Selasa, 20 Maret 2018

Analisis Tema dan Amanat cerpen Perempuan Pemuja Ketampanan


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Cerpen “Perempuan Pemuja Ketampanan” karya Rina Ratih. Dilihat dari sudut karangan yang telah selesai, tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Amanat utama ini dapat diketahui misalnya bila seorang membaca sebuah roman, atau karangan lainya.(Gorys Keraf 1994:107).
Adapun tema terbagi dua yaitu Tema mayor dan minor. Cerita fiksi hadir untuk menyampaikan Sesuatu, makna, atau tema. Tema itulah yang menjiwai keseluruhan cerita. Namun, persoalan yang kemudian muncul adalah bukankan sering ada lebih dari satu tema dalam sebuah cerita fiksi itu, atau, paling tidak kita menafsirkan adanya beberapa tema. Jadi, makna mana yang dapat dinyatakan sebagai tema dari sebuah cerita fiksi itu Tema pokok cerita atau tema mayor (artinya: makna pokok cerita pada hakikatnya merupakan aktivitas memilih, mempertimbangkan, dan menilai, di antara sejumlah makna yang di tafsirkan ada di kandung oleh karya yang bersangkutan.
Makna pokok cerita tersirat dalam sebagian besar, untuk dikatakan dalam keseluruhan, cerita, bukan makna yang terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita saja. Makna yang terdapat bagian-bagian tertentu cerita dapat diidentifikasikan sebagai makna bagian, makna tambahan. Makna-makna tambahan inilah yang dapat di sebut sebagai tema-tema tambahan, atau tema minor. Dan Pengertian amanat itu sendiri adalah Amanat adalah pemecahan yang diberikan oleh pengarang bagi persoalan di dalam karya sastra( Sadikin,2010). Sadikin menambahkan amanat biasa disebut makna. Makna yang diniatkan oleh pengarang disebut makna niatan, sementara makna muatan adalah maknayang termuat dalam karya sastra tersebut.
Dari sudut sastrawan, nilai ini biasa disebut amanat. Amanat adalah gagasan yang mendasari karya sastra, pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca dan pendengar, di dalam karya sastra modern, amanat ini biasanya tersirat di dalam karya sastra lama pada umumnya amanat tersurat (siswanto,2008:161-162).
1.2 Pembatasan Materi
1.2.1 Pengertian Tema dan Amanat!
1.2.2 Analisis Tema dan Amanat cerpen Perempuan Pemuja Ketampanan.
1.3 Rumusan Masalah
1.3.1 Apakah pengertian dari Tema?
1.3.2 Apakah Pengertian dari Amanat?
1.3.3 Apa Tema cerpen Perempuan Pemuja Ketampanan?
1.3.4 Apa Amanat cerpen Perempuan Pemuja Ketampanan?
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Prosa Fiksi!
1.4.2 Untuk melatih mahasiswa menganalisis suatu Cerpen!
1.4.3 Untuk mempersiapkan mahasiswa agar dapat membuat sebuah skripsi kelak!









BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tema
a. Hakikat Tema
Mempertanyakan makna sebuah karya, sebenarnya juga berarti mempertanyakan tema setiap karya fiksi tentulah mengandung dan menawarkan tema, namun apa isi tema itu sendiri tidak mudah ditunjukan. Ia harus dipahami dan ditafsirkan melalui cerita dan data-data (baca: unsur-unsur pembangun cerita) yang lain, dan itu merupakan kegiatan yang sering tidak mudah dilakukan. Kesulitan itu sejalan dengan kesulitan yang sering kita hadapi jika kita diminta untuk mendefinisikan tema.
Menurut Stanton (1965: 20) dan Kenny (1966:88), tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Namun, ada banyak makna yang dikandung dan ditawarkan oleh cerita (novel) itu, maka masalahnya adalah: makna khusus yang mana yang dapat dinyatakan sebagai tema itu. Atau, jika berbagai makna itu dianggap sebagai bagian-bagian tema, sub-sub tema atau tema-tema tambahan, makna yang manakah dan bagaimanakah yang dapat dianggap sebagai makna pokok sekaligus tema pokok novel yang bersangkutan. Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung didalam teks sebagai sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan (Hartoko dan Rahmanto, 1986: 142). Tema disaring dari motif-motif yang terdapat dalam karya yang bersangkutan yang menentukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik, dan situasi tertentu. Tema dalam banyak hal bersifat “Mengikat” kehadiran atau ketidak hadiran peristiwa-konflik-situasi tertentu, termasuk berbagai unsur intrinsik yang lain, karena hal-hal tersebut haruslah bersifat mendukung kejelasan tema yang ingin disampaikan. Tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka ia pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu. Tema mempunyai generalisasi yang umum , lebih luas, dan abstrak.
Dengan demikian, untuk menentukan tema sebuah karya fiksi, ia haruslah disimpulkan dari keseluruhan cerita, tidak hanya berdasarkan bagian-bagian tertentu cerita. Tema, walau sulit ditentukan secara pasti, bukanlah makna yang “disembunyikan”, walau belum tentu juga dilukiskan secara eksplisit. Tema sebagai mana pokok sebuah karya fiksi tidak (secara sengaja) disembunyikan karena justru hal inilah yang di tawarkan kepada pembaca. Namun, tema merupakan makna keseluhan yang didukung cerita, dengan sendirinya ia akan “tersembunyi”dibalik cerita yang mendukungnya.
b. Penggolongan Tema
Tema dapat digolongkan kedalam beberapa kategori yaitu penggolongan dikhotomis yang bersifat tradisional dan non tradisional, penggolongan di lihat dari tingkat pengalaman jiwa menurut Shipley, dan penggolongan dari tingkat keutamaannya.
a. Tema Tradisionan dan Non Tradisional
Tema tradisional dimaksudkan sebagai tema yang menunjuk pada tema yang hanya “itu-itu” saja, dalam arti ia telah lama dipergunakan dan dapat dipertemukan dalam berbagai cerita, termasuk cerita lama. Pernyataan-pernyataan tema yang dapat dipandang sebagian bersifat tradisional itu misalnya berbunyi kebenaran dan keadilan mengalahkan kejahatan.
Tema non tradisioanal tema yang mngkin tidak sesuai dengan harapan pembaca, bersifat melawan arus, mengejutkan, bahkan boleh jadi mengesalkan, mengecewakan, atau berbagai reaksi efektif yang lain. Berhadapan dengan cerita fiksi, pada umumnya orang mengharapkan yang baik, yang jujur, yang bercerita , atau semua tokoh yang digolongkan sebagai protagonis, ahirnya mengalami kemenangan, kejayaan. Sebaliknya, tokoh yang jahat, atau yang digolongkan sebagai antagonis, walau pada mulanya mengalami kejayaan, ahirnya dikalahkan atau memperoleh “imbalan” yang sesuai.
b. Tingkatan Tema Menurut Shipley
Pertama, tema tingkat fisik, manusia sebagai (atau: dalam tingkat kejiwaan) molekul, men as molekul. Tema karya sastra pada tingkat ini lebih banyak menyaran dan ditunjukan oleh banyaknya aktifitas fisik dari pada kejiwaan. Ia lebih menekankan mobilitas fisik dari pada konflik kejiwaan tokoh cerita yang bersangkutan.
Kedua, tema tingkat organik, manusia sebagai (atau: dalam tingkat kejiwaan) protoplasma,  men as protoplasm. Tema karya sastra tingkat ini lebih banyak menyangkut dan mempersoalkan masalah seksualitas suatu aktifitas yang hanya dapat dilakukan oleh mahkluk hidup. Berbagai persoalan kehidupan seksual manusia mendapat penekanan dalam dalam novel dangan tema tingkat ini, khususnya kehidupan seksual yang bersifat menyimpang, misalnya berupa penyelewengan dan penghianatan suami istri atau sekandal-sekandal seksual yang lain.
Ketiga, tema tingkat sosial, manusia sebagai mahluk sosial, man as socious. Kehidupan bermasyarakat, yang merupakan tempat aksi interaksinya manusia dengan sesama dan dengan lingkungan alam, mengandung banyak permasalahan, konflik, dan lain-lain yang menjadi objek pencarian tema. Masalah-masalah sosial itu antara lain berupa masalah ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan, perjuangan, cinta kasih, propaganda, hubungan atasan bawahan dan berbagai masalah dan hubungan sosial lainnya yang biasanya muncul dalam karya yang berisi kritik sosial.
Keempat, tema tingkat egoik, manusia sebagai individu, man as individualism. Disamping sebagai mahluk sosial manusia sekaligus sebagai mahluk individu yang senantiasa “menuntut” pengakuan atas hak individualitasnya. Dalam kedudukanya sebagai mahluk individu, manusia pun mempunyai banyak permasalahan dan konflik, misalnya yang berwujud reaksi manusia terhadap masalah-masalah sosial yang dihadapinya.
Kelima, tema tingkat, divine, manusia sebagai mahluk tingkat tinggi yang belum tentu setiap manusia mengalami dan atau mencapainya. Masalah yang menojol dalam tema tingkat ini adalah masalah hubungan manusia dengan sang pencipta, masalah religiositas, atau berbagai masalah yang bersifat filosifis lainnya seperti pandangan hidup fisik, dan keyakinan.
Akhirnya perlu di tegaskan bahwa dalam sebuah karya fiksi mungkin saja ditemukan lebih dari satu tema dari kelima tingkatan tema di atas. Bahkan, rasanya jarang ditemukan adanya sebuah novel yang secara khusus hanya berisi satu tingkatan tema tertentu saja tanpa menyinggung tingkatan tema yang lain.
 c. Tema Utama dan Tema Tambahan
Tema, seperti dikemukakan sebelumnya, pada hakikatnya merupakan makna yang dikandung cerita, atau secara singkat: makna cerita. Makna cerita dalam sebuah karya fiksi novel, mungkin saja lebih dari satu, atau lebih tepatnya: lebih dari satu interpretasi. Hal inilah yang menyebabkan tidak mudahnya kita untuk menentukan tema pokok cerita atau tema mayor (artinya: makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu). Menentukan tema pokok sebuah cerita pada hakekatnya merupakan aktifitas memilih mempertimbangkan, dan menilai di antara sejumlah makna yang ditafsikan ada di kandung oleh karya yang bersangkutan.
Makna pokok cerita tersirat dalam sebagian besar, untuk tidak di katakan dalam keseluruhan cerita, bukan makna yang hanya terdapat pada bagia-bagian tertentu cerita saja. Makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita dapat di identifikasi sebagai makna bagian, makna tambahan. Makna-makna tambahan inilah yang dapat disebut sebagai tema-tema tambahan, atau tema minor. Dengan demikian, banyak sedikitnya tema minor tergantung pada banyak sedikitnya makna tambahan yang dapat di tafsirkan dari sebuah cerita novel. Penafsiran makna itu pun haruslah dibatasi pada makna-makna yang terlihat menonjol, disamping mempunyai bukti-bukti kongkrit yang terdapat pada karya itu yang dapat dijadikan dasar untuk mempertanggungjawabkanya. Artinya, penunjukan atau penafsiran sebuah makna tertentu pada sebuah karya itu bukanya dilakukan secara ngawur saja.
Makna-makna tambahan bukan merupakan sesuatu yang berdiri sediri terpisah dari makna pokok cerita yang bersangkutan berhubung sebuah novel yang jadi merupakan satu kesatuan. Makna pokok cerita bersifat mendukung dan atau mencerminkan makna utama atau keseluruhan cerita. Jadi, singkatnya makna-makna tambahan itu, atau tema-tema minor itu, bersifat mempertegas exsistensi makna utama, atau tema mayor. Kita dapat megidentifikasi suatu makna sebagai makna pokok jika berada dalam perbandinganya dengan makna-makna yang lain yang dapat di tafsirkan dari karya itu.
Adanya penafsiran tema pokok dan tema-tema tambahan dalam sebuah karya tersebut, misalnya, di tunjukan pada contoh pembicaraan tema utama novel salah asuhan di depan. Dalam penafsiran tersebut, masalah “ kesalahan mendidik anak dapat berakibat fatal” dipandang sebagai tema utama novel itu. Di pihak lain, makna-makna tertentu lainnya seperti masalah “kawin paksa, penolakan kebangsaan sendiri, dan perkawinan antar bangsa” dapat dipandang sebagai beberapa makna yang merupakan tema-tema tambahan tentu saja bukan hanya ketiga makna itu yang dapat dinyatakan sebagai tema-tema tambahan, melainkan dapat saja terdapat makna-makna yang lain tergantung pada penafsiran pembaca. Pembacalah sebenarnya yang lebih banyak menentuka makna tema itu berdasarkan persepsi pemahaman, dan horison penerimaanya.
c. Penafsiran Tema
Penafsiran tema sebuah novel memang bukan pekerjaan yang mudah. Walau betul penulisan sebuah novel didasarkan kepada tema atau ide tertentu, pernyataan tema itu sendiri pada umumnya tidak dikemukakan secara eksplisif. Tema hadir bersama dan berpadu dengan struktur-struktural yang yang lain sehingga yang kita jumpai dalam sebuah novel adalah (hanya) cerita. Tema tersembunyi dibalik cerita itu. Jika pekerjaan menafsiirkan itu sudah di temukan, artinya kita sudah menentukan tema karya novel yang bersangkutan, hasil penafsiran itu pun belum tentu di terima orang lain. Kita pun tidak perlu memaksakan pendapat kita sebab adanya perbedaan penafsiran yang demikian amat wajar. Namun, hasil penafsiran yang diberikan hendaknya disertai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Berhubungan tema tersembunyi dibalik cerita, penafsiran terhadapnya harus dilakukan berdasarkan fakta-fakta yang ada secara keseluruhan membangun cerita itu. Kita harus mulai dengan cara memahami cerita itu, mencari kejelasan ide-ide perwatakan peristiwa-peristiwa, konflik, dan latar. Para tokoh utama biasanya “dibebani”  tugas membawakan tema, maka kita harus memahami keadaan itu. Untuk tujuan itu, kita, misalnya, dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti: apa motivasinya, permasalahan yang dihadapi, bagaimana perwatakannya, bagaimana sikap dan pandangannya terhadap  bagaimana keputusan yang diambil, dan sebagainya.
Dalam usaha menemukan dan menafsirkan tema sebuah novel, secara lebih khusus dan rinci, Stanton ( 1965: 22-3) mengemukakan adanya sejumlah kriteria yang dapat diikuti seperti ditunjukan berikut.
Pertama, penafsiran tema sebuah novel hendaknya mempertimbangkan tiap detik cerita yang menonjol. Kriteria ini hal yang paling penting. Hal itu disebabkan pada detail-detail yang menonjol (atau: ditonjolkan) itulah yang didefinisikan sebagai tokoh-masalah-konflik utama pada umumnya  sesuatu yang ingin disampaikan ditempatkan.
Kedua, penafsiran tema sebuah novel hendaknya tidak mendasarkan diri pada bukti-bukti yang tidak dinyatakan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam novel bersangkutan.
Ketiga, penafsiran tema sebuah novel harus mendasarkan pada bukti-bukti  yang secara langsung ada dan atau yang disarankan dalam cerita. Kriteria ini mempertegas kriteria ketiga di atas. Penunjukkan tema sebuah cerita haruslah dapat dibuktikan dengan data-data atau detail-detail cerita yang terdapat dalam cerita itu, baik yang berupa bukti-bukti langsung,  artinya kata-kata itu dapat di temukan dalam novel, maupun tak langsung, artinya “ hanya”  berupa penafsiran terhadap kata-kata yang ada.
3.2 Unsur Moral dalam Fiksi
a. Pengertian dan Hakikat Moral
Moral, seperti halnya tema, dilihat dari segi dikhotomi bentuk isi karya sastra merupakan unsur isi. Ia merupakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca, merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya, makna yang disarankan lewat cerita. Moral, kadang-kadang, diidentikkan pengertiannya dengan tema walau sebenarnya tidak selalu menyaran pada maksud yang sama. Moral dan tema, karena keduanya merupakan sesuatu yang terkandung, dapat di tafsirkan, diambil dari cerita, dapat dipandang sebagai memiliki kemiripan. Namun, tema bersifat lebih kompleks daripada moral disamping tidak memiliki nilai langsung sebagai saran yang ditunjukkan kepada pembaca. Moral, dengan demikian, dapat dipandang sebagai salah satu wujud tema dalam bentuk yang sederhana, namun tidak semua tema merupakan moral.
Secara umum moral menyarankan pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak, budi pekerti, susila (KBBI, 1994). Istilah “bermoral”, misalnya: tokoh bermoral tinggi, berarti mempunyai pertimbangan baik dan buruk. Namun, tidak jarang pengertian baik buruk itu sendiri dalam hal-hal tertentu bersifat relatif.
Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin disampaikannya kepada pembaca. Moral dalam cerita, menurut Kenny (1966: 89), biasanya dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil (dan ditafsirkan) lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca. Ia merupakan “petunjuk” yang sengaja diberikan oleh pengarang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan, seperti sikap, tingkah laku, dan sopan santun pergaulan. Melalui cerita, sikap, dan tingkah laku tokoh-tokoh itulah pembaca diharapan dapat mengambil hikmah dari pesan-pesan moral yang disampaikan yang diamanatkan. Moral dalam karya sastra dapat di pandang sebagai amanat, pesan, mesengger message. Bahkan, unsur amanat itu, sebenarnya, merupakan gagasan yang mendasari penulisan karya itu, gagasan yang mendasari diciptakannya karya sastra sebagai pendukung pesan.
b. Jenis dan Wujud Moral
Jenis ajaran moral itu sendiri dapat mencakup masalah, yang boleh dikatakan, bersifat tak terbatas. Ia dapat mencakup seluruh persoalan hidup dan kehidupan, seluruh persoalan yang menyangkut harkat dan martabat manusia. Secara garis besar persoalan hidup dan kehidupan manusia itu dapat dibedakan kedalam persoalan hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk hubungannya dengan lingkungan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhannya.
b. Pesan Religius dan Kritik Sosial
Pesan moral yang berwujud moral religius, termasuk di dalamnya yang bersifat keagamaan, dan kritik sosial banyak ditemukan dalam karya fiksi atau dalam genre sastra yang lain. Kedua hal tersebut merupakan “lahan” yang banyak memberikan inspirasi bagi para penulis, khususnya penulis sastra indonesia modern.
a. pesan religius dan keagamaan
kehadiran unsur religius dan keagamaan dalam sastra adalah setua keberadan sastra itu sendiri. Bahkan, sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat religius. Pada awal mula segala sastra adalah religius (Mangun Wijaya, 1982:11).
Agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada tuhan dengan hukum-hukum yang resmi. Religiusitas, dipihak lain, melihat aspek yang dilubuk hati, riyak getaran nurani pribadi, totalitas kedalaman pribadi manusia. Dengan demikian, religius bersifat mengatasi, lebih dalam, dan lebih luas dari agama yang tampak, formal dan resmi (mangun wijaya, 1982:11-2).
b. Pesan Kritik Sosial
Hanya karya sastra yang bernilai tinggi yang didalamnya menampilkan pesan-pesan dan kritik sosial. Namun, perlu ditegaskan bahwa karya-karya tersebut menjadi bernilai bukan lantaran pesan itu, melainkan lebih ditentukan oleh koherensi semua unsur intrinsiknya. Pesan moral hanya merupakan salah satu unsur pembangunan karya fiksi saja, yang sebenarnya justru tidak mungkin terlihat di paksakan dalam karya yang baik, walau hal itu mungkin sekali sebagai salah satu pendorong ditulisnya sebuah karya. Selain itu, pesan moral pun, khususnya iya berupa kritik sosial,dapat mempengaruhi aktualisasi karya yang bersangkutan.
Sastra yang mengandung pesan kritik dapat juga disebut sebagai sastra kritik biasanya akan lahir ditengah masyarakat jika terjadi hal-hal yang kurang beres dalam kehidupan sosial dan masyarakat paling tidak, hal itu ada dalam penglihatan dan dapat dirasakan oleh pengarang yang berperasaan peka, yang dengan kekuatan imajinasinya boleh dikatakan sebagai orang yang memiliki indra ke enam.
C. Bentuk Penyampaian Pesan Moral
a. Untuk Penyampaian Langsung
Bentuk penyampaian pesan moral yang bersifat langsung, boleh dikatakan, identik dengan cara pelukisan watak tokoh yang bersifat uraian, telling atau penjelasan, expository. Jika dalam tehnik uraian pengarang secara langsung mendeskripsikan perwatakan tokoh cerita yang bersifat “pemberitahu” atau memudahkan pembaca untuk memahaminya, hal yang demikian juga terjadi dalam penyampaian pesan moral. Artinya, moral yang ingin disampaikan, atau diajarkan, kepada pembaca itu dilangsungkan secara langsung dan eksplisif. Pengarang, dalam hal ini, tampak bersifat menggurui pembaca, secara langsung memberikan nasihat dan petuahnya.
b. Bentuk Penyampaian Tidak Langsung
Karya yang berbentuk cerita bagaimanapun hadir kepada pembaca pertama-tama haruslah sebagai cerita, sebagai sarana hiburan untuk memperoleh berbagai kenikmatan. Kalaupun ada yang ingin dipesankan dan yang sebenarnya justru hal ini lah yang mendorong di tulisnya cerita itu hal itu hanyalah lewat siratan saja dan terserah kepada penafsiran pembaca. Bukankah cara penyampaian yang demikian justru memaksa pembaca untuk merenungkannya, menghayatinya secara lebih intensif.





BAB III
ANALISIS

3.1 Analisis Cerita
A. Tema
Dalam cerita “Wanita Pemuja Ketampanan” menceritakan wanita yang selalu mengidam- idamkan seorang lelaki yang sangat tampan. Karena keinginannya itulah wanita tersebut selalu gagal dalam hal percintaan. Setiap kali wanita tersebut memiliki pacar, wanita tersebut selalu disakiti oleh laki-laki. Sampai berkali-kali ia mencari laki-laki yang ia idam-idamkan semakin menderita wanita tersebut dalam kisah asmaranya.
Tema cerita ini adalah “wanita yang selalu menderita dalam mengejar cinta laki-laki tampan”. Wanita yang berakhir tragis dalam mengejar cinta. Setiap wanita ini jatuh cinta pada laki-laki yang tampan, wanita tersebut selalu mengalami kegagalan dalam percintaan, berkali-kali ia mencoba menjalin hubungan dengan laki-laki lain ujungnya selalu sama.
Kutipan yang membuktikan tema tersebut:
1. “Sampai, suatu sore dibelakang kantin ketika kampus sepi, aku memergoki yopi berciuman dengan Purwatini, mahasiswa semester satu. Berciuman. Lama. Dipojok kantin, dibawah perdu yang rimbun, aku menatap mereka. Betapa nelangsa, jika hati dihianati. Maka, tanpa ampun, aku putuskan. Tus! Dan kucoret namanya dengan sepidol merah dalam kehidupanku. Sreet! ( Rina Ratih, 2015: 26-27)”.
2. “Bukan tipeku memiliki pacar dan calon suami yang tidak punya kepribadian. Romantis dan mengobral janji manis pada pacarnya, tapi layu bagai kembang tak jadi dihadapan ibunya. Ih, banci banget! ( Rina Ratih, 2015: 29)”.
3. “Kini... Aris menghianatiku, meski mengaku tidak menyesal mencintaiku. Jadi? Selama ini kuhabiskan waktu untuk cinta yang sia-sia. Aku ingat ibu yang begitu ingin segera melihatku segera menikah! Laki-laki tampan itu begitu sering menyakitiku, meskipun kata Saiful aku perempuan hebat. ( Rina Ratih, 2015: 34)”.
4. “Aku tidak bisa bohongi diri bahwa aku sama sekali tidak punya ketertarikan pada laki-laki berwajah biasa. Meski kata orang, laki-laki yang naksir aku itu baik, jujur, dan bertanggung jawab, hatiku tetap tidak seerrr! Tapi kalau bertatapan dengan laki-laki tampan, duh....seakan darah dan jantungku berhenti berdetak! Sejak itu, aku mulai menyimpulkan diri bahwa aku adalah benar-benar perempuan pemuja ketampanan. ( Rina Ratih, 2015: 35-36)”.
5. “Ia bukan duda anak dua, tapi suami dari dua istri yang cantik-cantik! Ku ketahui bahwa Gunawan adalah laki-laki yang senang mengoleksi istri cantik! Ibu tidak ikhlas jika aku jadi istri ke tiga. ( Rina Ratih, 2015: 36-37)”.
B. Amanat
Amanat cerita “Wanita Pemuja Ketampanan” adalah dalam cerita tersebut menunjukan wanita yang tegar dalam menghadapi masalah, dan sabar dalam menghadapi cobaan hidup. Dalam kutipan tersebut memberikan contoh bahwa menjalani kehidupan haruslah selalu sabar, entah itu dalam hal percintaan atau dalam perjalanan hidup. Dalam menghadapi masalah apapun kita harus tegar dalam menghadapi ujian hidup ini.
Kutipan cerpen yang membuktikan amanat teersebut :
1. “Tidak seperti gadis lain yang menangis bermalam-malam dan menutup hati untuk laki-laki lain berbulan-bulan bahkan bertahun lamanya. Entah aku dilahirkan dari seorang ibu yang tegar. Ia perempuanyang perkasa yang dapat bertahan hidup dan sekaligus menjadi ayah bagi anak-anaknya. Aku tidak boleh kalah dengan ibu yang tegar, aku harus kuliah dan lulus! Masa hanya karena putus cinta, bunuh diri! Sorry ya! ( Rina Ratih, 2015: 29)”.
2. “Herannya, dalam suasana hati yang kalut, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan asing yang sejak dulu kuincar. Menurut ibu, aku adalah perempuan yang banyak mendapat keberuntungan, tapi aku tahu, aku tidak beruntung dalam cinta. ( Rina Ratih, 2015: 35)”.
3. “Duh Gusti...inikah karma yang harus kuterima? Aku perempuan pemuja laki-laki tampan, Gunawan adalah laki-laki yang suka perempuan-perempuan cantik. Bukankah itu tidak salah? Laki-laki dan perempuan-perempuan pemuja kemolekan fisik bertemu? ( Rina Ratih, 2015: 37)”.








BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Dalam cerita “Wanita Pemuja Ketampanan” menceritakan wanita yang selalu mengidam- idamkan seorang lelaki yang sangat tampan. Karena keinginannya itulah wanita tersebut selalu gagal dalam hal percintaan. Setiap kali wanita tersebut memiliki pacar, wanita tersebut selalu disakiti oleh laki-laki. Sampai berkali-kali ia mencari laki-laki yang ia idam-idamkan semakin menderita wanita tersebut dalam kisah asmaranya.
Tema cerita ini adalah “wanita yang selalu menderita dalam mengejar cinta laki-laki tampan”. Wanita yang berakhir tragis dalam mengejar cinta. Setiap wanita ini jatuh cinta pada laki-laki yang tampan, wanita tersebut selalu mengalami kegagalan dalam percintaan, berkali-kali ia mencoba menjalin hubungan dengan laki-laki lain ujungnya selalu sama.
Amanat cerita “Wanita Pemuja Ketampanan” adalah dalam cerita tersebut menunjukan wanita yang tegar dalam menghadapi masalah, dan sabar dalam menghadapi cobaan hidup. Dalam kutipan tersebut memberikan contoh bahwa menjalani kehidupan haruslah selalu sabar, entah itu dalam hal percintaan atau dalam perjalanan hidup. Dalam menghadapi masalah apapun kita harus tegar dalam menghadapi ujian hidup ini.










DAFTAR PUSTAKA

Aminudidin. 2002. Pengantar Apresiasi karya sastra. Bandung: Sinar Baru.
Purwiyati, Hari. 2004. Dayak UUD Danum. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
 


2 komentar:

Essen Biang Susu Jerman mengatakan...

terimakasih untuk informasinya.

NANANG ARIFIN mengatakan...

sama sama

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda