BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Cerpen “Perempuan
Pemuja Ketampanan” karya Rina Ratih. Dilihat
dari sudut karangan yang telah selesai, tema adalah suatu amanat utama yang
disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Amanat utama ini dapat diketahui
misalnya bila seorang membaca sebuah roman, atau karangan lainya.(Gorys Keraf
1994:107).
Adapun tema terbagi dua yaitu Tema mayor dan minor. Cerita fiksi
hadir untuk menyampaikan Sesuatu, makna, atau tema. Tema itulah yang menjiwai
keseluruhan cerita. Namun, persoalan yang kemudian muncul adalah bukankan
sering ada lebih dari satu tema dalam sebuah cerita fiksi itu, atau, paling
tidak kita menafsirkan adanya beberapa tema. Jadi, makna mana yang dapat
dinyatakan sebagai tema dari sebuah cerita fiksi itu Tema pokok cerita atau tema
mayor (artinya: makna pokok cerita pada hakikatnya merupakan aktivitas
memilih, mempertimbangkan, dan menilai, di antara sejumlah makna yang di
tafsirkan ada di kandung oleh karya yang bersangkutan.
Makna pokok cerita tersirat dalam sebagian besar, untuk dikatakan
dalam keseluruhan, cerita, bukan makna yang terdapat pada bagian-bagian
tertentu cerita saja. Makna yang terdapat bagian-bagian tertentu cerita dapat
diidentifikasikan sebagai makna bagian, makna tambahan. Makna-makna tambahan
inilah yang dapat di sebut sebagai tema-tema tambahan, atau tema minor.
Dan Pengertian amanat itu sendiri adalah Amanat adalah pemecahan yang diberikan
oleh pengarang bagi persoalan di dalam karya sastra( Sadikin,2010). Sadikin
menambahkan amanat biasa disebut makna. Makna yang diniatkan oleh pengarang
disebut makna niatan, sementara makna muatan adalah maknayang termuat dalam
karya sastra tersebut.
Dari sudut sastrawan, nilai ini biasa disebut amanat. Amanat
adalah gagasan yang mendasari karya sastra, pesan yang ingin disampaikan
pengarang kepada pembaca dan pendengar, di dalam karya sastra modern, amanat
ini biasanya tersirat di dalam karya sastra lama pada umumnya amanat tersurat
(siswanto,2008:161-162).
1.2 Pembatasan
Materi
1.2.1 Pengertian
Tema dan Amanat!
1.2.2 Analisis Tema
dan Amanat cerpen Perempuan Pemuja Ketampanan.
1.3 Rumusan Masalah
1.3.1 Apakah
pengertian dari Tema?
1.3.2 Apakah
Pengertian dari Amanat?
1.3.3 Apa Tema
cerpen Perempuan Pemuja Ketampanan?
1.3.4 Apa Amanat
cerpen Perempuan Pemuja Ketampanan?
1.4 Tujuan
Penelitian
1.4.1 Untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian Prosa Fiksi!
1.4.2 Untuk melatih mahasiswa menganalisis suatu Cerpen!
1.4.3 Untuk mempersiapkan
mahasiswa agar dapat membuat sebuah skripsi kelak!
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tema
a. Hakikat Tema
Mempertanyakan
makna sebuah karya, sebenarnya juga berarti mempertanyakan tema setiap karya fiksi
tentulah mengandung dan menawarkan tema, namun apa isi tema itu sendiri tidak
mudah ditunjukan. Ia harus dipahami dan ditafsirkan melalui cerita dan
data-data (baca: unsur-unsur pembangun cerita) yang lain, dan itu merupakan
kegiatan yang sering tidak mudah dilakukan. Kesulitan itu sejalan dengan
kesulitan yang sering kita hadapi jika kita diminta untuk mendefinisikan tema.
Menurut Stanton
(1965: 20) dan Kenny (1966:88), tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah
cerita. Namun, ada banyak makna yang dikandung dan ditawarkan oleh cerita (novel)
itu, maka masalahnya adalah: makna khusus yang mana yang dapat dinyatakan
sebagai tema itu. Atau, jika berbagai makna itu dianggap sebagai bagian-bagian
tema, sub-sub tema atau tema-tema tambahan, makna yang manakah dan bagaimanakah
yang dapat dianggap sebagai makna pokok sekaligus tema pokok novel yang
bersangkutan. Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya
sastra dan yang terkandung didalam teks sebagai sebagai struktur semantis dan
yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan (Hartoko dan
Rahmanto, 1986: 142). Tema disaring dari motif-motif yang terdapat dalam karya
yang bersangkutan yang menentukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik, dan
situasi tertentu. Tema dalam banyak hal bersifat “Mengikat” kehadiran atau ketidak
hadiran peristiwa-konflik-situasi tertentu, termasuk berbagai unsur intrinsik
yang lain, karena hal-hal tersebut haruslah bersifat mendukung kejelasan tema
yang ingin disampaikan. Tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka ia
pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu. Tema mempunyai generalisasi
yang umum , lebih luas, dan abstrak.
Dengan
demikian, untuk menentukan tema sebuah karya fiksi, ia haruslah disimpulkan
dari keseluruhan cerita, tidak hanya berdasarkan bagian-bagian tertentu cerita.
Tema, walau sulit ditentukan secara pasti, bukanlah makna yang “disembunyikan”,
walau belum tentu juga dilukiskan secara eksplisit. Tema sebagai mana pokok
sebuah karya fiksi tidak (secara sengaja) disembunyikan karena justru hal
inilah yang di tawarkan kepada pembaca. Namun, tema merupakan makna keseluhan
yang didukung cerita, dengan sendirinya ia akan “tersembunyi”dibalik cerita
yang mendukungnya.
b. Penggolongan Tema
Tema dapat
digolongkan kedalam beberapa kategori yaitu penggolongan dikhotomis yang
bersifat tradisional dan non tradisional, penggolongan di lihat dari tingkat
pengalaman jiwa menurut Shipley, dan penggolongan dari tingkat keutamaannya.
a. Tema Tradisionan dan Non Tradisional
Tema
tradisional dimaksudkan sebagai tema yang menunjuk pada tema yang hanya
“itu-itu” saja, dalam arti ia telah lama dipergunakan dan dapat dipertemukan
dalam berbagai cerita, termasuk cerita lama. Pernyataan-pernyataan tema yang
dapat dipandang sebagian bersifat tradisional itu misalnya berbunyi kebenaran
dan keadilan mengalahkan kejahatan.
Tema non
tradisioanal tema yang mngkin tidak sesuai dengan harapan pembaca, bersifat
melawan arus, mengejutkan, bahkan boleh jadi mengesalkan, mengecewakan, atau
berbagai reaksi efektif yang lain. Berhadapan dengan cerita fiksi, pada umumnya
orang mengharapkan yang baik, yang jujur, yang bercerita , atau semua tokoh
yang digolongkan sebagai protagonis, ahirnya mengalami kemenangan, kejayaan.
Sebaliknya, tokoh yang jahat, atau yang digolongkan sebagai antagonis, walau
pada mulanya mengalami kejayaan, ahirnya dikalahkan atau memperoleh “imbalan”
yang sesuai.
b. Tingkatan Tema Menurut Shipley
Pertama, tema
tingkat fisik, manusia sebagai (atau: dalam tingkat kejiwaan) molekul, men
as molekul. Tema karya sastra pada tingkat ini lebih banyak menyaran dan ditunjukan
oleh banyaknya aktifitas fisik dari pada kejiwaan. Ia lebih menekankan
mobilitas fisik dari pada konflik kejiwaan tokoh cerita yang bersangkutan.
Kedua, tema
tingkat organik, manusia sebagai (atau: dalam tingkat kejiwaan)
protoplasma, men as protoplasm. Tema
karya sastra tingkat ini lebih banyak menyangkut dan mempersoalkan masalah
seksualitas suatu aktifitas yang hanya dapat dilakukan oleh mahkluk hidup.
Berbagai persoalan kehidupan seksual manusia mendapat penekanan dalam dalam
novel dangan tema tingkat ini, khususnya kehidupan seksual yang bersifat
menyimpang, misalnya berupa penyelewengan dan penghianatan suami istri atau
sekandal-sekandal seksual yang lain.
Ketiga, tema
tingkat sosial, manusia sebagai mahluk sosial, man as socious. Kehidupan
bermasyarakat, yang merupakan tempat aksi interaksinya manusia dengan sesama dan
dengan lingkungan alam, mengandung banyak permasalahan, konflik, dan lain-lain
yang menjadi objek pencarian tema. Masalah-masalah sosial itu antara lain
berupa masalah ekonomi, politik, pendidikan, kebudayaan, perjuangan, cinta kasih,
propaganda, hubungan atasan bawahan dan berbagai masalah dan hubungan sosial
lainnya yang biasanya muncul dalam karya yang berisi kritik sosial.
Keempat, tema
tingkat egoik, manusia sebagai individu, man as individualism. Disamping
sebagai mahluk sosial manusia sekaligus sebagai mahluk individu yang senantiasa
“menuntut” pengakuan atas hak individualitasnya. Dalam kedudukanya sebagai
mahluk individu, manusia pun mempunyai banyak permasalahan dan konflik,
misalnya yang berwujud reaksi manusia terhadap masalah-masalah sosial yang
dihadapinya.
Kelima, tema
tingkat, divine, manusia sebagai mahluk tingkat tinggi yang belum tentu
setiap manusia mengalami dan atau mencapainya. Masalah yang menojol dalam tema
tingkat ini adalah masalah hubungan manusia dengan sang pencipta, masalah
religiositas, atau berbagai masalah yang bersifat filosifis lainnya seperti
pandangan hidup fisik, dan keyakinan.
Akhirnya perlu
di tegaskan bahwa dalam sebuah karya fiksi mungkin saja ditemukan lebih dari
satu tema dari kelima tingkatan tema di atas. Bahkan, rasanya jarang ditemukan
adanya sebuah novel yang secara khusus hanya berisi satu tingkatan tema
tertentu saja tanpa menyinggung tingkatan tema yang lain.
c. Tema Utama dan Tema
Tambahan
Tema, seperti
dikemukakan sebelumnya, pada hakikatnya merupakan makna yang dikandung cerita,
atau secara singkat: makna cerita. Makna cerita dalam sebuah karya fiksi novel,
mungkin saja lebih dari satu, atau lebih tepatnya: lebih dari satu
interpretasi. Hal inilah yang menyebabkan tidak mudahnya kita untuk menentukan
tema pokok cerita atau tema mayor (artinya: makna pokok cerita yang
menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu). Menentukan tema pokok sebuah
cerita pada hakekatnya merupakan aktifitas memilih mempertimbangkan, dan
menilai di antara sejumlah makna yang ditafsikan ada di kandung oleh karya yang
bersangkutan.
Makna pokok
cerita tersirat dalam sebagian besar, untuk tidak di katakan dalam keseluruhan
cerita, bukan makna yang hanya terdapat pada bagia-bagian tertentu cerita saja.
Makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita dapat di
identifikasi sebagai makna bagian, makna tambahan. Makna-makna tambahan inilah
yang dapat disebut sebagai tema-tema tambahan, atau tema minor. Dengan
demikian, banyak sedikitnya tema minor tergantung pada banyak sedikitnya makna
tambahan yang dapat di tafsirkan dari sebuah cerita novel. Penafsiran makna itu
pun haruslah dibatasi pada makna-makna yang terlihat menonjol, disamping
mempunyai bukti-bukti kongkrit yang terdapat pada karya itu yang dapat
dijadikan dasar untuk mempertanggungjawabkanya. Artinya, penunjukan atau
penafsiran sebuah makna tertentu pada sebuah karya itu bukanya dilakukan secara
ngawur saja.
Makna-makna
tambahan bukan merupakan sesuatu yang berdiri sediri terpisah dari makna pokok
cerita yang bersangkutan berhubung sebuah novel yang jadi merupakan satu
kesatuan. Makna pokok cerita bersifat mendukung dan atau mencerminkan makna
utama atau keseluruhan cerita. Jadi, singkatnya makna-makna tambahan itu, atau
tema-tema minor itu, bersifat mempertegas exsistensi makna utama, atau tema
mayor. Kita dapat megidentifikasi suatu makna sebagai makna pokok jika berada
dalam perbandinganya dengan makna-makna yang lain yang dapat di tafsirkan dari
karya itu.
Adanya penafsiran
tema pokok dan tema-tema tambahan dalam sebuah karya tersebut, misalnya, di
tunjukan pada contoh pembicaraan tema utama novel salah asuhan di depan.
Dalam penafsiran tersebut, masalah “ kesalahan mendidik anak dapat berakibat
fatal” dipandang sebagai tema utama novel itu. Di pihak lain, makna-makna
tertentu lainnya seperti masalah “kawin paksa, penolakan kebangsaan sendiri,
dan perkawinan antar bangsa” dapat dipandang sebagai beberapa makna yang
merupakan tema-tema tambahan tentu saja bukan hanya ketiga makna itu yang dapat
dinyatakan sebagai tema-tema tambahan, melainkan dapat saja terdapat makna-makna
yang lain tergantung pada penafsiran pembaca. Pembacalah sebenarnya yang lebih
banyak menentuka makna tema itu berdasarkan persepsi pemahaman, dan horison
penerimaanya.
c. Penafsiran Tema
Penafsiran tema
sebuah novel memang bukan pekerjaan yang mudah. Walau betul penulisan sebuah
novel didasarkan kepada tema atau ide tertentu, pernyataan tema itu sendiri
pada umumnya tidak dikemukakan secara eksplisif. Tema hadir bersama dan berpadu
dengan struktur-struktural yang yang lain sehingga yang kita jumpai dalam
sebuah novel adalah (hanya) cerita. Tema tersembunyi dibalik cerita itu. Jika
pekerjaan menafsiirkan itu sudah di temukan, artinya kita sudah menentukan tema
karya novel yang bersangkutan, hasil penafsiran itu pun belum tentu di terima
orang lain. Kita pun tidak perlu memaksakan pendapat kita sebab adanya
perbedaan penafsiran yang demikian amat wajar. Namun, hasil penafsiran yang
diberikan hendaknya disertai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Berhubungan
tema tersembunyi dibalik cerita, penafsiran terhadapnya harus dilakukan
berdasarkan fakta-fakta yang ada secara keseluruhan membangun cerita itu. Kita
harus mulai dengan cara memahami cerita itu, mencari kejelasan ide-ide
perwatakan peristiwa-peristiwa, konflik, dan latar. Para tokoh utama biasanya “dibebani” tugas membawakan tema, maka kita harus
memahami keadaan itu. Untuk tujuan itu, kita, misalnya, dapat mengajukan
pertanyaan-pertanyaan seperti: apa motivasinya, permasalahan yang dihadapi,
bagaimana perwatakannya, bagaimana sikap dan pandangannya terhadap bagaimana keputusan yang diambil, dan
sebagainya.
Dalam usaha
menemukan dan menafsirkan tema sebuah novel, secara lebih khusus dan rinci,
Stanton ( 1965: 22-3) mengemukakan adanya sejumlah kriteria yang dapat diikuti
seperti ditunjukan berikut.
Pertama,
penafsiran tema sebuah novel hendaknya mempertimbangkan tiap detik cerita yang
menonjol. Kriteria ini hal yang paling penting. Hal itu disebabkan pada
detail-detail yang menonjol (atau: ditonjolkan) itulah yang didefinisikan
sebagai tokoh-masalah-konflik utama pada umumnya sesuatu yang ingin disampaikan ditempatkan.
Kedua, penafsiran
tema sebuah novel hendaknya tidak mendasarkan diri pada bukti-bukti yang tidak
dinyatakan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam novel bersangkutan.
Ketiga,
penafsiran tema sebuah novel harus mendasarkan pada bukti-bukti yang secara langsung ada dan atau yang
disarankan dalam cerita. Kriteria ini mempertegas kriteria ketiga di atas.
Penunjukkan tema sebuah cerita haruslah dapat dibuktikan dengan data-data atau
detail-detail cerita yang terdapat dalam cerita itu, baik yang berupa
bukti-bukti langsung, artinya kata-kata
itu dapat di temukan dalam novel, maupun tak langsung, artinya “ hanya” berupa penafsiran terhadap kata-kata yang
ada.
3.2 Unsur Moral dalam Fiksi
a. Pengertian dan Hakikat Moral
Moral, seperti
halnya tema, dilihat dari segi dikhotomi bentuk isi karya sastra merupakan
unsur isi. Ia merupakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada
pembaca, merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya, makna yang disarankan
lewat cerita. Moral, kadang-kadang, diidentikkan pengertiannya dengan tema
walau sebenarnya tidak selalu menyaran pada maksud yang sama. Moral dan tema,
karena keduanya merupakan sesuatu yang terkandung, dapat di tafsirkan, diambil
dari cerita, dapat dipandang sebagai memiliki kemiripan. Namun, tema bersifat
lebih kompleks daripada moral disamping tidak memiliki nilai langsung sebagai
saran yang ditunjukkan kepada pembaca. Moral, dengan demikian, dapat dipandang
sebagai salah satu wujud tema dalam bentuk yang sederhana, namun tidak semua
tema merupakan moral.
Secara umum
moral menyarankan pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima
umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak, budi
pekerti, susila (KBBI, 1994). Istilah “bermoral”, misalnya: tokoh bermoral
tinggi, berarti mempunyai pertimbangan baik dan buruk. Namun, tidak jarang
pengertian baik buruk itu sendiri dalam hal-hal tertentu bersifat relatif.
Moral dalam
karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan,
pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin
disampaikannya kepada pembaca. Moral dalam cerita, menurut Kenny (1966: 89),
biasanya dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral
tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diambil (dan ditafsirkan) lewat
cerita yang bersangkutan oleh pembaca. Ia merupakan “petunjuk” yang sengaja
diberikan oleh pengarang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah
kehidupan, seperti sikap, tingkah laku, dan sopan santun pergaulan. Melalui
cerita, sikap, dan tingkah laku tokoh-tokoh itulah pembaca diharapan dapat
mengambil hikmah dari pesan-pesan moral yang disampaikan yang diamanatkan.
Moral dalam karya sastra dapat di pandang sebagai amanat, pesan, mesengger
message. Bahkan, unsur amanat itu, sebenarnya, merupakan gagasan yang
mendasari penulisan karya itu, gagasan yang mendasari diciptakannya karya
sastra sebagai pendukung pesan.
b. Jenis dan Wujud Moral
Jenis ajaran
moral itu sendiri dapat mencakup masalah, yang boleh dikatakan, bersifat tak
terbatas. Ia dapat mencakup seluruh persoalan hidup dan kehidupan, seluruh
persoalan yang menyangkut harkat dan martabat manusia. Secara garis besar
persoalan hidup dan kehidupan manusia itu dapat dibedakan kedalam persoalan hubungan
manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup
sosial termasuk hubungannya dengan lingkungan alam, dan hubungan manusia dengan
Tuhannya.
b. Pesan Religius dan Kritik Sosial
Pesan moral yang
berwujud moral religius, termasuk di dalamnya yang bersifat keagamaan, dan
kritik sosial banyak ditemukan dalam karya fiksi atau dalam genre sastra yang
lain. Kedua hal tersebut merupakan “lahan” yang banyak memberikan inspirasi
bagi para penulis, khususnya penulis sastra indonesia modern.
a. pesan religius dan keagamaan
kehadiran unsur
religius dan keagamaan dalam sastra adalah setua keberadan sastra itu sendiri.
Bahkan, sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat religius. Pada awal mula
segala sastra adalah religius (Mangun Wijaya, 1982:11).
Agama lebih
menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada tuhan dengan hukum-hukum yang
resmi. Religiusitas, dipihak lain, melihat aspek yang dilubuk hati, riyak
getaran nurani pribadi, totalitas kedalaman pribadi manusia. Dengan demikian,
religius bersifat mengatasi, lebih dalam, dan lebih luas dari agama yang
tampak, formal dan resmi (mangun wijaya, 1982:11-2).
b. Pesan Kritik
Sosial
Hanya karya
sastra yang bernilai tinggi yang didalamnya menampilkan pesan-pesan dan kritik
sosial. Namun, perlu ditegaskan bahwa karya-karya tersebut menjadi bernilai
bukan lantaran pesan itu, melainkan lebih ditentukan oleh koherensi semua unsur
intrinsiknya. Pesan moral hanya merupakan salah satu unsur pembangunan karya
fiksi saja, yang sebenarnya justru tidak mungkin terlihat di paksakan dalam
karya yang baik, walau hal itu mungkin sekali sebagai salah satu pendorong
ditulisnya sebuah karya. Selain itu, pesan moral pun, khususnya iya berupa
kritik sosial,dapat mempengaruhi aktualisasi karya yang bersangkutan.
Sastra yang
mengandung pesan kritik dapat juga disebut sebagai sastra kritik biasanya akan
lahir ditengah masyarakat jika terjadi hal-hal yang kurang beres dalam
kehidupan sosial dan masyarakat paling tidak, hal itu ada dalam penglihatan dan
dapat dirasakan oleh pengarang yang berperasaan peka, yang dengan kekuatan
imajinasinya boleh dikatakan sebagai orang yang memiliki indra ke enam.
C. Bentuk Penyampaian Pesan Moral
a. Untuk Penyampaian Langsung
Bentuk
penyampaian pesan moral yang bersifat langsung, boleh dikatakan, identik dengan
cara pelukisan watak tokoh yang bersifat uraian, telling atau
penjelasan, expository. Jika dalam tehnik uraian pengarang secara
langsung mendeskripsikan perwatakan tokoh cerita yang bersifat “pemberitahu”
atau memudahkan pembaca untuk memahaminya, hal yang demikian juga terjadi dalam
penyampaian pesan moral. Artinya, moral yang ingin disampaikan, atau diajarkan,
kepada pembaca itu dilangsungkan secara langsung dan eksplisif. Pengarang,
dalam hal ini, tampak bersifat menggurui pembaca, secara langsung memberikan
nasihat dan petuahnya.
b. Bentuk Penyampaian Tidak Langsung
Karya yang
berbentuk cerita bagaimanapun hadir kepada pembaca pertama-tama haruslah
sebagai cerita, sebagai sarana hiburan untuk memperoleh berbagai kenikmatan.
Kalaupun ada yang ingin dipesankan dan yang sebenarnya justru hal ini lah yang
mendorong di tulisnya cerita itu hal itu hanyalah lewat siratan saja dan
terserah kepada penafsiran pembaca. Bukankah cara penyampaian yang demikian
justru memaksa pembaca untuk merenungkannya, menghayatinya secara lebih
intensif.
BAB
III
ANALISIS
3.1 Analisis Cerita
A. Tema
Dalam cerita “Wanita Pemuja Ketampanan” menceritakan wanita yang
selalu mengidam- idamkan seorang lelaki yang sangat tampan. Karena keinginannya
itulah wanita tersebut selalu gagal dalam hal percintaan. Setiap kali wanita
tersebut memiliki pacar, wanita tersebut selalu disakiti oleh laki-laki. Sampai
berkali-kali ia mencari laki-laki yang ia idam-idamkan semakin menderita wanita
tersebut dalam kisah asmaranya.
Tema cerita ini adalah “wanita yang selalu menderita dalam mengejar
cinta laki-laki tampan”. Wanita yang berakhir tragis dalam mengejar cinta.
Setiap wanita ini jatuh cinta pada laki-laki yang tampan, wanita tersebut
selalu mengalami kegagalan dalam percintaan, berkali-kali ia mencoba menjalin
hubungan dengan laki-laki lain ujungnya selalu sama.
Kutipan yang membuktikan tema tersebut:
1. “Sampai, suatu sore dibelakang kantin ketika kampus sepi, aku
memergoki yopi berciuman dengan Purwatini, mahasiswa semester satu. Berciuman.
Lama. Dipojok kantin, dibawah perdu yang rimbun, aku menatap mereka. Betapa
nelangsa, jika hati dihianati. Maka, tanpa ampun, aku putuskan. Tus! Dan
kucoret namanya dengan sepidol merah dalam kehidupanku. Sreet! ( Rina
Ratih, 2015: 26-27)”.
2. “Bukan tipeku memiliki pacar dan calon suami yang tidak punya
kepribadian. Romantis dan mengobral janji manis pada pacarnya, tapi layu bagai
kembang tak jadi dihadapan ibunya. Ih, banci banget! ( Rina Ratih, 2015: 29)”.
3. “Kini... Aris menghianatiku, meski mengaku tidak menyesal
mencintaiku. Jadi? Selama ini kuhabiskan waktu untuk cinta yang sia-sia. Aku
ingat ibu yang begitu ingin segera melihatku segera menikah! Laki-laki tampan
itu begitu sering menyakitiku, meskipun kata Saiful aku perempuan hebat. ( Rina
Ratih, 2015: 34)”.
4. “Aku tidak bisa bohongi diri bahwa aku sama sekali tidak punya
ketertarikan pada laki-laki berwajah biasa. Meski kata orang, laki-laki yang
naksir aku itu baik, jujur, dan bertanggung jawab, hatiku tetap tidak seerrr!
Tapi kalau bertatapan dengan laki-laki tampan, duh....seakan darah dan
jantungku berhenti berdetak! Sejak itu, aku mulai menyimpulkan diri bahwa aku
adalah benar-benar perempuan pemuja ketampanan. ( Rina Ratih, 2015: 35-36)”.
5. “Ia bukan duda anak dua, tapi suami dari dua istri yang
cantik-cantik! Ku ketahui bahwa Gunawan adalah laki-laki yang senang mengoleksi
istri cantik! Ibu tidak ikhlas jika aku jadi istri ke tiga. ( Rina Ratih, 2015:
36-37)”.
B. Amanat
Amanat cerita “Wanita Pemuja Ketampanan” adalah dalam cerita
tersebut menunjukan wanita yang tegar dalam menghadapi masalah, dan sabar dalam
menghadapi cobaan hidup. Dalam kutipan tersebut memberikan contoh bahwa
menjalani kehidupan haruslah selalu sabar, entah itu dalam hal percintaan atau
dalam perjalanan hidup. Dalam menghadapi masalah apapun kita harus tegar dalam
menghadapi ujian hidup ini.
Kutipan cerpen yang membuktikan amanat teersebut :
1. “Tidak seperti gadis lain yang menangis bermalam-malam dan
menutup hati untuk laki-laki lain berbulan-bulan bahkan bertahun lamanya. Entah
aku dilahirkan dari seorang ibu yang tegar. Ia perempuanyang perkasa yang dapat
bertahan hidup dan sekaligus menjadi ayah bagi anak-anaknya. Aku tidak boleh
kalah dengan ibu yang tegar, aku harus kuliah dan lulus! Masa hanya karena
putus cinta, bunuh diri! Sorry ya! ( Rina Ratih, 2015: 29)”.
2. “Herannya, dalam suasana hati yang kalut, aku diterima bekerja
di sebuah perusahaan asing yang sejak dulu kuincar. Menurut ibu, aku adalah
perempuan yang banyak mendapat keberuntungan, tapi aku tahu, aku tidak
beruntung dalam cinta. ( Rina Ratih, 2015: 35)”.
3. “Duh Gusti...inikah karma yang harus kuterima? Aku perempuan
pemuja laki-laki tampan, Gunawan adalah laki-laki yang suka perempuan-perempuan
cantik. Bukankah itu tidak salah? Laki-laki dan perempuan-perempuan pemuja
kemolekan fisik bertemu? ( Rina Ratih, 2015: 37)”.
BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Dalam cerita “Wanita Pemuja
Ketampanan” menceritakan wanita yang selalu mengidam- idamkan seorang lelaki
yang sangat tampan. Karena keinginannya itulah wanita tersebut selalu gagal
dalam hal percintaan. Setiap kali wanita tersebut memiliki pacar, wanita
tersebut selalu disakiti oleh laki-laki. Sampai berkali-kali ia mencari
laki-laki yang ia idam-idamkan semakin menderita wanita tersebut dalam kisah
asmaranya.
Tema cerita ini adalah “wanita yang
selalu menderita dalam mengejar cinta laki-laki tampan”. Wanita yang berakhir
tragis dalam mengejar cinta. Setiap wanita ini jatuh cinta pada laki-laki yang
tampan, wanita tersebut selalu mengalami kegagalan dalam percintaan,
berkali-kali ia mencoba menjalin hubungan dengan laki-laki lain ujungnya selalu
sama.
Amanat cerita
“Wanita Pemuja Ketampanan” adalah dalam cerita tersebut menunjukan wanita yang
tegar dalam menghadapi masalah, dan sabar dalam menghadapi cobaan hidup. Dalam
kutipan tersebut memberikan contoh bahwa menjalani kehidupan haruslah selalu
sabar, entah itu dalam hal percintaan atau dalam perjalanan hidup. Dalam
menghadapi masalah apapun kita harus tegar dalam menghadapi ujian hidup ini.
DAFTAR PUSTAKA
Aminudidin. 2002. Pengantar Apresiasi karya sastra. Bandung:
Sinar Baru.
Purwiyati, Hari. 2004. Dayak UUD
Danum. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
2 komentar:
terimakasih untuk informasinya.
sama sama
Posting Komentar