ini adalah setiap pembelajar mempunyai minat perseorangan yang ingin
disampaikan atau katakannya kepada teman-teman lainnya dalam bahasa sasaran.
Peranan pengajar pada fase ini dan pada fase berikutnya adalah untuk
mengedarkannya pada seluruh kelas, menyediakan kosakata dan eskpresi-eskpresi
agar dapat digunakan bila diperlukan. Fase kedua ini berlangsung kira-kira 10
menit.
Ulangi. Apabila para pembelajar
mampu mengeskpresikan diri mereka secara baik dalam bahasa target, maka kelas
pun sudah dapat beralih kepada fase mengulangi. Di sini dibentuklah
kelompok-kelompok yang beranggotaan
tiga, empat, atau lima rang pembelajar, tergantung pada keadaan fisik
kelas dan jumlah pembelajar yang hadir. Secara bergiliran, para pembelajar
secara individual memberi responsi tau jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaaan
mengenai “liburan panjang” mereka. Setiap siswa memperoleh kesempatan untuk
mendengarkan beberapa teman sekelasnya, untuk melatih mengemukakan
pertanyaan-pertanyaan sendiri dan mengemukakan gagasan-gagasannya sendiri.
Setiap kelompok sama, mengembagkan serta menghaluskanpembicaraan mereka dengan
B2 mereka. Fase ini berlangsung sekitar 10 menit, dan sang guru bertindak
sebagai insan sumber, tempat bertanya dan meminta bantuan.
Fase mengulangi ini penting karena
memberi kesempatan kepada para pembelajar menyajikan dan mempraktikkan
pembicara dalam suasana yang santai. Mereka dapat mengoreksi dan di koreksi,
memperbaiki dan diperbaiki oleh teman
sebaya/sekelas mereka. Jenis perbaikan atau koreksi seperti ini sangat berguna
bagi para siswa, dan dalam kenyataannya disambut baik oleh mereka. Koreksi yang
diberikan oleh guru didepan kelas mungkin memalukan para seorang siswa yang
berbuat kesalahan itu dan sama sekali
tidak produktif. Koreksi teman sebaya atau teman sekelas, sebaiknya, lebih
mudah diterima dan karena itu jauh lebih
menguntungkan. Fase pengulangan ini juga mengembangkan pemahanan menyimak,
karena para pembelajar turut terlibat dalam penyimakan yang aktif dan
berorientasi tujuan.
Pakai. Fase ini merupakan suatu
kegiatan campuran. Para siswa disuruh berdiri dan menceritakan liburan
panjangnya dengan siswa sebagai teman. Dalam kelas besar, misalnya, seorang
guru dapt menyuruh setiap siswa itu berbicara dengan paling sedikit 6 orang
siswa lainnya, seorang demi seorang dan tidak dalam kelompok, dan hanya dengan
siswa yang belum berbicara dengan (yaitu, yang bukan termasuk anggota kelompok
siapkan/persiapkan tadi). Suasananya hendaknya beupa suasana minum teh atau
pertemuan sosial. Orang-orang saling menyapa satu sama lain, bertanya mengenai
libutan-liburan mereka, dan terus bergerak berpindah berbicara dengan orang
baru. Sebab para siswa kerapkali tidak menggunakan/mempraktikkan kegiatan
seperti ini dalam kebudayaan asli mereka ( kerena mereka semua berteman dan
mempunyai banyak hal yang akan dikatakan satu sama lain. Mereka kadang-kadang
cendrung menggunakan waktu yang terlalu lama dengan seotrang rekan tertentu.
Hal ini dapat dicegah dengan menentukan waktu tertentu/terbatas pada kegiatan
itu, kataknlh selama 5 menit, dan dengan mengingatkan/menegur para siswa untuk tidak
menggunakan waktu lebih dari satu atau dua menit dengan setiap orang.
Fase keempat ini berguna karena
bersifat alamiah. Hal itu merupakan sesuatu yang serig dilakukan oleh para
siswa bahasa mereka sendiri diluar kelas. Semakin dapat kita membuat kelas kita
menyerupai dunia nyata, maka semakin baik pula kita terlibat (dan kita berjalan
ke sana ke mari, berbicara dengan teman-teman mengenai suatu hal yang sama-sama
disenangai sudah tentu lebih nyata daripada hanya duduk di kursi menghadapi
meja mengerjakan latihan). Masih ada dua keuntungan lain dari fase pakai ini.
Pertama memberi kesempatan kepada para pembelajar menggunakan apa yang mereka
ketahui, sesuatau yang membuat keseluruhan kegiatan berorientasikan tujuan.
Kedua, membuat kelas hidup. Semakin baik para siswa saling mengenal satu sama
lain semakin bagus pula minat mereka da selanjutnua semakin baik pula
pembelajaran bahasa sasaran mereka. Akhirnya, dalam fase ini seorang guru
bergabung dan bekerja sama edngan para siswa di dalam kelas, mengemukakan dan
menjawab pertanyaan-pertanyaan dimana setiap siswa turut aktif.
Pamerka. Fase kelima adalah fase
pamerkan. Di sini kelas bergerak kemabali kepada susunan kursi semula
(diharapkan setip orang dapat melihat anggota kelas lainnya). Seorang guru,
secara acak menyuruh para siswa membicarakan libur panjangnya. Siswa yang
lainnya, seperti halnya sang guru menyimak dan pada saat yang tepat
diperolehkan memberi komentar sarta mengajukan pertanyaan-pertanyaan untk lebih
menjelaskan. Jika waktu mengizinkan (dan fase ini dapat berlangsung seama 20
menit atau lebih sedikit) semua siswa hendakknya mendapat giliran. Jika tidak,
sang guru harus membuat suati catatan yang cermat, untuk menjamin bhwa setiap
siswa pemperoleh giliran yang sama alam masa setahun pembelajaran.
Fase pamerkan ini pun penting. Salah
satunya ialah fase ini memberi kesempatan pada sang guru mendengarkan
pembicaraan bagi setiap siswa dan bagi para siswa dapat mendengarkan komentar
dari guru mereka. Komentar tersebut hendaknya menggarap secara ekskusif.
Komentar tersebut hendaknya menggarap secar eksklusif isi pembicaraan, dan
tidak menggarap bahasa yang digunakan. Para siswa perlu mengetahui bahwa guru
mereka dan teman-teamn sekelas merka mempunyai minat dan perhatian secara
pribadi terhadap kehidpan mereka. Inilah salah satu dari kesempatan seperti
itu. Komentar sang guru sangat penting baik ditinjau dari segi pedegogis maupun
dari segi psikologis. Komentar itu memberikan suatu model yang akurat, dan bila
guru memang terampil dalam menyusun serta menceritakan kembali ucapan-ucapan
para siswanya dengan cara yang santai, maka perbaikan yang dibuatnya tidak
teras bersifat mencaci dan memalukan siswa. Selam fase pamerkan ini bersifat
umum, bersifat publik , dan merupakan kegiatan seluruh kelas, maka fase ini
juga memberi kesempatan kepada para siswa menggarap serta menggunakan daftar
kata bahasa yang lebih formal. Selain fase pertama, kedua ketiga, dan keempat
daftar kata konversasional yang tidak formal digunakan secara alamiah. Fase
kelima ini – justru bersifat publik – menggunakan tingkatan kata bahasa yang
lebih tinggi. Para pembelajar membutuhkan kesempatan menggarap serta
memanfaatkan keduanya itu. Akhirnya, seperti juga halnya dalm fase keempat,
fase ini membawa kelas kembali bersama sebagai suatu keseluruhan, memberi
kesempatan para siswa utuk mencapai tujuan, dan membantu merekan menciptakan
serta memelihara suasana yang hangat, akrab dan menarik yang turut menunjang
pemerolehan bahasa para siswa di dalla latar kelas.
Pekerjaan rumah, ini merupakan fase
menulis yag bersifat fakultarif. Dalam situasi yang menuntut pekerjaan rumah
sebagai suat program yang diperlukan, maka suatu komposisi dapat dirancang
sebagai kegiatan akhir atau sebagi aktivitas puncak. Secara tradisional”apa
yang saya lakukan selama liburan panjang” merupakan suatu tema yang umum di
sekolah-sekolah kita. Hal itu juga dapat kita manfaatkan di sekolah kita.
Setelah para siswa mengikuti seluruh periode sipkn, ulangi, pakai, dan pamerkan
maka memang alangkah baiknya para siswa juga mendapat kesempatan menulis
karangan yang baik.
Sebagai kesimpulan, perlu dijelaskan
dan disadari benar-benar bahwa KSUPP(P) ini adalah sebuah sarana pembelajaran,
dan bukan merupakan suatu pendekatan atau metode. Sarana ini dapat digunakan
dalam setiap program pangajaran bahasa – terutama program pengajaran bahasa
asing – dengan komponen keterampilan bahasa lisan. Sarana ini dapt dipakai
sebagai pelengkap bagi metode yang sedang digunakan. Hal yang perlu diingt
ialah bahwa sarana pembelajaran ini menuntut topik yyang menatik (bagi para
siswa, tidak perlu yang menarik bagi guru), sebab topik yang menarik akan
merangsang para siswa untuk turut berpartisipasi dalam pembelajaran.
(Redfield,1988:
48-51)
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Ada tiga macam sistem penempatan
pelayanan pendidikan luar biasa bagi anak berkesulitan belajr yang paling
banyak dipilih, yaitu sistem pemberian pelayanan dalam bentuk kelas khusus,
ruang sumber, dan kelas reguler. Tiap sistem penempatan memiliki kelebihan
tetapi sekaligus juga kekurangan. Ada berbagai peranan guru bagi anak
berkesulitan belajar yaitu, (1) menyusun rancangan program identifikasi,
asesmen, dan pembelajaran anakberkesulitan belajar; (2) berpatisifasi dalam
penjaringan, asesmen, dan evaluasi; (3) berkonsultasi dengan para ahli yang
terkait dan menginterpretasikan laporan mereka; (4) melaksanakan tes, baik tes
formal maupun tes informal; (5) berpatisipasi dalam penyusunan program
pendidikan individual (PPI); (6)mengimplementasikan PPI; (7) menyelenggarakan
pertemuan dan wawancara dengan orang lain; (8) bekerjasama dengan guru reguler
untuk memahami anak dan menyediakan pembelajaran yang efektif; (9) membantu
anak dalam mengembangkan diri, memperoleh harapan untuk berhasil, dan keyakinan
terhadap kesanggupan mengatasi kesulitan belajar anak. Sadar
atau tidak sadar, tujuan kita sebagai guru adalah untuk membuat pandai anak
didik atau siswa kita dalam mata pelajaran yang kita ajarkan. Apabila hal ini
kita sadari benar-benar, maka sudah selayaknya kita pustakakan perhatian kita
kepada pembelajar atau dalam bahasa inggrisnya focus on the leaner. Hal
ini kita tegaskan karena dalam kenyataanna masih ada(bahkan banyak). Pengajaran
didalam kelas sadar atau tidak yang berfokus pada pengajar atau guru, yang
dalam bahasa inggrisnya focus on the theacer
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul, Rahman.1999. Pendidikan Bagi Anak
Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Tarigan, Hery Guntur & Djago Tarigan. 1988. Pengajaran
Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung: Penerbit Angkasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar