BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Bahasa adalah
sesuatu yang hidup. Sebagai sesuatu yang hidup, ia tentu mengalami
perkembangan.Dan perkembangan berarti perubahan. Perubahan itu terjadi, oleh
karena bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tak pernah lepas dari
segala kegiatan dan gerak manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan
bermasyarakat. Keterikatan dan keterkaitan bahasa dengan manusia itulah yang
mengakibatkan bahasa itu menjadi tidak statis, atau meminjam istilah Chaer
(1994:53) bahwa bahasa itu dinamis.
Kecenderungan studi bahasa yang memisahkan bahasa
dengan dimensi pemakai dan pemakaiannya (konteks sosialnya) inilah yang
kemudian mengilhami lahirnya pendekatan baru dalam studi bahasa yaitu
sosiolinguistik. Dalam hal ini, objek studi bahasa dalam pandangan
sosiolingustik bukan hanya semata dilihat dari sistem atau kaidah-kaidah bahasa
itu, melainkan juga pada konteks dan komunikatifnya. Sejalan dengan ini Tallei
(1997) menyatakan bahwa bahasa tidaklah digunakan dalam bentuk kalimat yang
terisolasi, melainkan dalam situasi nyata yang dilatarbelakangi oleh konteks
dan digunakan untuk tujuan berkomunikasi.
Sehingga dengan demikian objek studi bahasa dalam
perspektif sosioliguistik adalah parole (dalam konsep Saussure,1916),
atau performansi (dalam konsep Chomsky). Konsep-konsep parole dan performansi
itu diabstraksi dari bahasa yang benar-benar digunakan secara aktual. Setiap
orang akan menghasilkan parole dan performance secara berbeda.
Dari perbedaan itulah kemudian dikenal variasi bahasa.
1.2 Rumusan Masalah
Untuk mempermudah
penyelesaian masalah diatas kami membuat beberapa rumusan masalah.
a. Apa yang dimaksud dengan Hakikat Bahasa dan
Fungsi-Fungsi Bahasa ?
b. Apa yang dimaksud dengan Hakikat Komunikasi ?
c. Apa yang dimaksud dengan Komunikasi Bahasa dan
Keistimewaan Komunikasi Bahasa ?
1.3 Tujuan
Adapun hal-hal yang ingin di capai
dalam makalah ini adalah :
a. Mengetahui dan memahami yang dimaksud dengan Hakikat Bahasa dan Fungsi-Fungsi Bahasa
b. Mengetahui dan memahami tentang Hakikat Komunikasi
c. Mengetahui dan memahami tentang Komunikasi Bahasa dan Keistimewaan Komunikasi Bahasa
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Hakikat Bahasa
Ciri-Ciri yang merupakan hakikat bahasa itu antara lain
adalah bahwa bahasa itu sebuah system lambing,berupa bunyi,bersifat
arbitrer,produktif,dinamis,beragam
Dan manusiawi. Berikut dibicarakn cirri-ciri tersebut
secara singkat.
Bahasa adalah sebuah system artinya bahasa itu dibentuk
oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan.Sebagai
sebuah system ,bahasa selain bersifat sistematis juga bersifat sistemis.Dengan
Sistematis maksudnya,bahasa itu tersusun menurut suatu pola tertentu,tidak
tersusun secara acak atau sembarangan . Sedangakan Sistemis, artinya system
bahasa itu bukan merupakan sebuah system tunggal melainkan terdiri dari sejumlah
subsistem .
Sistem bahasa yang dibicarakan diatas adalah berupa
lambang-lambang dalam bentuk bunyi. Artinya , Lambang-Lambang itu berbentuk
bunyi, yang lazim disebut bunyi ujar atau bunyi bahasa. Setiap lambing bahasa
melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Umpamanya , lambing
bahasayang berbunyi (Kuda) melambangkan
konsep tau makna sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai ; dan
lambing bahasa yang berbunyi (spidol) melambangkan konsep atau makna sejenis
alat tulis bertinta. Karena setiap lambang bunyi itu memiliki atau menyatakan suatu konsep
atau makna , maka dapat disimpulkan setiap satuan uajaran bahasa memiliki
makna. Jika ada lambang bunyi yang tidak bermakna atau tidak menyatakan suatu
konsep, maka lambang tersebut tidak termasuk sitem suatu bahasa.
Lambang bunyi bahasa itu bersifat arbitrer. Artinya
hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya tidak bersifat wajib, bisa
berubah,dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengonsepsi makna
tertentu. Meskipun lambang-lambang bahasa itu bersifat arbitrer, tetapi juga
bersifat Konvensional . Artinya, Setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi
hubungan antara lambang dengan dilambangkannya.
Bahasa itu bersifat Produktif, Artinya dengan sejumlah
unsure yang terbatas , namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hamper
tidak terbatas. Bahasa itu bersifat dinamis, maksudnya bahasa itu tidak terlepas
dari berbagai kemungkinan perubahan yang sewaktu-waktu dapat terjadi.Kedinamisan
bahasa dalam tataran garamatika juga banyak menyebabkan terjadinya perubahan
kaidah.
Bahasa itu beragam, artinya meskipun sebuah bahasa
mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu
digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang social dan
kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beraga, baik
dalam tataran fonologi,morfologis,sintaksis,maupun pada tataran leksikon. Bahasa itu bersifat
manusiawi. Artinya, Bahasa sebagai alat komunikasi verbal hanya dimiliki
manusia. Hewan tidak mempunyai bahasa . yang dimiliki hewan sebagai alat
komunikasi,yang berupa bunyi atau gerak isyarat, tidak bersifat produktif atau
dinamis.
2.2 FUNGSI-FUNGSI BAHASA
Secara tradisional kalau ditanyakan apakah bahasa itu,
akan dijawab bahwa bahasa adalah alat untuk berinteraksi atau alat untuk
berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran,gagasan,konsep,atau
juga perasaan. Konsep bahwa bahasa adalah alat untuk menyampaikan pikiran sudah
mempunyai sejarah yang panjang jika kita menelusuri sejarah studi bahasa pada
masa lalu.
Dalam hal ini Wardhaugh ( 1972:3-8 ) juga mengatakan
bahwa fungsi bahasa adalah alat komunikasi manusia , baik tertulis maupun
lisan.
Namun , Fungsi ini sudah mencakup lima fungsi dasar ,
yang menurut Kinneavy disebut expression,information,exploration,persuasion,dan
entertainment ( Michel 1967:5).
Bagi Sosiolinguistik konsep bahwa bahasa adalah alat
atau berfungsi untuk menyatakan pikiran dianggap terlalu sempit,sebab seperti
dikemukakan Fishman (1972) bahwa yang menjadi persoalan sosiolinguistik adalah
“who speak what language to whom,when and to what end”.
Dilihat dari sudut penutur , maka bahasa itu berfungsi
personal atau pribadi .
Dilihat dari segi pendengar atau lawan bicara, maka
bahasa itu berfungsi direktif,yaitu mengatur tingkah laku pendengar ( Lihat
Finnocchiaro 1974 ;Haliday 1973 menyebutnya fungsi instrumental;dan jakobson
1960 menyebutnya fugsi retorikal).
Bila dilihat dari segi kontak antara penutur dan
pendengar maka bahasa disini berfungsi fatik(Jakobson 1960;Finnocchiaro 1974
menyebutnya interpersonal;dan Haliday 1973 menyebutnya interactional),yaitu
fungsi menjalin hubungan, memelihara , memperlihatkan perasaan bersahabat ,
atau solidaritas social.
Jika kita melihat buku atau sumber lain, Misalnya
Nababan (1983)tentu akan kita temukan berbagai fungsi bahasa yang lain, yang
dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
2.3 HAKIKAT
KOMUNIKASI
Ada 3 komponen yg harus ada dalam proses komunikasi, yaitu :
1. Pihak yg berkomunikasi
Yakni pengirim
dan penerima informasi yang di komunikasikan yang lazim di sebut partisipan.
2. Informasi
yang di komunikasikan
3. Alat
yang di gunakan dalam komunikasi itu.
Pihak yang terlibat
dalam suatu proses komunikasi tentunya ada dua orang atau dua kelompok orang,
yaitu pertama yang mengirim (sender) informasi, dan yang ke dua yang menerima
(receiver) informasi. Informasi yang di sampaikan tentunya berupa suatu ide,
gagasan, keterangan, atau pesan. Sedangkan alat yang di gunakan dapat berupa
simbol atau lambang seperti bahasa (karena hakikat bahasa adalah suatu sistem
lambang) berupa tanda-tanda, seperti rambu-rambu lalulintas, gambar atau
petunjuk dan dapat juga berupa garak gerik anggota badan (kinesik). Ketiga
komponen dalam peristiwa komunikasi adalah alat komunikasi yang di gunakan, yaitu bahasa (sebagai sebuah sistem lambang),
tanda-tanda (baik berupa gambar, warna ataupun bunyi), dan gerak gerik tubuh.
Berdasarkan
alat yang di gunakan ini ada 2 macam komunikasi :
1.Komunikasi verbal
komunikasi verbal atau komunikasi bahasa adalah komunikasi yang menggunakan sebagai alatnya. Bahasa yang di gunakan dalam komunikasi ini tentunya harus berupa kode yang sama-sama dipahami oleh pihak penutur dan pihak pendengar.
komunikasi verbal atau komunikasi bahasa adalah komunikasi yang menggunakan sebagai alatnya. Bahasa yang di gunakan dalam komunikasi ini tentunya harus berupa kode yang sama-sama dipahami oleh pihak penutur dan pihak pendengar.
2. Komunikasi
non verbal
Komunikasi
non verbal adalah komunikasi yang menggunaka alat bukan bahasa. Seperti bunyi
peluit, cahaya ( lampu,pi) semafor, dan termasuk juga alat komunikasi dalam
masyarakat hewan.
2.4 KOMUNIKASI BAHASA
Dalam setiap komunikasi bahasa ada dua pihak yang terlibat , yaitu
pengirem pesan (sender) dan pengiriman pesan (receiver). Ujaran (berupa kalimat
atau kalimat-kalimat) yang digunakan untuk menyampaikan pesan. Setiap proses
komunikasi bahasa dimulai dengan si pegirim merumuskan terlebih dahulu yang
ingin di ujarkan dalam suatu kerangka gagasan. Proses ini dikenal dengan
istilah semantic encoding.Gagasan itu
lalu disusun dalam bentuk kalimat atau kalimat-kalimat yang gramatikal; proses
memindah gagasan ke dalam bentuk kalimat yang gramatikal ini disebut grammatical encoding. Setelah tersusun
dalam kalimat yang gramatikal,lalu phonological deconding kalimat (yanhg berisi
gagasan tadi) diucapkan. Proses ini disebut phonological
encoding. Kemudian oleh si pendengar atau penerima, ujaran pengirim tadi
diterjemahkan atau di deconding. Pada
mulanya ujaran tadi merupakan stimulus untuk diterjemahkan. Ini disebut.
Selanjutnya proses ini diikuti oleh proses grammadical
doconding; dan diakhiri dengan proses semantic
deconding.
Ada dua macam komunikasi bahasa,yaitu komunikasi searahdan
komunikasi dua arah. Dalam komunikasi searah, si pengirim tetap sebagai
pengirim, dan si pengirim tetap sebagai
penerima Komunikasi searah ini terjadi, misalya,dalam komuniksi yang
bersifat memberitahukan, khotbah, di masjid atau geraja, ceramah yang tidak
diikuti Tanya jawab, dan sebagainya.
Sebagai alat komunikasi, bahasa itu terdiri dari dua aspek, yaitu
aspek lingistik dan aspek nonlinguistic atau paralinguistic. Kedua aspek ini
“bekerja sama” dalam membangun komunikasi bahasa itu. Aspek linguistic mencakup
tataran fonologis, morfologis, dan sintakis. Ketiga tataran ini mendukung
terbentuknya yang akan disampaikan, yaitu sematik (yang di dalamnya terdapat
makna, gagasan, ide atau konsep). Aspek paralinguistic mencangkup (1) kualitas
ujaran,yaitu pola ujaran seseorang, seperti falseto (suara tinggi), staccato
(suara terputus-putus), dan (pitch) , dan intonasi; (3) jarak dan gerak gerik
tubuh, seperti gerakan tangan indera perasa (pada kulit).
Aspek linguistic dan paralinguistic tersebut berfungsi sebagai alat
komunikasi, bersama-sama dengan konteks situasi membentuk atau membangun
situasi tertentu dalam proses komunikasi.
Komunikasi bahasa atau komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai
alatnya mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan sengan jenis komunikasi
lainnya, termasuk komunikasi yang berlaku pada masyarakat hewan.
2.5 KEISTIMEWAAN BAHASA MANUSIA
Berikut
ini kita lihat bagaimana kelebihan atau keistimewaan bahasa sebagai alat
komunikasi manusia dibandingkan dengan alat-alat komunikasi yang ada pada dunia hewan .
Setidaknya ada tiga pakar yang tertarik pada masalah ini, yaitu Hockett,Mc
Neill,dan Chomsky.Bila disarikan dari Hockett dan Mc Neil setidaknya da 16 butir cirri khusus yang
membedakan system komunikasi bahasa dari system komunkasi makhluk lainnya .
Keenam belas ciri itu adalah sebagai berikut :
1. Bahasa menggunakan jalur vokal auditif.
2. Bahasa dapat tersiar kesegala arah ,tetapi
penerimaannya terarah.
3. Lambang bahasa yang berupa bunyi itu cepat
hilang setelah diucapkan
4. Partisipan dalam komunikasi bahasa dapat saling
berkomunikasi.
5.Lambang bahasa itu dapat menjadi umpan balik yang lengkap.
6.Komunikasi bahasa mempunyai spesialisasi.
7.Lambang-Lambang bunyi dalam komunikasi bahasa
adalah bermakna atau merujuk pada
hal-hal tertentu.
8. Hubungan antara lambang bahasa dengan
maknanya bukan ditentukan oleh adanya suatu ikatan antara keduanya .
9. Bahasa sebagai alat komunikasi bahasa manusia
menjadi unit-unit satuan-satuan, yakni kalimat, kata , morfem , dan fonem .
10. Rujukan atau yang sedang dibicarakan dalam
bahasa tidak harus selalu ada pada tempat dan waktu kini.
11. Bahasa bersifat terbuka.
12. Kepandaian dan kemahiran untuk menguasai
aturanaturan dan kebiasaan-kebiasaan berbahasa manusia diperoleh dari
belajar,bukan melalui dari gen-gen yang dibawa sejak lahir .
13. Sehubungan dengan ciri (12) diatas, maka
bahasa itu dapat dipelajari.
14. Bahasa dapat digunakan untuk menyatakan yang
benar dan yang tidak benar, atau juga yang tidak bermakna secara logika .
15. Bahasa memliki dua subsistem, yaitu subsistem
bunyi dan subsistem makna,yang memungkinan bahasa ittu memiliki keekonomisan
fungsi.
16. Ciri terakhir adalah Bahasa itu dapat kita
gunakan untuk membicarakan bahasaitu sendiri
BAB III
PENUTUPAN
3.1 Simpulan
Semua orang mepunyai
kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan menggunakan bahasa.
Menggunakan bahasa atau berbahasa ini adalah suatu kegiatan yang menjadi bagian
terpenting yang dibutuhkan oleh manusia, sehingga berbahasa itu sifatnya
alamiah atau sesuatu yang normal.
Dengan bahasa, membuat
kita manjadi mahluk yang bermasyarakat serta menjadi sarana untuk
mengekspresikan diri, menyampaikan pesan kepada orang lain dan yang utama dalam
proses komunikasi.
3.2
Saran
Dalam menggunakan bahasa Indonesia kita harus menerapkan konsep
dasar dalam berbahasa serta mengembangkan bahasa Indonesia dengan baik dan
benar dan tetap menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari pada
saat beraktifitas.
DAFTAR
PUSTAKA
Chaer, Abdul. Sosiolinguistik Kajian Teoritik.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar