BERBICARA
RETORIK
oleh:
Hartono,
M. Hum.
PENDIDIKAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2005
Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt, yang telah memberikan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya sehingga
penulisan diktat perkuliahan Berbicara Retorik ini dapat terselesaikan
dengan baik.
Mata kuliah Keterampilan Berbicara
pada Kurikulum 2002 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS
UNY dibagi menjadi dua, yaitu Berbicara Retorik dan Berbicara Dialektik
masing-masing diberi bobot 2 SKS. Diktat “Berbicara Retorik” ini disusun dalam
rangka melengkapi bahan perkuliahan yang berupa berbagai teori, mengingat
jumlah SKS yang hanya 2 untuk kuliah praktik sangat kurang. Dengan adanya
diktat ini diharapkan mahasiswa dapat lebih mudah untuk memperoleh sebagian
teori dalam berbicara sehingga perkuliahan dapat difokuskan pada kuliah praktik
berbicara. Dalam diktat ini hanya
dibahas berbagai teori yang melandasi pembicaraan monolog. Untuk berbicara
dialog akan dibahas dalam diktat Berbicara Dialektik.
Terima
kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya diktat
perkuliahan ini. Semoga diktat ini dapat dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan
dan wawasan khususnya dalam masalah keterampilan berbicara. Akhirnya,
penulis mengharapkan kritik dan saran
dari para pembaca dan pemakai untuk perbaikan diktat ini. Terima kasih.
Yogyakarta, Desember 2005
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Berbicara sebagai Kegiatan Komuniksai
1.
Hakikat Komunikaaasi
2.
Pengertian Berbicara
B.
Rambu-rambu dalam Berbicara
C.
Fungsi Berbicara
D.
Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa
1.
Hubungan antara Berbicara dan Menyimak
2.
Hubungan antara Berbicara dan Membaca
3.
Hubungan antara Berbicara dan
Menulis
BAB
II FAKTOR KEBAHASAAN DAN
NONKEBAHASAAN
DALAM BERBICARA
A.
Penggunaan Bahasa dalam Berbicara
B.
Faktor Kebahasaan sebagai Penunjang Keefektifan Berbicara
C.
Faktor
Nonkebahasaan
sebagai Penunjang Keefektifan Berbicara
BAB
III BENTUK-BENTUK KETERAMPILAN
BERBICARA
BAB
IV MONOLOG
A.
Perkenalan
B.
Bercerita
C.
Pembawa
Acara
1.
Acara Resmi
2.
Acara Keagamaan
3. Acara Kekeluargaan
4. Acara Hiburan
BAB
V PIDATO
A.
Persiaapan Pidaato
B.
Pembawaan Pidato
1.
Pembawaan Awal Pembicaraan
2.
Selama Berbicara
3.
Pembawaan Akhir Berbicara
C.
Cara Membuka dan Menutup Pidato
1. Cara
Membuka Pidato
2. Cara
Menutup Pidato
D.
Perasaan Takut dan Cemas dalam Berpidato
1.
Sebab-sebab
Utama Rasa Takut dan Cemas
2.
Cara
Mengatasi Rasa Takut dan Cemas
E.
Jenis-jenis
Pidato
1. Pidato Impromtu
2. Pidato Manuskrip
3. Pidato Memoriter
4. Pidato Ekstemporer
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Berbicara Sebagai Kegiatan Komunikasi
1. Hakikat Komunikasi
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata bahasa Latin communicatio,
yang berasal dari kata communis yang berarti ‘sama’. Yang dimaksud
dengan ‘sama’ di sini adalah sama dalam hal makna.
Dalam kehidupan sehari-hari, kalau
ada dua orang yang terlibat dalam percakapan baru dapat dikatakan berkomunikasi
jika keduanya memiliki kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan. Penggunaan
bahasa yang sama belum menjamin terjadinya proses komunikasi. Komunikasi baru
terjadi apabila keduanya mengerti tentang bahasa yang digunakan dan juga
mengerti makna bahan yang dipercakapkan.
Manusia
sebagai makhluk sosial, kegiatan utamanya adalah berkomunikasi. Karena
pentingnya komunikasi bagi kehidupan manusia, maka manusia disebut homo
communicus. Artinya, manusia merupakan makhluk sosial yang selalu
mengadakan hubungan dan interaksi dengan manusia sesamanya karena mereka saling
memerlukan dan juga karena manusia hanya bisa berkembang melalui komunikasi.
Komunikasi sudah menjadi kebutuhan manusia yang esensial. Kehidupan kita
sehari-hari sangat dipengaruhi oleh adanya komuniukasi yang kita lakukan dengan
orang lain, termasuk juga pesan-pesan yang disampaikan oleh orang lain
tersebut.
Hampir setiap orang membutuhkan
hubungan sosial dengan orang lain, dan kebutuhan ini terpenuhi melalui
pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan
manusia-manusia yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi. Pesan-pesan itu
muncul melalui perilaku manusia. Lihatlah, ketika kita berbicara, melambaikan
tangan, cemberut, bermuka masam, atau memberikan suatu isyarat lainnya, pada dasarnya kita
sedang berperilaku. Perilaku tadi merupakan pesan-pesan. Pesan-pesan itu
digunakan untuk mengomunikasikan sesuatu kepada seseorang.
Perilaku yang merupakan pesan tadi
harus memenuhi dua syarat, yaitu harus diobservasi dan harus mengandung makna.
Perilaku tersebut harus diobservasi oleh seseorang. Jika perilaku tidak
diobservasi oleh orang lain maka tidak ada pesan di sana. Perilaku tersebut
juga harus mengandung makna. Perilaku memiliki makna jika memberikan sesuatu
arti tertentu bagi orang lain. Makna adalah
relatif bagi masing-masing orang, oleh karena masing-masing dari kita
adalah seorang manusia yang unik dengan
suatu latar belakang dan pengalaman-pengalaman yang unik pula.
Efektivitas sebuah komunikasi dapat
dicapai apabila memenuhi minimal lima komponen, yaitu:
1. adanya kesamaan kepentingan antara komunikator dengan komunikan
2. adanya sikap saling mendukung dari kedua belah pihak
3. sikap positif, artinya pikiran atau ide yang diutarakan dapat
diterima sebagai sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi keduanya
4. sikap keterbukaan yang ditampilkan oleh kedua belah pihak
5. masing-masing pihak mencoba menempatkan diri atau adanya unsur
empati pada lawan bicaranya.
Dengan terpenuhinya kelima komponen komuniukasi tersebut maka proses
komunikasi yang dibangun akan menjadi lebih efektif dan efisien.
Menurut Citrobroto (1979), komunikasi
adalah penyampaian pengertian dari seseorang kepada orang lain dengan menggunakan
lambang-lambang dan penyampaiannya tersebut merupakan suatu proses. Agar
komunikasi bisa berjalan dengan lancar, perlu dipahami bersama fakor-faktor
yang berperan dalam proses komunikasi. Faktor-faktor tersebut adalah:
1.
Komunikator
Komunikator
adalah tempat berasalnya sumber pengertian yang dikomunikasikan, atau orang
atau sekelompok orang yang menyempaikan pikiran, perasaan, atau kehendak kepada
orang lain.
2.
Berita/pesan
“Pengertian”
dari komunikator yang penyampaiannya
diubah menjadi lambang-lambang. Atau
juga ada yang menyebutnya sebagai lambang yang membawakan pikiran atau perasaan komunikator.
3.
Saluran/media
Saluran atau
media adalah sarana untuk menyalurkan
pesan-pesan atau pengertian atau lambang-lambang yang disampaikan oleh
komunikator kepada komunikan.
4.
Reseptor/komunikan
Reseptor atau
komunikan adalah seseorang atau sejumlah orang yang menjadi sasaran komunikator
ketika ia menyampaikan pesannya.
2. Pengertian Berbicara
Berbicara adalah aktivitas berbahasa kedua yang
dilaksanakan manusia dalam kegiatan berbahasa setelah aktivitas menyimak.
Berdasarkan bunyi-bunyi (bahasa) yang
didengarnya itulah kemudian manusia belajar mengucapkan dan akhirnya mampu
untuk berbicara dalam suatu bahasa yang baik, pembicara harus menguasai lafal,
struktur, dan kosa kata bahasa yang bersangkutan. Di samping itu, diperlukan
juga penguasaan masalah dan atau gagasan yang akan disampaikan, serta kemampuan
memahami bahasa lawan bicara (Nurgiyantoro, 1995:274).
Berbicara pada
hakikatnya adalah sebuah proses komunikasi secara lisan antara pembicara dan
lawan bicara. Menurut Tarigan (1990:15) berbicara adalah kemampuan mengucapkan
bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta
menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Selanjutnya dijelaskan bahwa
berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan
yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan
tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang
dikombinasikan. Berbicara juga merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan
faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguistik
sedemikian ekstensif, secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia
yang paling penting bagi kontrol social.
Dengan
demikian, berbicara itu lebih daripada hanya sekedar pengucapan bunyi-bunyi
atau kata-kata. Berbicara adalah suatu alat untuk mengomunikasikan
gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.
Jadi, berbicara
itu sebenarnya merupakan suatu proses bukan kemampuan, yaitu proses penyampaian
pikiran, ide, gagasan dengan bahasa lisan kepada komunikan (orang lain atau
diri sendiri).
Dalam berbicara atau berkomunikasi dengan pihak lain,
diperlukan adanya beberapa hal atau unsur.
Beberapa unsur dalam proses berbicara atau proses berkomunikasi tersebut adalah:
1.
pembicara
2.
lawan
bicara (penyimak)
3.
lambang
(bahasa lisan)
4.
pesan,
maksud, gagasan, atau ide
Brook
(dalam Tarigan, 1990:12) menggambarkan proses komunikasi tersebut dalam
peristiwa bahasa sebagai berikut:
PEMBICARA PENYIMAK
![]() |
![]() |
||
Maksud Pemahaman
(pra-ucap) (past-ucap)
Penyandian Pembacaan
sandi
![]() |
||||
Fonasi Audisi
(pengucapan) (pendengaran)
transisi
(peralihan)
Gambar
1: Peristiwa Bahasa (Proses
Komunikasi/Berbicara)
(Brooks dalam Tarigan, 1990)
Menurut Tarigan
(1990), tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat
menyampaikan pikiran secara efektif,
maka seharusnya sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan, dia juga harus
mampu mengevaluasi efek komunikasinya terhadap para pendengarnya, dan dia juga
harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala situasi pembicaraan,
baik secara umum maupun perseorangan. Pada dasarnya, berbicara itu memiliki
tiga maksud utama, yaitu:
1. memberitahukan, melaporkan (to
inform)
2.
menjamu,
menghibur (to intertain)
3. membujuk, mengajak,
mendesak, meyakinkan (to persuade)
Menurut Brooks (dalam Tarigan, 1990) ada beberapa prinsip
umum dalam berbicara yang perlu mendapat perhatian dari orang yang akan
melakukan pembicaraan. Beberapa prinsip umum yang mendasari kegiatan berbicara
tersebut , antara lain adalah:
- Membutuhkan paling sedikit dua orang. Tentu saja pembicaraan dapat pula dilakukan oleh satu orang, dan hal ini juga sering terjadi di masyarakat.
- Mempergunakan suatu sandi linguistik yang dipahami bersama. Meskipun dalam praktik berbicara dipergunakan dua bahasa, namun saling pengertian, pemahaman bersama itu juga sangat penting.
- Menerima atau mengakui suatu daerah referensi umum.
- Merupakan suatu pertukaran antarpartisipan. Kedua belah pihak partisipan yang memberi dan menerima dalam pembicaraan saling bertukar sebagai pembicara dan penyimak.
- Menghubungkan setiap pembicara dengan yang lainnya dan kepada lingkungannya dengan segera. Perilaku lisan sang pembicara selalu berhubungan dengan responsi yang nyata atau yang diharapkan dari sang penyimak dan sebaliknya. Jadi, hubungan itu bersifat timbal balik atau dua arah.
- Berhubungan atau berkaitan dengan masa kini.
- Hanya melibatkan aparat atau perlengkapan yang berhubungan dengan suara atau bunyi bahasa dan pendengaran.
- Secara tidak pandang bulu mengahdapi serta memperlakukan apa yang nyata dan apa yang diterima sebagai dalil. Keseluruhan lingkungan yang dapat dilambangkan oleh pembicaraan mencakup bukan hanya dunia nyata yang mengelilingi para pembicara tetapi juga secara tidak terbatas dunia gagasan yang lebih luas yang harus mereka masuki.
B. Rambu-rambu dalam Berbicara
Suksesnya sebuah pembicaraan sangat tergantung
kepada pembicara dan pendengar. Untuk itu, dituntut beberapa persyaratan kepada
seorang pembicara dan pendengar. Menurut Arsjad (1991) hal-hal yang harus diperhatikan oleh seorang
pembicara adalah:
- Menguasai masalah yang dibicarakan.
Penguasaan
masalah ini akan menumbuhkan keyakinan pada diri pembicara, sehingga akan
tumbuh keberanian. Keberanian ini merupakan salah satu modal pokok bagi
pembicara.
- Mulai berbicara kalau situasi sudah mengizinkan.
Sebelum mulai
pembicaraan, hendaknya pembicara memperhatikan situasi seluruhnya, terutama
pendengar.
- Pengarahan yang tepat akan dapat memancing perhatian pendengar. Sesudah memberikan kata salam dalam membuka pembicaraan, seorang pembicara yang baik akan menginformasikan tujuan ia berbicara dan menjelaskan pentingnya pokok pembicaraan itu bagi pendengar.
- Berbicara harus jelas dan tidak terlalu cepat.
Bunyi-bunyi
bahasa harus diucapkan secara tepat dan jelas. Kalimat harus efektif dan
pilihan kata pun harus tepat.
- Pandangan mata dan gerak-gerik yang membantu.
Hendaknya
terjadi kontak batin antara pembicara dengan pendengar. Pendengar merasa
diajak berbicara dan diperhatikan. Pandangan mata dalam kasus seperti ini
sangat membantu.
- Pembicara sopan, hormat, dan memperlihatkan rasa persaudaraan.
Siapapun
pendengarnya dan bagaimana pun tingkat pendidikannya pembicara harus
menghargainya. Pembicara tidak boleh
mudah terangsang emosinya sehingga mudah terpancing amarahnya.
- Dalam komunikasi dua arah, mulailah berbicara kalau sudah dipersilakan. Seandainya kita ingin mengemukakan tanggapan, berbicaralah kalau sudah diberi kesempatan. Jangan memotong pembicaraan orang lain dan jangan berebut berbicara.
- Kenyaringan suara.
Suara hendaknya
dapat didengar oleh semua pendengar dalam ruangan itu. Volume suara jangn terlalu lemah dan jangan
terlalu tinggi, apalagi berteriak.
- Pendengar akan lebih terkesan kalau ia dapat menyaksikan pembicara sepenuhnya. Usahakanlah berdiri atau duduk pada posisi yang dapat dilihat oleh seluruh pendengar.
C. Fungsi Berbicara
Dalam kehidupan sehari-hari, berbicara merupakan salah
satu kebutuhan mutlak manusia untuk dapat hidup bermasyarakat secara baik.
Sebagian besar kehidupan kita setiap harinya banyak didominasi oleh kegiatan
berbicara.
Menurut Haryadi (1994) ada beberapa
fungsi berbicara. Berbicara dalam
kehidupan dapat berfungsi sebagai:
- pemenuhan hajat hidup manusia sebagai makhluk sosial,
- alat komunikasi untuk berbagai urusan atau keperluan,
- ekspresi sikap dan nilai demokrasi,
- alat pengembangan dan penyebarluasan ide/pengetahuan,
- peredam ketegangan, kecemasan dan kesedihan.
D. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa
Keterampilan berbahasa memiliki empat komponen yang satu
sama lainnya memiliki hubungan yang sangat erat. Keempat komponen berbahasa
tersebut adalah:
- keterampilan menyimak (listening skills)
2. keterampilan berbicara (speaking skills)
- keterampilan membaca (reading skills)
- keterampilan menulis (writing skills)
(Nida, Harris,
dalam Tarigan, 1990)
Setiap
keterampilan berbahasa tersebut memiliki hubungan yang erat dengan tiga
keterampilan berbahasa lainnya. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya
kita melalui suatu hubungan urutan yang teratur: mula-mula pada masa kecil kita
belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita
belajar membaca dan menulis.
Untuk mempermudah dalam melihat hubungan
antarkomponen keterampilan berbahasa tersebut, perhatikan gambar berikut
ini.
langsung
apresiatif menyimak komunikasi berbicara
langsung
tatap muka produktif reseptif ekspresif
fungsional
Keterampilan
Berbahasa
![]() |
tak lang-
sung komunikasi
tak lang-
produktif menulis tidak sung
ekspresif tatap muka
membaca apresiatif reseptif
fungsional
Gambar 2:
Keterampilan berbahasa dan hubungannya satu sama lain (Tarigan, 1990)
Menurut Harris
(dalam Tarigan, 1990) ada beberapa komponen berbahasa yang perlu mendapat
perhatian dalam praktik keterampilan berbahasa. Komponen-komponen berbahasa
tersebut dapat dilihat pada gambar
berikut.
|
Komponen
|
|
Keterampilan
|
Berbahasa
|
|
|
|
Menyimak
|
Berbicara
|
Membaca
|
Menulis
|
|
fonologi
|
v
|
v
|
|
|
|
ortografi
|
-
|
-
|
v
|
v
|
|
struktur
|
v
|
v
|
v
|
v
|
|
kosa kata
|
v
|
v
|
v
|
v
|
|
kecepatan
kelancaran
umum
|
v
|
v
|
v
|
v
|
Gambar 3: Komponen-komponen yang perlu mendapat
perhatian
dalam praktik keterampilan
berbahasa
Hubungan
antara keterampilan berbicara dengan ketiga keterampilan berbahasa yang lain
adalah sebagai berikut:
1. Hubungan antara Berbicara dengan Menyimak
Menurut
Brooks (dalam Tarigan, 1990:4) berbicara
dan menyimak merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung,
merupakan komunikasi tatap muka atau face-to-face communication. Hal-hal
yang dapat memperlihatkan eratnya hubungan antara berbicara dan menyimak adalah
sebagai berikut:
a.
Ujaran
(speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi).
b.
Kata-kata
yang akan dipakai serta dipelajari oleh sang anak biasanya ditentukan oleh
perangsang (stimuli) yang mereka temui dan kata-kata yang paling banyak memberi
bantuan atau pelayanan dalam menyampaikan ide-ide atau gagasan mereka.
c.
Ujaran
sang anak mencerminkan pemakaian bahasa di rumah dan masyarakat tempatnya
hidup.
d.
Anak
yang lebih muda lebih dapat memahami kalimat-kalimat yang jauh lebih panjang
dan rumit daripada kalimat-kalimat yang dapat diucapkannya.
e.
Meningkatkan
keterampilan menyimak berarti membantu meningkatkan kualitas berbicara
seseorang.
f.
Bunyi
atau suara merupakan suatu faktor penting dalam meningkatkan cara pemakaian
kata-kata sang anak. Oleh karena itu, sang anak akan tertolong kalau mereka
menyimak ujaran-ujaran yang baik dari para guru dan lingkungan sekitarnya.
g.
Berbicara
dengan bantuan alat-alat peraga akan menghasilkan penangkapan informasi yang lebih baik pada pihak penyimak.
2. Hubungan antara Berbicara dengan Membaca
a.
Performansi
atau penampilan membaca berbeda sekali dengan kecakapan berbicara.
b.
Pola-pola
ujaran orang yang tunaaksara mungkin mengganggu pelajaran membaca bagi anak.
c.
Kalau
pada tahun-tahun awal sekolah, ujaran membentuk suatu dasar bagi pelajaran
membaca, maka membaca bagi anak-anak kelas yang lebih tinggi turut membantu
meningkatkan keterampilan berbicara mereka.
d.
Kosakata
khusus mengenai bahan bacaan haruslah diajarkan secara langsung. Apabila muncul
kata-kata baru dalam buku bacaan siswa, maka guru hendaknya mendiskusikannya
dengan siswa agar mereka memahami maknanya sebelum mereka mulai membacanya.
3.
Hubungan antara Berbicara dengan Menulis
a.
Anak belajar berbicara jauh sebelum dia dapat
menulis; dan kosakata, pola-pola kalimat serta organisasi ide-ide yang memberi
ciri kepada ujarannya merupakan dasar bagi keterampilan menulis berikutnya.
b.
Anak yang telah dapat berbicara dengan lancar
biasanya dapat pula menuliskan pengalaman-pengalaman pertamanya serta tepat
tanpa diskusi lisan pendahuluan tetapi dia masih perlu membicarakan ide-ide
yang rumit yang diperolehnya dari tangan kedua.
c.
Perbedaan-perbedaan antara berbicara dengan
menulis juga ada, di antaranya, keterampilan berbicara atau komunikasi lisan
cenderung ke arah kurang berstruktur, lebih sering berubah-ubah, tidak tetap
dan biasanya lebih kacau dan membingungkan daripada komunikasi tulis. Komunikasi tulis cenderung
lebih unggul dalam isi pikiran maupun struktur kalimat, lebih formal dalam gaya
bahasa dan jauh lebih teratur dalam pengertian ide-ide. Penulis biasanya telah
memikirkan dalam-dalam setiap kalimat
sebelum dia menulis naskahnya. Selain
itu, dia juga sering memeriksa serta memperbaiki kalimat-kalimatnya beberapa
kali sebelum dia menyelesaikan tulisannya.
d.
Pembuatan catatan serta bagan atau rangka
ide-ide yang akan disampaikan pada suatu pembicaraan akan menolong siswa untuk mengutarakan
ide-ide tersebut kepada para pendengar.
Para siswa harus belajar berbicara dari catatan-catatan, dan mereka membutuhkan banyak latihan berbicara dari
catatan agar penyajiannya tidak terputus-putus.
Menyimak
dan membaca erat berhubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan alat untuk
menerima komunikasi. Berbicara dan menulis erat berhubungan dalam hal bahwa
keduanya merupakan cara untuk mengekspresikan makna atau arti. Dalam
penggunaannya, keempat keterampilan berbahasa tersebut sering sekali saling
berhubungan.
BAB
II
FAKTOR KEBAHASAAN DAN NONKEBAHASAAN
DALAM BERBICARA
A. PENGGUNAAN BAHASA DALAM BERBICARA
Ada dua faktor penting yang harus
diperhatikan seseorang ketika akan meningkatkan keterampilan berbicaranya
ataupun ketika akan berbicara dengan orang lain. Kedua faktor penting tersebut
adalah faktor kebahasaan dan nonkebahasaan. Namun, sebelum diuraikan lebih
lanjut tentang faktor kebahasaan dan nonkebahasaan tersebut terlebih dahulu
akan diuraikan penggunaan bahasa dalam berbicara. Menurut Halliday dan Brown
(dalam Tarigan, 1990:13), penggunaan bahasa dalam berbicara menunjukkan adanya
pemanfaatan bahasa dalam fungsi: (1) instrumental, (2) regulasi, (3)
representasional, (4) interaksional, (5) personal, (6) heuristik, dan (7)
imajinatif.
1. Fungsi Instrumental
Dalam fungsi instrumental ini bahasa
bertindak untuk menggerakkan serta memanipulasi lingkungan yang menyebabkan
suatu peristiwa tertentu terjadi.
Misalnya: “Jangan memotong pembicaraan orang lain!”
“Para guru beranggapan bahwa
kamu bersalah”.
“Jangan pegang pisau itu!”
2. Fungsi regulasi atau pengaturan
Fungsi regulasi atau pengaturan menunjuk
pada penggunaan bahasa untuk mengatur dan melakukan pengawasan sehingga norma
yang telah ditetapkan dapat ditegakkan. Fungsi pengawasan ini kadang-kadang
sulit dibedakan dari fungsi instrumental. Ucapan “Saya menganggap kamu bersalah
dan menghukum kamu selama tiga tahun di penjara” bertindak sebagai fungsi
instrumental, tetapi ucapan “Demi keadilan untuk memperbaiki tindakanmu yang
tidak bermoral maka kamu akan disekap di penjara selama tiga tahun”, lebih
menonjolkan fungsi regulasi.
3. Fungsi representasional
Fungsi representasional bahasa adalah
penggunaan bahasa untuk membuat pernyataan-pernyataan, menyampaikan fakta-fakta
dan pengetahuan, menjelaskan atau melaporkan dalam pengertian “menggambarkan”
realitas yang terlihat oleh seseorang.
Contoh:
“Jalan Malioboro sangat ramai pada musim liburan sekolah”.
“Presiden SBY berkunjung ke Yogyakarta”.
4. Fungsi interaksional
Fungsi interaksional bahasa bertindak
untuk menjamin pemeliharaan sosial.
Kontak komunikasi antara sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari
untuk menjaga adanya hubungan sosial di antara mereka dapat tercipta dengan
baik melalui pembicaraan atau komunikasi dengan menggunakan bahasa tertentu.
Keberhasilan komunikasi interaksional menuntut pengetahuan mengenai bahasa
slang, jargon, lelucon, cerita rakyat, adat istiadat, sopan santun, dan
lain-lain yang ada dan hidup di lingkungan tempat kita berinteraksi dengan
sesama tersebut. Dengan pengetahuan tersebut, komunikasi yang dibina akan lebih
berhasil.
5. Fungsi Personal
Dalam berbicara atau berkomunikasi
seorang pembicara menggunakan bahasa untuk menyatakan perasaan, emosi,
kepribadian, reaksi-reaksi yang terkandung dalam sanubarinya. Kepribadian
seseorang biasanya ditandai oleh penggunaan fungsi personal komunikasinya. Dalam ciri personal bahasa jelas bahwa
kognisi atau pengertian, pengaruh, dan budaya saling mempengaruhi dengan
cara-cara yang belum banyak diselidiki.
6. Fungsi Heuristik
Fungsi bahasa heuristik ini melibatkan bahasa yang
dipergunakan untuk memperoleh pengetahuan, dan mempelajari lingkungan.
Fungsi-fungsi heuristik seringkali disampaikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan
yang menuntut jawaban-jawaban. Anak-anak khususnya memperlihatkan dengan jelas
penggunaan fungsi heuristik ini dalam pertanyaan-pertanyaan “mengapa” mengenai
dunia sekeliling mereka. Penyelidikan (atau “rasa ingin tahu”) merupakan suatu
metode heuristik untuk memperoleh pemerian-pemerian realitas dari orang lain.
7. Fungsi Imajinatif
Fungsi imajinatif bahasa bertindak
untuk menciptakan sistem-sistem atau
gagasan-gagasan imajiner. Bahasa dalam fungsi ini digunakan untuk menyampaikan
cerita secara lisan tentang cerita,
cerita novel, membuat cerita lelucon,
dan sebagainya. Melalui dimensi-dimensi imajinatif bahasa kita bebas menjelajah
ke seberang dunia yang nyata membumbung
tinggi ke atas ketinggian keindahan bahasa itu sendiri, dan melalui bahasa itu
menciptakan mimpi-mimpi yang mustahil, kalau kita menginginkannya.
B. Faktor Kebahasaan sebagai Penunjang Keefektifan Berbicara
Keefektifan berbicara seseorang sangat dipengaruhi oleh
faktor-faktor kebahasaan yang dikuasai olehnya. Faktor-faktor tersebut antara
lain adalah: ketepatan ucapan (tata bunyi), penempatan tekanan, nada, sendi,
dan durasi yang sesuai, pilihan kata (diksi), dan kalimat efektif.
1. Ketepatan Ucapan (Tata Bunyi)
Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan
bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat,
dapat mengalihkan perhatian pendengar. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang
tepat atau cacat tersebut juga dapat menimbulkan kebosanan, kurang
menyenangkan, atau kurang menarik. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa dianggap cacat
kalau menyimpang terlalu jauh dari ragam lisan biasa, sehingga terlalu menarik
perhatian, mengganggu komunikasi, atau pemakainya (pembicara) dianggap aneh.
Sampai saat
ini, bahasa Indonesia belum memiliki ucapan yang baku. Namun demikian, ucapan
atau tata bunyi bahasa Indonesia yang dianggap baku adalah tata bunyi yang
tidak terpengaruh oleh logat daerah atau dialek daerah tertentu. Seorang
pembicara yang baik dituntut untuk dapat menciptakan efek emosional yang
diinginkan dengan suaranya.
Pengucapan kata-kata harus jelas terdengar. Untuk itu,
gerakan alat-alat ucap terutama lidah, bibir, dan gigi harus leluasa. Gerakan
yang tertahan akan mengakibatkan suara yang keluar tidak normal, sehingga
kurang jelas terdengar. Demikian juga, volume suara harus pas, jangan terlalu
lemah dan jangan terlalu keras. Kalau menggunakan pengeras suara, volumenya
harus diatur sesuai dengan luasnya ruang dan banyaknya peserta.
Dalam
hubungannya dengan olah suara atau tata bunyi ini, Pringgawidagda (2003: 9)
menyampaikan hal-hal yang harus diperhatikan, berikut :
1.
Logat
baku tidak bercampur dengan dialek tak baku.
2.
Lafal
harus jelas dan tegas
3.
Nafas
yang kuat agar dapat menguraikan kalimat yang cukup panjang atau tidak terputus
dalam wicara.
4.
Tempo
(cepat lambat suara) dan dinamik (intonasi, tekanan, aksen) suara.
5.
Penghayatan,
berbicara memerlukan penjiwaan agar sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi.
Pengucapan
bunyi-bunyi bahasa yang tidak tepat akan menimbulkan kebosanan, kurang
menyenangkan atau kurang menarik atau sedikitnya dapat mengalihkan perhatian
pendengar.
2. Penempatan Tekanan, Nada,
Sendi, dan Durasi yang Sesuai
Kesesuaian
penempatan atau penggunaan tekanan, nada, sendi, atau tempo dan durasi akan
menjadi daya tarik tersendiri bagi pendengar. Bahkan kadang-kadang merupakan
faktor penentu. Kesalahan dalam penempatan hal-hal tersebut berakibat pada
kurang jelasnya isi dan pesan pembicaraan yang ingin disampaikan kepada lawan
bicara. Jika penyampaian materi pembicaraan datar saja, hampir dapat dipastikan
akan menimbulkan kejenuhan dan keefektifan berbicara tentu berkurang.
Sebaliknya,
kalau dalam berbicara seorang pembicara dapat menggunakan hal-hal tersebut
secara benar, maka pembicaraan yang dilakukannya akan berhasil dalam menarik
perhatian pendengar dan akhirnya pendengar menjadi senang, tertarik dan akan
terus mengikuti pembicaraan yang disampaikannya.
Tekanan berhubungan dengan keras lemahnya
suara, nada berhubungan dengan tinggi-rendahnya suara, sendi atau tempo
berhubungan dengan cepat-lambatnya berbicara, dan durasi atau jeda menyangkut
perhentian. Keempat hal itu harus dapat dipadukan secara serasi untuk
memperoleh intonasi yang baik dan menarik.
3. Pilihan Kata (Diksi)
Variasi pemakaian bahasa
dipengaruhi oleh situasi pembicaraan. Bentuk variasi itu dapat dilihat lewat
perwujudan lafal, ejaan, pilihan kata, dan tata kalimat. Faktor penting yang berpengaruh terhadap pilihan
kata adalah sikap pembicara, yakni sikap yang berkenaan dengan umur dan
kedudukan lawan bicara yang dituju, permasalahan yang disampaikan, dan tujuan
informasinya.
Dalam
berbicara, pilihan kata yang dilakukan hendaknya yang tepat, jelas, dan bervariasi.
Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran. Pilihan
kata dalam sebuah pembicaraan juga harus disesuaikan dengan pokok pembicaraan
dan dengan siapa kita berbicara atau berkomunikasi. Komunikasi akan berjalan
lancar dan baik apabila kata-kata yang
digunakan oleh pembicara dapat dipahami oleh pendengar dengan baik.
Dalam hal pemilihan kata ini, Glenn R. Capp dan Richard Capp, Jr.
(dalam Rachmat, 1999: 47-52) menyatakan bahwa bahasa lisan (termasuk pidato)
harus menggunakan kata-kata yang jelas, tepat, dan menarik.
Menggunakan
kata-kata yang jelas maksudnya bahwa kata-kata yang digunakan dalam
menyampaikan pesan kepada para pendengar tidak boleh menimbulkan arti ganda dan
tetap dapat mengungkapkan gagasan secara cermat. Untuk mencapai kejelasan
tersebut, pembicara harus memperhatikan hal-hal berikut:
1. Gunakan istilah yang spesifik (tertentu)
2. Gunakan kata-kata yang sederhana
3. Hindari istilah-istilah teknis
4. Berhemat dalam penggunaan kata-kata
5. Gunakan perulangan atau pernyataan kembali gagasan yang sama dengan
pernyataan yang berbeda.
Penggunaan
kata-kata yang tepat berarti bahwa kata-kata yang digunakan harus sesuai dengan
kepribadian komuniukator, jenis pesan, keadaan khalayak, dan situasi
komunikasi. Penggunaan kata-kata dalam pidato pertemuan resmi akan berbeda
dengan kata-kata yang digunakan dalam pidato pertemuan tidak resmi atau
informal. Untuk memperoleh ketepatan dalam penggunaan kata-kata, pembicara
perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
1. Hindari kata-kata klise
2. Gunakan bahasa pasaran secara hati-hati
3. Hati-hati dalam penggunaan kata-kata pungut
4. Hindari vulgarisme dan kata-kata yang tidak sopan
5. Jangan menggunakan penjulukan
6. Jangan menggunakan eufemisme yang berlebih-lebihan.
Selain harus tepat dan jelas, kata-kata yang digunakan
oleh seorang pembicara juga harus menarik, harus menimbulkan kesan yang kuat,
hidup, menarik perhatian para pendengarnya. Untuk dapat menggunakan kata-kata
yang menarik, pembicara harus memperhatikan hal-hal berikut:
1. Pilihlah kata-kata yang menyentuh langsung diri khalayak. Bahasa
lisan sebaiknya bergaya percakapan, langsung, dan komunikatif.
2. Gunakan kata berona, yaitu kata-kata yang dapat melukiskan sikap dan
perasaan, atau keadaan. Warna kata biasanya dipengaruhi oleh asosiasi dengan
pengalaman tertentu.
3. Gunakan bahasa yang figuratif, yaitu bahasa yang dibentuk sedemikian
rupa sehingga menimbulkan kesan yang indah. Untuk itu biasanya digunakan gaya
bahasa. Gaya bahasa yang paling sering dipergunakan adalah asosiasi, metafora,
personifikasi, dan antitesis.
4. Gunakan kata-kata tindak (action words), dengan cara
menggunakan kata-kata aktif.
4. Kalimat Efektif
Berbicara pada hakikatnya adalah menyampaikan kalimat-kalimat.
Kalimat terdiri dari kata-kata yang mengandung pengertian. Setiap gagasan, pikiran,
konsep, ataupun perasaan seseorang pada dasarnya akan disampaikan kepada orang
lain dalam bentuk kalimat-kalimat.
Segala pesan yang ingin disampaikan oleh seorang pembicara akan dapat
diterima dengan baik oleh pendengarnya apabila disampaikan dengan
kalimat-kalimat yang benar, baik, dan tepat.
Kalimat yang benar
adalah kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal, yaitu harus disusun
berdasarkan kaidah yang berlaku. Kalimat yang baik adalah kalimat yang sesuai
dengan konteks dan situasi yang berlaku. Kalimat yang tepat adalah kalimat yang
dibangun dari pilihan kata yang tepat, disusun menurut kaidah yang benar, dan
digunakan dalam situasi yang tepat pula. Kalimat yang benar dan jelas yang
dapat dengan mudah dipahami pendengar sesuai dengan maksud pembicara disebut
kalimat efektif.
Pesan yang
disampaikan dalam sebuah pembicaraan akan dapat dengan segera dipahami
maksudnya apabila digunakan kalimat efektif dalam pembicaraan itu. Kalimat
efektif memiliki ciri-ciri keutuhan, perpautan, pemusatan perhatian, dan
kehematan.
Ciri keutuhan dalam
kalimat efektif akan terlihat jika setiap kata yang dipergunakan memang
betul-betul merupakan bagian yang padu dalam
suatu kalimat. Keutuhan kalimat juga ditunjukkan dengan adanya subjek
dan predikat dalam kalimat tersebut. Perpautan, berhubungan dengan hubungan
antara unsur-unsur kalimat. Pemusatan perhatian pada bagian terpenting dalam
kalimat dapat dicapai dengan menempatkan bagian penting tersebut pada awal
atau akhir kalimat, sehingga bagian ini mendapat tekanan sewaktu berbicara.
Selain itu, kalimat efektif juga harus hemat dalam pemakaian kata-kata ataupun
frase .
Kalimat bisa
menarik kalau ada variasi. Variasi kalimat dapat dibentuk melalui perpaduan
panjang-pendek, letak SPOK, aktif-pasif, berita-tanya-perintah, dan pilihan
kata. Oleh karena itu, seorang pembicara
perlu melengkapi dirinya dengan pengetahuan tentang pola kalimat dasar dan
jenis kalimat. Dengan bekal itu seorang pembicara dapat menyusun
kalimat-kalimat efektif yang menarik dan mempesona.
C. Faktor Nonkebahasaan sebagai Penunjang Keefektifan Berbicara
Selain faktor-faktor kebahasaan,
dalam menunjang kefektifan berbicara, masih ada faktor lain yang juga turut
menunjang, yaitu faktor nonkebahasaan. Dalam proses komunikasi atau pembicraan,
faktor-faktor yang termasuk faktor nonkebahasaan tersebut adalah: (1) sikap
yang wajar, tenang, dan tidak kaku, (2) kontak mata atau pandangan harus
diarahkan kepada lawan bicara, (3) kesediaan menghargai pendapat orang
lain, (4) gerak-gerik dan mimik yang tepat,
(5) kenyaringan suara, (6) kelancaran, (7) relevansi atau penalaran, dan (8)
penguasaan topik.
1. Sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku
Kesan pertama dalam
berbicara dengan orang lain itu sangat menentukan keberhasilan dalam proses
pembicaraan berikutnya. Untuk itu, dalam berbicara seorang pembicara dituntut
untuk dapat bersikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku.
Sikap
dalam berbicara ini juga sangat bergantung pada situasi dan kondisi yang ada
pada saat seseorang melakukan pembicaraan atau menyampaikan pesan dalam pidato.
Dengan sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku dapat menambah kepercayaan
pendengar kepada pembicara.
Sikap wajar,
tenang, dan tidak kaku akan timbul dalam praktik berbicara salah satunya
disebabkan oleh penguasaan materi berbicara oleh pembicara. Kalau seorang
pembicara tidak atau kurang siap dengan materi pembicaraan yang akan
disampaikan maka akan timbul sikap-sikap yang kurang wajar dalam dirinya pada
saat berbicara. Selain penguasaan terhadap materi pembicaraan, faktor lain yang
perlu diperhatikan adalah kesiapan dan latihan yang cukup.
2.
Kontak mata atau pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara
Agar pembicaraan
yang dilakukan dapat berhasil maka seorang pembicara harus selalu menjalin
kontak pandang dengan audiensnya. Dengan kontak mata yang dilakukan, para
pendengar akan merasa diperhatikan dan betul-betul diajak berkomunikasi.
Pandangan mata atau
kontak mata ini bagi pembicara pemula memang sangat menentukan. Apabila kontak
mata yang dilakukan kurang berhasil atau pembicara kalah dalam kontak mata
dengan pendengarnya, maka akan terjadi gangguan dalam proses bicara
selanjutnya.
Kontak mata dalam
berbicara dimanfaatkan untuk menjalin
hubungan batin dengan lawan bicara atau audiens. Dalam berbicara,, seorang
pembicara dianjurkan untuk menatap orang yang diajak berbicara, sehingga
terjadi kontak mata yang menimbulkan keakraban dan kehangatan dalam berbicara.
Untuk itu, ketika
memandang seseorang atau pendengar, kalau masih ragu dan khawatir, jangan
memandang langsung matanya, tetapi pandanglah di atas matanya. Pandangan mata
ini juga harus dilakukan secara menyeluruh, jangan hanya pada bagian pendengar
tertentu saja. Akan lebih baik apabila sebelum berbicara khususnya di muka umum
untuk menyapu pendengar dengan pandangan mata yang sejuk dan bersahabat.
3. Kesediaan menghargai
pendapat orang lain
Dalam berbicara,
seorang pembicara harus terbuka dan mau menerima pendapat orang lain. Apabila
pendapat yang dikemukakan itu ada kekurangan atau kesalahannya, maka sebagai
pembicara harus mau menerima pendapat dan koreksian dari pihak lain.
Tentu saja
pendapat yang kita sampaikan tersebut harus disertai data dan argumentasi yang
akurat dan dapat dipercaya. Dalam menerima pendapat orang lain, harus
senantiasa dipertimbangkan dari berbagai hal terlebih dahulu, tidak semua saran
dan pendapat harus diterima secara mutlak.
4. Gerak-gerik dan mimik yang
tepat
Gerak gerik dan mimik yang tepat dalam sebuah pembicaraan dapat
mendukung dan memperjelas isi pesan yang akan disampaikan. Akan tetapi
gerak-gerik dan mimik ini akan menjadi gangguan dalam berbicara apabila
dilakukan secara berlebihan.
Gerak-gerik
dan mimik ini harus disesuaikan dengan pokok pembicaraan yang disampaikan.
Mimik juga harus disesuaikan dengan perasaan hati yang terkandung dalam isi
pesan pembicaraan yang dilakukan.
Gerak-gerik
berkaitan dengan penggunaan anggota badan untuk memperjelas pesan yang akan
disampaikan. Gerak-gerik dalam berbicara atau berkomunikasi antara lain adalah:
anggukan dan gelengan kepala, mengangkat tangan, mengangkat bahu, menuding,
mengangkat ibu jari, menuding, sikap berdiri, daan sebagainya.
Mimik adalah
ekspresi wajah yang berhubungan dengan perasaan yang terkandung dalam hati.
Agar pembicaraan dapat menyenangkan usahakan mimik yang menarik dan memikat,
salah satunya dengan banyak tersenyum.
5. Kenyaringan suara
Tingkat kenyaringan
suara ini tentunya juga disesuaikan dengan situasi, jumlah pendengar, tempat,
dan akustik. Yang penting, ketika berbicara, pendengar dapat menerima suara
pembicara dengan jelas dan enak didengar di telinga. Suara yang digunakan tidak
terlalu keras atau terlalu pelan. Ketika berbicara dengan mikrofon, maka jangan
sampai mikrofon tersebut terlalu dekat dengan mulut, karena suara yang dihasilkannya
akan kurang baik dan tidak nyaman didengarkan.
6. Kelancaran
Kelancaran dalam
berbicara akan memudahkan pendengar dalam menerima atau menagkap isi
pembicaraan. Apabila pembicara menguasai materi pembicaraan, maka dia akan
dapat berbicara dengan lancar tanpa adanya gangguan dalam proses
pembicaraannya.
Gangguan
atau ketidaklancaran dalam pembicaraan biasanya diakibatkan oleh ketidakmampuan
pembicara dalam menguasai materi pembicaraan yang akhirnya berakibat pada
ketidakmampuan dalam menguasai pendengar.
Kalau orang tidak lancar dalam berbicara, maka yang akan dikeluarkan
adalah suara-suara ee, oo, aa, dan sebagainya. Suara-suara seperti ini akan
sangat mengganggu proses berbicara dan mempersulit pendengar untuk menangkap
pokok pembicaraan, apalagi kalau frekuensi kemunculannya cukup banyak.
7. Relevansi/Penalaran
Gagasan demi gagasan haruslah berhubungan dengan logis. Proses
berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan haruslah logis. Hal ini berarti
hubungan bagian-bagian dalam kalimat, hubungan kalimat dengan kalimat harus
logis dan berhubungan dengan pokok pembicaraan.
Kalau dalam pembicaraan seorang
pembicara dapat memperhatikan relevansi atau penalaran dalam proses bicaranya
maka akan diperoleh pembicaraan yang efektif.
8. Penguasaan Topik atau
Materi Pembicaraan
Pembicaraan formal selalu menuntut persiapan. Tujuannyua supaya
topik yang dipilih betul-betul dikuasai. Penguasaan topik pembicaraan ini
sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam berbicara. Penguasaan topik
yang tidak sempurna akan sangat
mempengaruhi kelancaran dalam
berbicara, dan ketidaklancaran berbicara akan sangat berpengaruh terhadap
sikap dan mimik dalam berbicara.
Penguasaan
topik yang baik akan menumbuhkan keberanian dan kelancaran dalam menyampaikan
pembicaraan atau pesan. Jadi, penguasaan topik ini sangat penting, bahkan
merupakan faktor utama dalam berbicara, tanpa adanya penguasaan topik yang
baik, maka akan terjadi berbagai hambatan dan kesulitan dalam proses
pembicaraan di depan audiens.
Apabila seorang pembicara
dapat menguasai topik pembicaraan dengan baik maka dia sudah memiliki modal untuk berbicara. Dengan penguasaan
topik yang baik dan latihan yang cukup serta persiapan mental yang memadai akan
dapat menentukan keberhasilan sebuah praaktik berbicara.
BAB
III
BENTUK-BENTUK
KETERAMPILAN BERBICARA
Berbicara
sebagai bentuk komunikasi dapat dikelompokkan dalam berbagai bentuk tergantung
dasar pengelompokkan tersebut. Ada beberapa ahli yang mengelompokkan berbicara
atau komunikasi lisan dalam beberapa bentuk, di antaranya adalah yang dilakukan
oleh Haryadi (1994), yang membagi keterampilan berdasarkan jumlah partisipan,
cara pelaksanaan, lawan berbicara, maksud dan tujuan berbicara, dan tingkat
keformalannya.
A. Berdasarkan jumlah partisipan,
keterampilan berbicara dapat
dikeelompokkan menjadi dua bentuk, yaitu:
1.
Berbicara
perorangan
2.
Berbicara
kelompok
B. Berdasarkan cara pelaksanaannya,
keterampilan berbicara dapat dikelompokkan
menjadi dua bentuk, yaitu:
1.
Berbicara
secara langsung
2.
Berbicara
secara tidak langsung
C. Berdasarkan lawan bicara,
keterampilan berbicara dapat dikelompokkan menjadi empat bentuk, yaitu:
1.
Satu
lawan satu
2.
Satu
lawan banyak
3.
Banyak
lawan satu
4.
Banyak
lawan banyak
D. Berdasarkan maksud atau tujuan berbicara,
keterampilan berbicara dapat dikelompokkan menjadi sembilan bentuk, yaitu:
1.
Memberi
perintah atau instruksi
2.
Memberi
nasihat
3.
Memberi
saran
4.
Berpidato
5.
Mengajar
atau memberi ceramah
6.
Berapat
7.
Berunding
8.
Pertemuan
9.
Menginterview
E.
Berdasarkan tingkat keformalannya, keterampilan berbicara dapat dikelompokkan
menjadi tiga bentuk, yaitu:
1.
Berbicara
formal
2.
Berbicara
semi formal
3.
Berbicara
informal
Selain itu ada
juga yang membagi berbicara menjadi beberapa bentuk, antara lain dikemukakan
oleh William B. Ragam (dalam Haryadi, 1994) yang membuat daftar bentuk-bentuk
ekspresi lisan menjadi sebelas, yaitu:
1.
Cakapan
informal
2.
Diskusi
dengan maksud dan tujuan tertentu
3.
Menyampaikan
berita, pengumuman, dan melaporkan
4.
Memainkan
drama
5.
Khotbah
6.
Bercerita
7.
Cakap
humor
8.
Mengisi
acara radio
9.
Rapat
organisasi
10.
Menggunakan
telepon
11.
Memberi
pengarahan
Henry Guntur
Tarigan ( 1983: 22-23) membagi keterampilan berbicara menjadi:
1.
Berbicara di muka umum pada masyarakat (public speaking) yang menyangkut:
a. Berbicara dalam
situasi-situasi yang bersifat memberitahu atau melaporkan, yang bersifat
informatif (informative speaking)
b. Berbicara dalam
situasi-situasi yang bersifat kekeluargaan, persahabatan (fellowship
speaking)
c. Berbicara dalam
situasi-situasi yang bersifat membujuk, mengajak, mendesak, meyakinkan (persuasive
speaking)
d. Berbicara dalam
situasi-situasi yang bersifat merundingkan dengan tenang dan hati-hati (deliberative
speaking)
2. Berbicara pada konferensi (conference
speaking) yang meliputi:
a.
Diskusi kelompok (group discussion) yang dapat dibedakan menjadi:
(1)
Tidak resmi (informal), dan masih dapat diperinci lagi atas kelompok
studi (study groups), kelompok pembuat kebijakan (policy making groups) dan komite,
(2)
Resmi (formal) yang mencakup pula konferensi, diskusi panel, dan simposium.
b.
Prosedur parlementer (parliamentary prosedure)
c.
Debat
Sementara itu
Lee dan Lee (dalam Haryadi, 1994) mengelompokkan keterampilan berbicara
menjadi sebelas macam, yaitu:
1.
Percakapan
dan diskusi
2.
Berita,
pengumuman, dan laporan
3.
Rencana
dan evaluasi
4.
Kegiatan
dramatik
5.
Penampilan
kesenangan masyarakat
6.
Khotbah
7.
Bercerita
informal tentang lelucon dan teka-teki
8.
Pembicaraan
dalam dewan
9.
Rapat
organisasi
10.
Acara
radio dan televisi
11.
Mempersiapkan
rekaman
Muhajir dan A. Latif (1975:47) membagi berbicara menjadi tujuh
bentuk, yaitu:
1.
Diskusi
2.
Wawancara
3.
Sandiwara
4.
Deklamasi
5.
Konversasi
6.
Berpidato
7.
Bercerita
Dori Wuwur Hendrikus (1991:
16-17) mengemukakan dua bentuk retorika, yaitu:
1.
Monologika
2.
Dialogika
Asdi S. Dipodjojo (1982) mengemukakan
dua macam bentuk komunikasi lisan, yaitu:
1.
Retorika
2.
Dialektika
Be Kim Hoa Nio
(dalam Haryadi, 1994) membagi keterampilan berbicara ke dalam bentuk-bentuk:
1.
Berbicara
terpimpin, antara lain latihan frase dan kalimat, reproduksi gambar dan reproduksi
lisan, dialog yang diperankan atau dialog dengan gambar/wayang,
2.
Berbicara
semi terpimpin, seperti reproduksi cerita, cerita berantai, melaporkan isi
bacaan secara lisan,
3.
Berbicara
bebas, seperti diskusi, wawancara, berpidato, dan bermain peran.
BAB IV
MONOLOG
Monolog
adalah kegiatan berkomunikasi atau berbicara yang dilakukan dalam satu arah.
Dalam monolog ini hanya ada seorang pembicara, dan yang lain sebagai pendengar.
Pembicaraan hanya terjadi dalam satu arah. Yang termasuk dalam bentuk berbicara
monolog dan akan dibahas dalam bab ini adalah
perkenalan, bercerita, dan pembawa acara. Pidato juga termasuk jenis
monolog, namun karena pidato ini memerlukan uraian yang panjang, maka dalam diktat
Berbicara Retorik yang sederhana ini masalah pidato akan dibahas dalam bab
tersendiri.
A. Perkenalan
Perkenalan
merupakan salah satu kegiatan berbicara yang sering dilakukan dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan perkenalan ini kita akan dikenal oleh orang lain dan akan
menjadikan hubungan yang akrab. Perkenalan dapat dilakukan sendiri dan juga
bisa diperkenalkan oleh orang lain. Dalam perkenalan, ada hal-hal yang perlu
mendapat perhatian dari orang yang
memperkenalkan diri, atau pun orang yang diperkenalkan. Hal-hal yang akan
disebutkan atau diperkenalkan perlu diperhatikan karena budaya daerah tertentu
juga mempengaruhi apa yang akan disebutkan. Masalah usia kadang ada orang yang
merasa tidak suka untuk disebutkan dalam
perkenalan.
Widyamartaya (2002: 22-23) mengemukakan bahwa perkenalan
dapat dilakukan dengan menyebutkan hal-hal berikut:
1.
Sekitar
nama, makna dan latar pemberian nama, lebih-lebih bila ada sesuatu yang
istimewa terkait dengan nama tersebut,
2.
Sekitar
tempat tinggal: ceritakan tentang rumah, desa atau kampung Anda, lebih-lebih
sesuatu yang istimewa, dan sebagainya,
3.
Sekitar
hobi, sebab memilih hobi itu, bagaimana memupuk hobi itu, sudah berapa lama
berlangsung, dan sebagainya,
4.
Sekitar
keluarga, jumlah saudara, jumlah yang sudah berkeluarga/bekerja dan yang masih
sekolah, pekerjaan ayah dan ibu, dan sebagainya,
5.
Sekitar
cita-cita
6.
Pendidikan
atau instansi tempat bekerja, dan sebagainya.
Dalam acara seminar atau acara yang lain,
biasanya perkenalan dilakukan oleh orang lain, biasanya pemimpin sidang atau
moderator. Hal-hal yang perlu diperkenalkan menurut Haryadi ( 1994) antara lain
adalah:
1. Nama pembicara termasuk gelar,
2. Instansi dan jabatannya,
3. Pengalaman di bidang akademik serta riwayat pekerjaannya,
4. Pusat perhatian ilmiahnya,
5. Data hasil penelitian serta karya ilmiahnya terutama yang berkaitan
dengan topik pembicaraan.
Menurut Asdi S.
Dipodjojo (1982: 45-46) untuk memperkenalkan pembicara ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan, yaitu:
1.
Lakukan
perkenalan itu dengan sungguh-sungguh, penuh khitmat dan hormat. Hindari sikap
dan suara yang bernada sinis dalam memperkenalkan pembicara.
2.
Lakukan
yang wajar, artinya hormat dan khitmat tetapi tidak berlebih-lebihan atau over
acting.
3.
Perkenalan
boleh juga dibumbui dengan humor dalam batas tetap menjaga perasaan pembicara,
4.
Usahakan
jangan terlalu banyak memakan waktu untuk perkenalan itu, sehingga perhatian
pendengar tidak terpindahkan dari pembicara ke ketua sidang,
5.
Berbicaralah
yang cukup terpindahkan dari pembicara
ke ketua sidang,
6.
Berbicaralah
yang cukup keras dan jelas, berilah tekanan kata-kata yang perlu, misalnya nama
pembicara, judul pembicaraan, dan lain-lain.
B. Bercerita
Bercerita
atau mendongeng adalah menyampaikan rangkaian peristiwa yang dialami oleh sang
tokoh. Tokoh cerita tersebut dapat
berupa manusia, binatang, dan makhluk-makhluk lain, baik tokoh-tokoh nyata
maupun tokoh-tokoh rekaan.
Sebelum
bercerita, perlu dilakukan pemilihan cerita yang akan disampaikan. Menurut
Wilson Nadeak (1987: 15) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih
cerita, di antaranya adalah:
1. Untuk siapa cerita itu?
2. Apa yang hendak dikemukakan atau diajarkan melalaui cerita itu?
3. Bagaimana sumbernya, apakah layak dipercaya?
4. Apakah akan membangkitkan rasa pemberani, penurut, atau pengabdi?
5. Apakah cerita itu memang baik untuk diceritakan?
Dalam menyampaikan cerita atau bercerita harus
memperhatikan unsur-unsur cerita yang ada dalam cerita. Unsur cerita yang
diperhatikan tersebut antara lain adalah: (1) para tokoh dengan karakternya
masing-masing, (2) setting atau latar tempat terjadinya peristiwa, (3) alur
atau jalan cerita, dan (4) amanat atau tema cerita.
Menurut Haryadi (1994) keterampilan bercerita ini
menuntut berbagai kemampuan, di antaranya adalah kemampuan:
1.
mengingat-ingat
unsur cerita,
2.
menggunakan
bahasa yang baik secara improfisasi,
3.
meragakan
adegan,
4.
menyelipkan
humor yang segar,
5.
menghayati
cerita, dan
6.
menyampaikan
amanat.
Sementara
itu, latihan bercerita dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan, antara lain:
1. Reproduksi cerita, yaitu dengan cara membaca cerita, memahami dan mengahayatinya kemudian menceritakan
cerita tersebut kepada pihak lain.
2. Cerita berantai, yaitu dengan cara bercerita yang dilakukan oleh
seseorang kepada temannya, dan temannya ini diminta menceritakan kembali kepada
teman lainnya, dan seterusnya sampai semua mendapat giliran untuk menyampaikan
cerita yang diterimanya kepada teman yang lain, dan
3. Bercerita bebas, yaitu
bercerita tentang pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain yang dianggap
paling menarik dalam hidup secara bebas.
C. Pembawa Acara
Pembawa acara adalah orang
yang pertama berbicara dalam suatu acara.
Sebagai pembicara pertama, dia harus dapat menarik perhatian hadirin
untuk segera merasa terlibat dalam pertemuan itu. Kalau seorang pembawa acara
dapat menarik perhatian hadirin atau audiens maka acara akan dapat berjalan
dengan lancar dan baik, tetapi kalau gagal dalam menarik perhatian mereka maka
akan menjadikan acara yang pandunya menjadi tidak berhasil. Bahkan Wiyanto dan
Astuti (2004) menyatakan bahwa kunci kesuksesan sebuah acara berada di tangan
pembawa acara.
Menurut Wiyanto dan Astuti (2004), pembawa acara sering
disebut sebagai MC (Master of Ceremony). Kedua istilah ini oleh
masyarakat sering dipakai bergantian dengan arti yang sama. Kadang-kadang
mereka menyebutnya pembawa acara, dan kadang-kadang juga menyebutnya MC. Kedua istilah itu sebenarnya berbeda walaupun
ada unsur persamaannya. Pembawa acara dapat bertugas pada acara resmi dan tidak
resmi, sedangkan MC hanya bertugas dalam acara tidak resmi. Dengan demikian,
dalam acara tidak resmi pemandu acaranya dapat disebut pembawa acara dan juga
dapat disebut MC.
Selain istilah pembawa acara dan MC, masyarakat juga
mengenal dan sering menggunakan istilah
protokol. Ada anggota masyarakat yang menggunakan istilah protokol ini dengan arti yang sama dengan istilah pembawa
acara atau MC, padahal istilah protokol dengan pembawa acara dan MC ini
memiliki arti yang berbeda.
Kata protokol dalam KBBI
(1990:704) diartikan sebagai: (1) surat-surat resmi yang memuat hasil
perundingan (persetujuan, dsb.); (2) peraturan upacara di istana kepala negara
atau berkenaan dengan penyambutan tamu-tamu negara, dsb.; (3) orang yang
bertugas mengatur jalannya suatu upacara; (4) jalan yang menjadi pusat
keramaian lalu-lintas kota.
Kata protokol
yang aslinya berasal dari bahasa Yunani, dalam bahasa Indonesia mula-mula
diartikan sebagai tata tertib pergaulan internasional atau sopan-santun
diplomatik. Dari pengertian ini kemudian berkembang sehingga istilah protokol
diterapkan juga untuk upacara-upacara yang meliputi segala bentuk pertemuan,
baik yang bersifat nasional maupun internasional, dan juga upacara yang resmi
maupun setengah resmi, kenegaraan maupun sosial kemasyarakatan (Suyuti, 2002:
91). Semua hal yang mengatur pelaksanaan suatu kegiatan disebut dengan istilah
protokoler.
Dalam
hubungannya dengan praktik keprotokolan yang sesungguhnya Haryadi (1994)
mengemukakan adanya beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, di antaranya:
1.
Mengikuti
rapat-rapat panitia sejak awal sehingga mengetahui rencana awal dan
perubahan-perubahan yang terjadi,
2.
Mengetahui
secara mendalam tentang bentuk kegiatan, penanggung jawab kegiatan, pelaksana
kegiatan, teknik pelaksanaan, perlengkapan yang diperlukan, dan susunan acara.
3.
Menguasai
susunan acara dan petugasnya,
4.
Mempersiapkan
scrip atau konsep wacana yang akan disampaikan,
5.
Menunjuk
salah seorang sebagai pembantu/penghubung atau stage manager yang menjadi
penghubung antara pembawa acara dan pelaksana.
Satrio Wuryanto (1991: 3-4) mengemukakan
beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seseorang yang menjadi pembaca acara
atau MC, antara lain adalah:
1.
Seorang
yang akan menjalankan tugas sebagai pembawa acara hendaknya memiliki (a) sikap
yang tegas dan disiplin yang tinggi, (b) volume suara yang konstan dan mantap,
(c) kemampuan menguasai bahasa secara baik, baik bahasa Indonesia maupun bahasa
asing, (d) kepekaan terhadap situasi, dalam arti mampu menguasai keadaan dan
mampu mengambil keputusan, (e) sifat tidak mudah tersinggung, dan (f)
berkepribadian.
2.
Pembawa
acara adalah kemudi dari seluruh pelaksanaan kegiatan acara, oleh sebab itu
harus terampil dengan cepat dan tanggap dalam membaca situasi.
3.
Harus
dapat menempatkan diri cukup sopan dan simpatik
4.
Mengetahui
tempat posisi berdiri yang tepat (menguasai arena kegiatan).
5.
Pandai
mengatur volume suara.
6.
Tidak
dibenarkan pembawa acara mengulas atau memberi komentar pidato seseorang.
7.
Mampu
menguasai massa.
Sebagaimana
orang berpidato, pembawa acara juga harus memperhatikan hal-hal yang terkait
dengan penampilannya di depan umum. Menurut Wiyanto dan Astuti (2004), beberapa
hal yang harus diperhatikan tersebut antara lain adalah:
1. Cara Berpakaian
Seorang pembawa acara harus berpakaian bersih, rapi, dan sesuai dengan
acara yang dipandunya.
2. Cara Bersikap
Pembawa acara harus dapat tampil tenang, wajar, dan sopan. Pembawa acara yang
tidak tenang, apalagi tingkah lakunya dibuat-buat, akan memberikan kesan yang
kurang baik.
3. Cara Memandang Hadirin
Pembawa acara harus memandang semua hadirin,
baik yang berada di sebelah kiri maupun sebelah kanan, baik yang ada di depan
maupun yang ada di belakang.
4. Cara Berdiri
Pembawa acara harus berdiri, kecuali apabila
acaranya dihadiri oleh undangan yang
sangat terbatas dan semuanya duduk. Dalam situasi wajar, pembawa acara terkesan
kurang sopan kalau tidak berdiri. Cara
berdirinya pun harus tegak jangan membungkuk. Jangan berdiri kaku seperti
robot, tetapi juga jangan terlalu santai seperti mengobrol dengan teman.
5. Cara Memegang Mikrofon
Mikrofon yang sudah ada standarnya jangan
dipegang-pegang. Selain menimbulkan bunyi mendengung, juga mengesankan bahwa
pembawa acara tidak tenang. Pada awalnya memang boleh dipegang untuk memastikan
bahwa mikrofon sudah siap dan untuk mengatur posisi yang pas. Posisi yang baik adalah jarak antara mikrofon
dan mulut tidak terlalu dekat, kira-kira 20 cm saja.
6. Cara Memegang Catatan
Pembawa acara sebaiknya membawa kertas
berisi catatan susunan mata acara. Dengan adanya catatan
yang setiap saat dapat dilihat pembawa acara, akan memberikan kesan bahwa acara
demi acara sudah direncanakan dan dipersiapkan
dengan matang.
Cara membawa catatan juga tergantung pada
situasi. Dalam siatuasi resmi, biasanya catatan itu berupa daftar susunan acara yang sudah diketik rapi pada kertas dan
diletakkan dalam map. Cara memegangnya, pembawa acara berdiri tegak dan kedua
tangannya memegang map berisi susunan acara yang akan dibacakan. Setiap selesai
dibaca, map itu ditutup lalu dipegang oleh kedua tangan.
Dalam acara setengah resmi atau tidak resmi,
kertas kecil yang berisi catatan susunan acara dipegang tangan kiri, sementara
tangan kanan dapat digerak-gerakkan secara spontan menyertai pembicaraan.
7. Cara Mengakhiri Acara
Kalau semua mata acara yang direncanakan
sudah terlaksana dan acara sudah dinyatakan selesai, pembawa acara harus tetap
berdiri sambil memandang hadirin yang
bergerak keluar. Dengan cara seperti ini, pembawa acara bermaksud mengucapkan
terima kasih kepada hadirin yang telah mengikuti acara demi acara dengan tertib.
Menurut Suyuti (2002: 105), tugas utama
pembawa acara adalah:
1. Menginformasikan urutan acara yang akan berlangsung dan memandunya
dari awal hingga selesai.
2. Mengusahakan segenap hadirin tertarik untuk mengikuti jalannya
upacara dengan seksama, serta mengusahakan agar mereka tetap dapat mengikuti
seluruh rangkaian acara dengan tenang hingga akhir.
3. Mengupayakan agar sebuah rangkaian acara berjalan dengan baik, tertib, dan lancar
sejak awal hingga akhir.
Agar tugas-tugas pokok tersebut dapat
berjalan dengan baik, maka secara teknis seorang pembawa acara harus
melaksanakan hal-hal berikut ini:
1. Menyusun mata acara.
2. Mengecek alat pengeras suara terutama mikrofon, baik yang akan
digunakan sendiri maupun oleh pembicara lain
3. Mengecek kesiapan acara terutama terhadap orang-orang yang diberi
tugas sebagai pengisi acara
4. Mengecek kehadiran pembicara inti dan para undangan khusus
5. Mengumumkan acara demi acara menurut urutan dan tempo yang telah
ditentukan. Demi tertibnya upacara, seorang pembawa acara harus mengatur
pembagian waktu secara cermat dan proporsional
6. Membawakan acara demi acara dari awal sampai akhir dengan
sebaik-baiknya, penuh tanggung jawab dan professional
7. Di dalam mengantarkan acara pembawa acara harus pandai memilih
bahasa dan uraian yang bersifat menghormat, bukan perintah
8. Apabila diperlukan komentar terhadap isi pembicaraan hendaknya
dilakukan secara selektif, yakni untuk hal-hal yang pokok dan penting saja
9. Menyimak jalannya upacara dengan seksama terutama menyimak setiap
mata acara yang telah dipandunya.
Secara
umum, acara dapat dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu: acara resmi, acara
keagamaan, acara kekeluargaan, dan acara hiburan (Wiyanto dan Astuti, 2004).
Secara umum, dalam membawakan sebuah acara, sebelum acara dimulai, pembawa
acara dapat memberitahukan bahwa acara akan segera dimulai dan meminta
peserta/undangan untuk menempatkan diri dan duduk dengan tenang, kursi depan
yang masih kosong mohon diisi dulu.
A. Acara Resmi
Acara
resmi diselenggarakan oleh instansi, baik instansi negeri maupun swasta. Acara
resmi dilaksanakan secara resmi, sesuai dengan ketentuan yang sudah baku,
demikian pula pakaian yang dikenakan para peserta juga sudah ditentukan. Untuk
penyelenggaraan acara resmi biasanya didahului dengan penyelenggaraan gladi
beberapa kali, mulai dari gladi kotor sampai dengan gladi bersih. Susunan acara dalam acara resmi sudah baku,
sesuai dengan ketentuan.
Yang
termasuk acara resmi antara lain sebagai berikut:
1. Upacara Bendera
2. Upacara Peringatan Hari Besar
Nasional
3. Upacara Pelantikan Pejabat
4. Upacara Serah Terima Jabatan
5. Upacara Penandatanganan Naskah Kerja Sama
6. Upacara Pembukaan/Penutupan Seminar
7. Upacara Wisuda
8. Upacara Promosi Doktor
9. Upacara Pengukuhan Guru Besar
10. Upacara Dies Natalis, dan sebagainya.
Berikut ini
salah satu contoh susunan acara resmi
dalam kegiatan pembukaan seminar.
Acara Pembukaan Seminar
a.
Pembukaan
b.
Prakata/Laporan
Ketua Panitia Pelaksana Seminar
c.
Sambutan
Pejabat atasan pelaksana Seminar dilanjutkan dengan pembukaan seminar secara
resmi
d.
Istirahat
e.
Pidato
pengarahan pejabat tertentu
f.
Persidangan
seminar
Dalam
acara resmi, biasanya susunan acara sudah tertulis rapi. Pembawa acara tinggal
membacanya. Ia juga boleh menambahkan salam pada saat membuka acara dan menyapa
para peserta. Misalnya: “Selamat pagi, Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh, atau salam lain. Sapaan yang biasa digunakan “Ibu-ibu,
Bapak-bapak, dan Saudara-saudara yang saya hormati. Kadang-kadang sapaan
itu hanya berbunyi “Saudara-saudara yang berbahagia.
Dalam
acara resmi, sapaan tidak harus ada. Biasanya ada pembawa acara yang membuka
acaranya secara langung, seperti contoh berikut.
Upacara pembukaan seminar dengan
tema …………. Sabtu, 30 Oktober ….. dimulai, dengan susunan acara sebagai
berikut:
………………………..
………………………..
………………………..
………………………..
Acara
pertama, ………….
B. Acara Keagamaan
Sesuai dengan namanya, acara keagamaan diselenggarakan
oleh pemeluk agama tertentu. Ada dua macam acara keagamaan, yaitu yang bersifat
ibadah dan yang bersifat seremonial.
Acara ibadah dilaksanakan sesuai dengan tuntunan agama, sedangkan acara
seremonial dipengaruhi oleh budaya atau kebiasaan masyarakat setempat. Dalam
agama Islam misalnya, acara shalat Idul Fitri dan Idul Adha di masjid ataupun
di lapangan termasuk acara ibadah, sedangkan acara syawalan atau halalbihalal
yang terkait dengan hari raya Idul Fitri termasuk acara seremonial.
Acara keagamaan yang bersifat ibadah hanya dihadiri oleh
pemeluk agama yang bersangkutan saja, sedangkan acara keagamaan yang bersifat
seremonial bisa dihadiri oleh pemeluk agama lain. Susunan acara dalam acara
keagamaan disusun berdasarkan agama masing-masing. Dalam membawakan acara pada
acara keagamaan perlu memperhatikan hal-hal yang terkait dengan tuntunan dalam
agama yang bersangkutan.
Berikut ini
contoh susunan acara untuk berbagai pertemuan dalam acara keagamaan khususnya
peringatan hari besar agama.
1. Pembukaan
3.
Prakata
Panitia
4.
Sambutan-sambutan
(Secara
berjenjang dari pejabat yang paling bawah)
5.
Uraian
tentang makna peringatan tersebut
6.
Istirahat/
Kesenian
7.
Doa
8.
Penutup
Dalam membuka
acara keagamaan, pembawa acara umumnya
mengucapkan salam khas/kutipan ayat-ayat kitab suci. Dalam acara keagamaan
agama Islam, misalnya, selain mengucapkan salam
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”, juga mengucapkan
hamdalah “Alhamdulillah … dan
kutipan ayat Alquran. Setelah itu, ia mengumumkan bahwa acara dimulai dan
memberitahukan acara-acara yang akan dilaksanakan.
C. Acara Kekeluargaan
Acara kekeluargaan biasanya diselenggarakan oleh
perseorangan berkaitan dengan hajat keluarga. Susunan acara dalam acara
kekeluargaan ini biasanya mengikuti budaya yang berlaku di suatu daerah/adat
setempat. Tetapi mengikuti budaya ini juga tidak menjadi suatu keharusan.
Dengan pertimbangan tertentu, susunan acaranya dapat diubah sesuai dengan
selera orang yang memiliki hajat dan juga situasi yang dihadapi.
Yang termasuk acara kekeluargaan antara lain sebagai
berikut.
1.
Syukuran
2.
Ulang
tahun
3.
Khitanan
4.
Tunangan
5.
Resepsi
pernikahan, dan sebagainya.
Berikut ini
contoh susunan acara salah satu acara kekeluargaan, yaitu resepsi pernikahan.
1.
Pembukaan
2.
Pembacaan
Ayat-ayat suci Alquran dan terjemahannya
3.
Sambutan
Tuan Rumah
4.
Sambutan
Wakil Pengiring Mempelai
5.
Nasihat Pernikahan
6.
Penutup
(ramah-tamah)
Acara kekeluargaan sifatnya tidak resmi.
Untuk itu, pembawa acara tidak terlalu terikat. Ia memiliki kelonggaran untuk
berkreasi dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi agar acara yang dipandunya
menjadi lebih menarik.
D. Acara Hiburan
Acara
hiburan mengutamakan pementasan yang
diharapkan dapat menghibur para penonton. Pementasan yang ditampilkan ada
kalanya hanya satu jenis, tapi ada pula acara hiburan yang menampilkan berbagai
jenis pementasan atau hiburan, misalnya pada acara gebyar seni 17 Agustus.
Yang termasuk acara hiburan antara lain adalah.
1.
Malam
kesenian
2.
Panggung
gembira
3.
Pentas
seni
4.
Gebyar
seni
5.
Pagelaran
Musik
Contoh susunan
acara hiburan antara lain seperti berikut ini.
1.
Pembukaan
2.
Sambutan
(singkat)
3.
Hiburan
(musik, tari, baca puisi, dsb.)
4.
Penutup
Acara hiburan ini sifatnya gembira.
Orang-orang yang datang pada acara itu juga berharap bisa terhibur, senang, dan
gembira. Untuk memenuhi hal itu, pembawa acara memiliki peran yang sangat
penting. Pembawa acara harus pandai menyiasati situasi dan terampil membuat
suasana gembira.
Cara yang dapat
digunakan antara lain dengan memuji undangan/hadirin tentang pakaiannya,
ketertibannya, semangatnya, atau yang lainnya. Juga secara optimis
memberitahukan bahwa hiburan yang akan disajikan berkualitas tinggi, sehingga
mampu menghibur hadirin. Pembawa acara dapat menyampaikan pujian-pujian tersebut
secara kocak, lucu, dan menghibur.
Kelancaran
perpindahan dari satu mata acara ke mata acara
yang lain menjadi tanggung jawab pembawa acara. Dalam acara resmi, ia
cukup menyebutkan/membacakan acara berikutnya, kalau petugas sudah kembali ke
tempatnya. Tidak perlu ada komentar
tambahan selain yang tertulis dalam susunan acara. Dalam acara setengah resmi,
pembawa acara bisa menambahkan komentar seperlunya yang amat singkat. Dalam
acara tidak resmi, pembawa acara dapat menambahkan komentar, ilustrasi, humor,
atau yang lainnya, di antara mata acara yang satu dengan yang lainnya.
Komentar, ilustrasi, humor, dan lain-lainnya itu harus disesuaikan dengan
situasi dan tidak ada yang merasa tersinggung atau kurang dihargai.
BAB
V
PIDATO
Pidato
merupakan salah satu bentuk kegiatan berbicara yang sangat diperlukan dalam
kehidupan sehari-hari. Setiap ada acara, baik acara formal maupun informal
selalu ada kegiatan berpidato, dari pidato sambutan sampai pada pidato
penyampaian informasi ataupun pidato ilmiah. Keterampilan berpidato tidak
begitu saja dapat dimiliki oleh seseorang, tetapi memerlukan latihan yang cukup
serius dan dalam waktu yang cukup, kecuali bagi mereka yang memang memiliki
bakat dan keahlian khusus.
Menurut
Hadinegoro (2003:1) pidato adalah pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata
yang ditujukan kepada orang banyak, atau wacana yang disiapkan untuk diucapkan
di depan khalayak, dengan maksud agar para pendengar dapat mengetahui,
memahami, menerima serta diharapkan bersedia melaksanakan segala sesuatu yang
disampaikan kepada mereka ( Hadinegoro, 2003:1).
Dalam kehidupan sehari-hari pidato memiliki beberapa fungsi,
di antaranya adalah:
1. Memberikan informasi (to
inform),
2. Menghibur (to intertain),
3. Membujuk (to persuade),
4. Menarik perhatian (to
interest),
5. Meyakinkan (to convince),
6. Memperingatkan (to warn),
7. Membentuk kesan (to
impress),
8. Memberikan instruksi (to
instruct),
9. Membangun semangat (to
arouse),
10. Menggerakkan massa (to
more), dan lain-lain.
A. Persiapan Pidato
Pidato merupakan salah satu kegiatan yang memerlukan
persiapan yang cukup. Persiapan pidato ini memiliki peran yang penting karena
dengan persiapan yang dilakukan dengan baik, pidato yang akan dilakukan dapat
berjalan dengan lancar dan sukses. Terkait dengan persiapan dan latihan dalam
berpidato ini, Gorys Keraf (1997:317) mengemukakan tujuh langkah dalam
mempersiapkan pidato, yaitu:
1.
menentukan
topik dan tujuan
2.
menganalisis
pendengar dan situasi
3.
memilih
dan menyempitkan topik
4.
mengumpulkan
bahan
5.
membuat
kerangka uraian
6.
menguraikan
secara mendetail, dan
7.
melatih
dengan suara nyaring.
Ketujuh langkah
tersebut dapat diringkas menjadi tiga langkah yang tetap, yaitu: meneliti
masalah (1, 2, dan 3), menyusun uraian (4, 5, dan 6), dan mengadakan latihan
(7).
Dalam kaitannya dengan persiapan pidato dan
pemilihan topik ini banyak hal yang ada di sekitar kita yang dapat digunakan
sebagai sumber topik dalam menyusun
pidato. Thompson (dalam Rachmat, 1999: 20-23) mengemukakan susunan sumber topik
yang dapat dipakai dalam persiapan pidato, yaitu:
1.
Pengalaman
pribadi
a.
Perjalanan
b.
Tempat
yang pernah dikunjungi
c.
Kelompok
Anda
d.
Wawancara
dengan tokoh
e.
Kejadian
luar biasa
f.
Peristiwa
lucu
g.
Kelakuan
atau adat yang aneh
2.
Hobby
dan keterampilan
a.
Cara
melakukan sesuatu
b.
Cara
bekerja sesuatu
c.
Peraturan
dan tata-cara
3.
Pengalaman
pekerjaan atau profesi
a.
Pekerjaan
tambahan
b.
Profesi
keluarga
4.
Pelajaran
sekolah atau kuliah:
a.
Hasil-hasil
penelitian
b.
Hal-hal
yang perlu diteliti lebih lanjut
5.
Pendapat
pribadi:
a.
Kritikan
pada permainan, film, buku, puisi, pidato atau siaran radio dan televisi
b.
Hasil
pengamatan pribadi
6.
Peristiwa
hangat dan pembicaraan publik:
a.
Berita
halaman muka surat kabar
b.
Topik
tajuk rencana
c.
Artikel
pada kolom yang lain
d.
Berita
radio dan televisi
e.
Topik
surat kabar daerah
f.
Berita
dan tajuk surat kabar kampus
g.
Percakapan
di antara mahasiswa
h.
Kuliah
i.
Penemuan
mutakhir
j.
Peristiwa
yang bakal terjadi
7.
Masalah
Abadi:
a.
Agama
b.
Pendidikan
c.
Soal
masyarakat yang belum selesai
d.
Problem
pribadi
8.
Kilasan
biografi:
a.
Orang-orang
terkenal
9.
Kejadian
Khusus:
a.
Perayaan
atau peringatan
b.
Peristiwa
yang erat kaitannya dengan peringatan
10.
Minat
khalayak:
a.
Pekerjaan
b.
Hobby
c. Rumah tangga
d.
Pengembangan
diri
e.
Kesehatan
dan penampilan
f.
Tambahan ilmu
g.
Minat
khusus
h.
Lain-lain.
Topik-topik tersebut dapat dipilih sesuai
dengan tujuan pidato yang akan disampaikan. Untuk mendapat topik yang baik
dalam pidato, ada beberapa kriteria atau pedoman yang harus diperhatikan dalam
memilihnya. Berikut ini dikemukakan beberapa kriteria yang dapat diacu dalam
pemilihan topik tersebut.
1.
Topik
harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan Anda
Topik yang
paling baik adalah topik yang memberikan kemungkinan Anda lebih tahu daripada
khalayak, Anda lebih ahli dibandingkan dengan kebanyakan pendengar.
2.
Topik
harus menarik minat Anda
Topik yang
paling enak dibicarakan adalah topik yang paling Anda senangi dan menyentuh
perasaan Anda.
3.
Topik
harus menarik minat pendengar
4.
Topik
harus sesuai dengan pengetahuan pendengar
5.
Topik
harus terang ruang lingkup dan pembatasannya
6.
Topik
harus sesuai dengan waktu dan situasi
7.
Topik
harus dapat ditunjang dengan bahan yang
lain.
Sementara itu,
Maidar G. Arsjad dan Mukti U.S. (1991: 57) mengungkapkan bahwa dalam hal
penentuan pokok atau topik pembicaraan yang akan disampaikan dalam pidato,
perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1.
Topik yang dipilih hendaknya serba sedikit sudah diketahui dan memungkinkan
untuk melengkapinya
2.
Persoalan yang disampaikan hendaknya menarik perhatian bagi pembicara sendiri
3.
Persoalan yang disampaikan hendaknya juga menarik perhatian pendengar
4. Tingkat kesulitan persoalan yang akan dibahas hendaknya
disesuaikan dengan tingkat kemampuan pendengar
5.
Persoalan yang disampaikan hendaknya dapat diselesaikan dalam waktu yang
disediakan.
Dengan memilih topik yang sesuai dengan
tujuan pidato yang akan disampaikan dan sesuai dengan kriteria atau pedoman
yang telah ada, diikuti dengan latihan yang baik akan didapatkan pidato yan
menarik dan sukses. Dalam mempersiapkan sebuah pidato agar dapat menjadi pidato
yang menarik, latihan penyampaian secara efektif merupakan hal yang harus
dilakukan.
B. Pembawaan Pidato
Pelaksanaan atau pembawaan pidato memerlukan
persiapan dan latihan yang cukup. Selain persiapan dan latihan yang cukup,
masih banyak hal yang harus diperhatikan ketika seseorang menyampaikan
pidatonya di depan audiens. Dalam hubungannya dengan persiapan, pelaksanaan,
dan akhir wicara atau pidato, Widyamartaya (1980: 32-35) mengemukakan tiga hal
yang perlu mendapat perhatian, yaitu: (1) pembawaan awal pembicaraan atau awal
pidato, (2) selama berbicara, dan (3) pembawaan akhir wicara.
1. Pembawaan Awal Pembicaraan
a.
Tenangkan
diri Anda sebelum maju ke depan. Bila Anda berdiri di depan orang banyak untuk
berbicara, jangan terus berbicara, tapi tenangkan dulu diri Anda. Selama 10
sampai 15 detik berdirilah dengan tenang menyadari diri, pandanglah para
hadirin, dan ambillah nafas dalam-dalam.
b.
Setelah
Anda menguasai diri dan mengadakan kontak dengan pendengar Anda, ucapkan sapaan-sapaan dengan
sepenuh hati dan simpatik.
c.
Awalilah
pembicaraan Anda dengan menyinggung kesempatan/tempat yang diberikan pada Anda
atau apa yang pernah disampaikan pembicara sebelumnya.
d.
Bangkitkan
minat hadirin dengan mengutarakan suatu kejadian yang aktual, data statistik,
suatu pertanyaan, alat peraga, menyinggung pentingnya suatu masalah, dan
sebagainya.
2. Selama Berbicara
a.
Menggunakan
pause, jeda sementara untuk memberi kesempatan kepada pendengar guna mencerna
penjelasan yang baru disampaikan, sekaligus sebagai persiapan untuk memasuki
persoalan berikutnya.
b.
Pembicaraan
diselingi dengan sapaan-sapaan yang bervariatif.
c.
Kata-kata
atau frase yang penting ditekankan dengan intonasi khusus.
d.
Nada
dan suara harus dapat bervariasi.
e.
Dukunglah
pembicaraan dengan mimik, intonasi, dan solah bawa yang tepat.
f.
Pembicaraan
diusahakan logis dan sistematis.
3. Pembawaan Akhir Berbicara
a.
Perhitungkan
kemampuan pendengar dan pembicara, jangan bernafsu bicara banyak dan jangan
kita mengikuti perasaan kita sendiri.
b.
Bila
gagasan yang akan disampaikan sudah memadai segera berhenti. Bicara yang
berkepanjangan biasanya hasil dari pemikiran yang kurang lama atau masak.
c.
Bila
pembicaraan cukup panjang, kemukakan ringkasan pokok persoalan yang disampaikan.
Tekankan atau tandaskan sekali lagi maksud pokok pembicaraan Anda.
d.
Akhiri
pembicaraan Anda dengan semangat yang menyala, tidak turun atau melemah.
e.
Hindarkan
basa-basi yang tidak perlu, misalnya ucapan “Saya kira cukup sekian pembicaraan
Saya”, ucapkan saja “Terima kasih atas perhatian Saudara.”
f.
Wajah
dan gerak-gerik hendaklah selalu memancarkan suatu kepercayaan diri. Hindarkan
gerak-gerik yang kurang baik, seperti penyeringaian, buru-buru, angkat bahu,
dan sebagainya.
C. Cara Membuka dan Menutup Pidato
1. Cara Membuka Pidato
Pembukaan dalam berpidato memiliki peranan yang cukup
besar dalam kesuksesan berpidato. Kalau dalam pembukaan pidato sudah bagus,
maka pendengar akan merasa tertarik untuk mengikuti uraian pidato selanjutnya.
Jalaluddin Rachmat (1999:52-63) menyarankan beberapa hal yang dapat dilakukan
dalam membuka dan menutup pidato. Cara dan waktu yang dibutuhkan dalam membuka
pidato menurutnya sangat bergantung pada
topik, tujuan, situasi, khalayak, dan hubungan antara komunikator dan komunikan.
Adapun cara-cara membuka pidato tersebut dapat dipilih salah satu dari yang
berikut:
1.
Langsung
menyebutkan pokok persoalan. Komunikator menyebutkan hal-hal yang akan
dibicarakannya dan memberikan kerangka pembicaraannya. Cara ini biasanya
dilakukan bila topik adalah pusat perhatian khalayak.
2.
Melukiskan
latar belakang masalah.
Komunikator menjelaskan sejarah topik,
membatasi perngertian, dan menyatakan masalah-masalah utamanya.
3.
Menghubungkan
dengan peristiwa mutakhir atau kejadian yang tengah menjadi pusat perhatian
khalayak.
4.
Menghubungkan
dengan peristiwa yang sedang
diperingati.
5.
Menghubungkan
dengan tempat komunikator berpidato.
6.
Menghubungkan
dengan suasana emosi (mood) yang tengah meliputi khalayak.
7.
Menghubungkan
dengan kejadian sejarah yang terjadi di masa lalu
8.
Menguhubungkan
dengan keperluan vital pendengar
9.
Memberikan
pujian pada khalayak atas prestasi mereka
10.
Memulai
dengan pernyataan yang mengejutkan
11.
Mengajukan
pertanyaan provokatif atau serentetan pertanyaan
12.
Menyatakan
kutipan
13.
Menceritakan
pengalaman pribadi
14.
Mengisahkan
cerita faktual, fiktif atau situasi hipotetis
15.
Menyatakan
teori atau prinsip-prinsip yang diakui kebenarannya
16.
Membuat
humor.
Sementara
itu, Hendrikus (2003:80) memberikan beberapa saran yang perlu diperhatikan
dalam memulai pidato. Beberapa saran dan petunjuk tersebut adalah:
1.
Mulailah
setenang mungkin.
2.
Pikirlah
sesuatu yang positif untuk melenyapkan rasa takut.
3.
Jangan
memulai pidato dengan membaca dan terikat pada teks, tetapi bicaralah bebas.
4.
Jangan
mulai dengan meminta maaf.
5.
Memulai
pidato dengan nada positif.
6.
Berusahalah
untuk menarik perhatian pendengar dan menciptakan kontak dengan mereka.
7.
Mulailah
pidato dengan cara yang lain, tetapi menarik. Artinya tidak usah memulai dengan
rumusan-rumusan umum yang selalu sama.
8.
Bernafaslah
sedalam-dalamnya sebelum mulai berbicara.
9.
Mulailah
berbicara, bila seluruh ruangan sudah tenang.
2. Cara Menutup Pidato
Selain pembukaan pidato, masalah penutupan pidato juga
menjadi masalah yang penting. Penutup pidato paling tidak harus dapat
menjelaskan seluruh tujuan komposisi, memperkuat daya persuasi, mendorong
pemikiran dan tindakan yang diharapkan, menciptakan klimaks dan menimbulkan
kesan terakhir yang positif. Dalam sebuah pidato, dikenal dua macam cara
menutup pidato yang buruk, yaitu: berhenti tiba-tiba tanpa memberikan gambaran
komposisi yang sempurna dan
berlarut-larut tanpa pengetahuan di mana harus berhenti.
Berikut ini beberapa cara menutup pidato sebagaimana yang
diungkapkan oleh Rachmat (1999: 60-63):
1.
Menyimpulkan
atau mengemukakan ikhtisar pembicaraan.
Cara yang
paling mudah dalam menyimpulkan ini adalah dengan membilangnya dalam urutan
satu, dua, tiga, dan seterusnya.
2.
Menyatakan
kembali gagasan utama dengan kalimat dan kata yang berbeda. Hal ini dapat
dilakukan setelah menyebutkan ikhtisar pidato atau tanpa ikhtisar pidato.
3.
Mendorong
khalayak untuk bertindak (Appeal for Action).
Cara ini
biasanya dipakai terutama untuk menutup pidato persuasif yang ditujukan untuk
memperoleh tindakan tertentu dari khalayak.
4.
Mengakhiri
dengan klimaks.
Karena akhir
pidato merupakan puncak seluruh uraian, maka menuju penutup pidato dapat
dilakukan dengan uraian menjadi lebih penting dan lebih patut mendapat
perhatian.
5.
Mengatakan
kutipan sajak, kitab suci, peribahasa, atau ucapan ahli.
Kutipan dapat
menambah keindahan komposisi, asal kutipan yang dipakai tersebut ada kaitannya
dengan tema yang dibicarakan atau menunjukkan
arah tindakan yang harus dilakukan.
6.
Menceritakan
contoh yang berupa ilustrasi dari tema pembicaraan.
Ilustrasi ini
harus berbentuk cerita yang menarik perhatian yang menghidupkan jalannya
uraian. Panjang pendeknya cerita dapat disesuaikan dengan waktu yang tersedia.
7.
Menerangkan
maksud sebenarnya pribadi pembicara.
8.
Memuji
dan menghargai khalayak.
Pujian yang
efektif adalah pujian yang wajar, ikhlas, dan tidak berlebih-lebihan.
9.
Membuat
pernyataan yang humoris atau anekdot lucu.
Kalau bukan
ahli, cara menutup pidato inilah yang paling sukar dilakukan.
Sebaiknya
penutup pidato diucapkan secara bebas, jangan membaca pada teks, karena akan
membawa efek yang kurang meyakinkan. Pembicara harus mengucapkan secara bebas,
dan diucapkan dengan kontak mata yang sugestif terhadap pendengar.
D. Perasaan Takut dan Cemas dalam Berpidato
1. Sebab-sebab Utama Rasa Takut dan Cemas
Dalam hubungannya
dengan penampilan di depan umum atau pidato, biasanya ada seseorang yang merasa
takut dan cemas yang sering disebut dengan istilah demam panggung. Banyak hal
yang dapat menjadi penyebab rasa takut dan cemas ini. Perasaan ini juga tidak
hanya dimiliki oleh pembicara pemula, tetapi juga sering dialami oleh pembicara
yang telah berpengalaman lama dalam masalah pidato. Hendrikus (1991: 157) mengemukakan
sebab-sebab utama rasa takut dan cemas sebelum tampil di muka umum atau pada
saat berpidato sebagai berikut:
a.
takut
ditertawakan
b.
takut
berhenti di tengah pembicaraan karena kehilangan jalan pikiran
c.
takut
akan orang yang lebih tinggi kedudukannya di antara pendengar
d.
takut
karena tidak menguasai tema
e.
takut
membuat kesalahan
f.
takut
karena situasi yang luar biasa
g.
takut
mendapat kritik
h.
takut
kalau tidak bisa dimengerti
i.
takut
bahwa ceramah tidak lancar
j.
takut
kalau ungkapannya jelek dan tidak jelas
k.
takut
kehilangan muka
l.
takut
akan mendapat pengalaman yang jelek
m.
takut
karena membandingkan dengan pembicara lain yang lebih baik
n.
takut
ditertawakan karena aksen yang salah
o.
takut
kalau harapan pendengar tidak terpenuhi
p.
takut
kalau direkam atau difilmkan
q.
takut
kalau gerak mimik dan tubuh tidak sepadan, dsb.
2. Cara Mengatasi Rasa Takut dan Cemas
Rasa takut dan
cemas dalam berpidato dapat diatasi dengan berbagai cara. Di antaranya yang
terpenting adalah persiapan yang teliti!
Kalimat pertama dan terakhir harus dapat dihafal! Oleh karena itu seorang pembicara perlu
sekali:
a.
membina
kontak mata dengan pendengar
b.
mengembangkan
aktivitas dari/pada mimbar
c.
jangan
melambungkan tujuan terlalu tinggi
d.
menganggap
pendengar sebagai kawan, bukan lawan
e.
berpikirlah
bahwa Anda pasti tidak akan bisa memuaskan semua orang
f.
anggaplah
tugasmu ini sebagai kesempatan untuk membuktikan diri dan bukan ujian atau
percobaan
g.
kegagalan
hendaknya dianggap sebagai kemenangan yang tertunda
h.
berusahalah
untuk menenangkan diri dan batin lewat pernapasan yang baik
i.
pilihlah
tema yang baik dan tepat bagi pendengar
j.
pendengar
tidak menentang Anda! Mereka datang hanya untuk mendengar ceramah Anda
k.
ingatlah
selalu kalimat ini: SAYA HARUS! SAYA
MAU! SAYA SANGGUP!
l.
ingatlah
bahwa segala keberhasilan di dalam hidup ini selalu didahului oleh rasa cemas
dan takut.
Dalam kaitannya
dengan adanya rasa cemas dalam berpidato atau tampil di depan umum, maka
pembicara perlu memperhatikan dua belas hukum retorika, yaitu:
1.
Kepandaian
berbicara dapat dipelajari,
2.
Latihlah
dirimu dalam teknik berbicara,
3.
Hilangkan
perasaan cemas – latihlah berbicara sambil berpikir,
4.
Berpidato
itu bukan membaca!
5.
Rumuskan
tema pidato secara tajam!
6.
Pidato
harus memiliki skema yang jelas!
7.
Awal
yang menarik… penutup mengesankan!
8.
Saya
tahu, saya mau, saya berhasil
9.
Tingkatkan
argumentasi, dan siaga menghapi keberatan!
10.
Yang
membuat sang retor bahagia adalah membawakan pidato!
11.
Bicaralah
jelas!
12.
Latihan
menciptakan juara!
Terkait
dengan kesuksesan sebuah pidato, Hendrikus (2003) menyampaikan ciri-ciri
pidato yang baik, antara lain.
1.
Pidato
yang saklik.
Pidato itu
saklik apabila memiliki objektivitas dan unsur-unsur yang mengandung kebenaran.
Ada hubungan yang serasi antara isi pidato dan formulasinya, sehingga indah
didengar. Ada hubungan yang jelas antara pembeberan masalah dengan fakta dan
pendapat atau penilaian pribadi.
2.
Pidato
yang jelas.
Pembicara harus
memilih ungkapan dan susunan kalimat yang tepat dan jelas untuk menghindarkan
salah pengertian.
3.
Pidato
yang hidup.
Untuk
menghidupkan sebuah pidato dapat dipergunakan gambar, cerita pendek, dan
kejadian-kejadian yang relevan sehingga memancing perhatian pendengar. Pidato
yang hidup dan menarik umumnya diawali dengan ilustrasi, sesudah itu
ditampilkan pengertian-pengertian abstrak atau definisi.
4.
Pidato
yang memiliki tujuan.
Setiap pidato
harus memiliki tujuan, yaitu apa yang mau dicapai. Dalam membawakan pidato,
tujuan pidato harus sering diulang dalam rumusan yang berbeda. Dalam satu
pidato tidak boleh disodorkan terlalu banyak tujuan dan pikiran pokok.
5.
Pidato
yang memiliki klimaks.
Berusahalah
menciptakan titik-titik puncak dalam pidato untuk memperbesar ketegangan dan
rasa ingin tahu pendengar. Klimaks itu harus muncul secara organis dari dalam
pidato itu sendiri dan bukan karena mengharapkan tepukan tangan yang riuh dari
para pendengar. Klimaks yang dirumuskan dan ditampilkan secara tepat akan
memberikan bobot kepada pidato yang disampaikan.
6.
Pidato
yang memiliki pengulangan.
Pengulangan
dalam sebuah pidato itu penting karena dapat memperkuat isi pidato dan
memperjelas pengertian pendengar. Pengulangan juga dapat menyebabkan
pokok-pokok pidato tidak cepat dilupakan. Yang perlu diingat adalah bahwa
pengulangan hanya pada isi dan pesan, bukan pada rumusan. Hal ini berarti bahwa
isi dan arti tetap sama, akan tetapi dirumuskan dengan mempergunakan bahasa
yang berbeda.
7.
Pidato
yang berisi hal-hal yang mengejutkan.
Memunculkan
hal-hal yang mengejutkan dalam pidato berarti menciptakan hubungan yang baru
dan menarik antara kenyataan-kenyataan yang dalam situasi biasa tidak dapat
dilihat. Hal-hal yang mengejutkan itu dapat menimbulkan ketegangan yang menarik
dan rasa ingin tahu yang besar, tetapi tidak dimaksudkan sebagai sensasi.
8.
Pidato
yang dibatasi.
Sebuah pidato
harus dibatasi pada satu atau dua soal yang tertentu saja. Pidato yang isinya
terlalu luas akan menjadi dangkal. Apabila menurut pengamatan kita para pendengar
sudah mulai risau atau bosan, maka pidato harus segera diakhiri.
9.
Pidato
yang mengandung humor.
Humor dalam
sebuah pidato itu perlu, hanya saja tidak boleh terlalu banyak sehingga memberi
kesan bahwa pembicara tidak sungguh-sungguh. Humor itu dapat menghidupkan
pidato dan memberi kesan yang tak terlupakan pada para pendengar. Humor dapat juga menyegarkan pikiran
pendengar, sehingga mencurahkan perhatian yang lebih besar pada pidato
selanjutnya.
E. Jenis-jenis Pidato
Berdasarkan ada tidaknya persiapan dalam pidato, Rachmat
(1999: 17-18) membagi jenis pidato menjadi empat macam, yaitu pidato impromtu,
manuskrip, memoriter, dan ekstempore. Tokoh lain menyebut empat bentuk ini
bukan sebagai jenis pidato, tetapi merupakan metode pidato.
1. Pidato Impromtu
Pidato
impromptu adalah pidato yang disampaikan tanpa adanya persiapan dari orang yang
akan berpidato. Misalnya, ketika Anda datang ke suatu pesta, kemudian Anda
diminta untuk menyampaikan pidato, maka pidato yang Anda sampaikan tanpa adanya
persiapan terlebih dahulu tersebut dinamakan pidato impromtu. Bagi mereka yang
sudah terbiasa berpidato, pidato impromtu ini memiliki beberapa keuntungan,
diantaranya adalah (1) impromtu lebih dapat mengungkapkan perasaan pembicara
yang sebenarnya, karena pembicara tidak memikirkan lebih dulu pendapat yang
disampaikannya, (2) gagasan dan pendapatnya datang secara spontan, sehingga
tampak segar dan hidup, dan (3) impromtu memungkinkan Anda terus berpikir.
Namun
demikian, impromtu ini memiliki beberapa kelemahan, terutama bagi pembicara
atau orang yang belum terbiasa berpidato. Kelemahan-kelemahan impromtu tersebut
antara lain adalah (1) impromtu dapat menimbulkan kesimpulan yang mentah karena
dasar pengetahuan yang tidak memadai, (2) impromtu mengakibatkan penyampaian
yang tersendat-sendat dan tidak lancar, (3) gagasan yang disampaikan bias
“acak-acakan” dan ngawur, (4) karena tiadanya persiapan, kemungkinan “demam
panggung” besar sekali.
Menurut Jalaludin Rachmat (1999: 17) ada beberapa hal
yang harus diperhatikan dan dijadikan pegangan ketika pidato impromtu harus
dilakukan. Hal-hal tersebut antara lain adalah:
1.
Pikirkan
lebih dahulu teknik permulaan pidato yang baik. Misalnya: Cerita, hubungan
dengan pidato sebelumnya, bandingan, ilustrasi, dan sebagainya.
2.
Tentukan
sistem organisasi pesan. Misalnya: susunan kronologis, teknik pemecahan
masalah, kerangka sosial ekonomi-politik, hubungan teori dan praktik.
3.
Pikirkan
teknik menutup pidato yang mengesankan. Kesukaran menutup pidato biasanya
merepotkan pembicara impromtu.
2. Pidato Manuskrip
Pidato
jenis manuskrip ini juga sering disebut pidato dengan naskah. Orang yang
berpidato mmembacakan naskah pidato dari awal sampai akhir. Pidato jenis
manuskrip ini diperlukan oleh tokoh nasional dan para ilmuwan dalam melaporkan
hasil penelitian yang dilakukannya. Mereka harus berbicara atau berpidato
dengan hati-hati, karena kesalahan pemakaian kata atau kalimat akibatnya bisa
lebih luas dan berakibat negatif.
Keuntungan
pidato manuskrip antara lain adalah (1) kata-kata dapat dipilih sebaik-baiknya
sehingga dapat menyampaikan arti yang tepat dan pernyataan yang gamblang, (2)
pernyataan dapat dihemat, karena manuskrip dapat disusun kembali, (3) Kefasihan
bicara dapat dicapai, karena kata-kata sudah disiapkan, (4) hal-hal yang ngawur
atau menyimpang dapat dihindari, (5) manuskrip dapat diterbitkan atau
diperbanyak.
Akan tetapi kalau dilihat dari proses komunikasi,
kerugian pidato manuskrip ini akan lebih berat , di antaranya adalah (1)
komunikasi pendengar akan berkurang karena pembicara tidak berbicara langsung
kepada mereka, (2) pembicara tidak dapat melihat pendengar dengan baik,
sehingga akan kehilangan gerak dan bersifat kaku, (3) Umpan balik dari
pendengar tidak dapat mengubah, memperpendek atau memperpanjang pesan, (4 )
pembuatannya lebih lama daripada sekedar menyiapkan garis-garis besarnya saja.
Agar dapat menghindari berbagai kelemahan dari pidato
manuskrip ini, maka perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini:
1.
Susunlah
lebih dahulu garis-garis besarnya dan siapkan bahan-bahannya.
2.
Tulislah
manuskrip seolah-olah Anda berbicara. Gunakan gaya percakapan yang lebih
informal dan langsung.
3.
Baca
naskah itu berkali-kali sambil membayangkan pendengar.
4.
Siapkan
manuskrip dengan ketikan besar, tiga spasi dan batas pinggir yang luas.
3. Pidato Memoriter
Pidato
jenis ini juga sering disebut sebagai pidato hafalan. Pembicara atau orang yang akan berpidato
menulis semua pesan yang akan disampaikan dalam sebuah naskah kemudian
dihafalkan dan disampaikan kepada audiens kata-demi kata secara hafalan. Pidato
memoriter ini sering menjadi tidak dapat berjalan dengan baik apabila pembicara
lupa bagian yang akan disampaikan, dan dalam pidato ini hubungan antara
pembicara dengan audiens juga kurang baik.
Kekurangan pidato jenis ini antara lain adalah: tidak
terjalin saling hubungan antara pesan dengan pendengar, kurang langsung,
memerlukan banyak waktu dalam persiapan, kurang spontan, perhatian beralih dari
kata-kata kepada usaha mengingat-ingat.
4. Pidato Ekstemporer
Pidato ekstemporer ini adalah jenis pidato yang paling
baik dan paling banyak digunakan oleh juru pidato yang telah mahir. Dalam
pidato jenis ini, pembicara hanya menyiapkan garis besar (out-line)
saja. Dalam penyampaiannya, pembicara tidak mengingat kata demi kata tetapi
pembicara bebas menyampaikan ide-idenya dengan rambu-rambu garis besar
permasalahan yang telah disusun. Komunikasi yang terjadi antara pembicara
dengan audiensnya dapat berlangsung dengan lebih baik. Pembicara dapat secara
langsung merespons apa yang terjadi di hadapannya sesuai dengan situasi dan
kondisi yang dihadapinya.
Bagi pembicara yang belum mahir berpidato, pidato jenis
ekstempore ini memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut di antaranya
adalah: persiapan kurang baik bila dibuat terburu-buru, pemilihan bahasa yang
jelek, kefasihan yang terhambat karena kekurangan memilih kata dengan segera,
kemungkinan menyimpang dari garis besar pidato (out-line), tentu saja
tidak dapat dijadikan bahan penerbitan.
Akan tetapi, kekurangan-kekurangan tersebut dapat diatasi dengan banyak
melakukan latihan berpidato.
Berdasarkan isi dan sifatnya, Haryadi (1994:45)
mengelompokkan pidato ke dalam tiga jenis, yaitu (1) pidato informatif, (2)
pidato propagandis, dan (3) pidato edukatif.
Pidato informatif mempunyai
ciri-ciri:
1.
objektif,
yaitu menurut apa adanya dan sesungguhnya, dasarnya memberi penerangan
sejelas-jelasnya dan tidak menyimpang dari pokok persoalan,
2.
realistis,
yaitu mengikuti apa yang sebenarnya, baik pahit maupun manis,
3.
motivatif,
artinya memberi pengarahan agar diperoleh kesadaran baru, dan
4.
zakelijk,
yakni tidak menyimpang dari persoalan dan jujur.
Pidato propagandis
mempunyai ciri-ciri:
1.
subjektif,
artinya dapat menyimpang dari hakikat kebenaran demi tercapainya tujuan,
2.
Fiktif,
yakni lebih banyak gambaran-gambaran yang indah-indah, fatamorgana, isapan
jempol,
3.
pemutarbalikan
fakta bila perlu, artinya segala cara dapat dilakukan termasuk memutarbalikkan
fakta demi memperoleh pengaruh yang besar,
4.
agitatif,
artinya dilakukan secara bersemangat dan berapi-api,
5.
demagogis,
yaitu berisi pengarahan-pengarahan yang menyesatkan orang lain, bahkan sering
melakukan fitnah dan adu domba,
6.
agresif,
artinya bersikap menyerang lawan,
7.
menarik,
yakni memikat dan sering mendapat tepuk tangan.
Pidato edukatif memiliki
ciri-ciri:
1.
objektif,
apa yang dituju atau dimaksud,
2.
rasional,
yakni berdasarkan pikiran sehat, bukan emosi, dan mementingkan kebenaran,
3.
berdasarkan
ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenaran ilmiahnya,
4.
defensif,
artinya bersifat mempertahankan kebenaran ilmiahnya,
5.
tenang
waktu mengemukakan, dimaksudkan untuk memasukkan pengertian.
Di
bagian lain dikemukakan sikap dan tatakrama yang perlu diperhatikan oleh
seorang pembicara, antara lain:
1.
Berpakaian
yang bersih, rapi, sopan, dan tidak bergaya pamer atau berlebih-lebihan.
2.
Merendahkan
hati, tetapi bukan rendah diri dan kurang percaya diri.
3.
Kata-kata
dan ucapan sopan. Menggunakan kata-kata sapaan secara mantap dan bersahabat.
4.
Di
sana-sini diselingi humor yang segar dan sopan.
5.
Pada
bagian akhir uraian selalu mengemukakan permohonan maaf.
Berikut
ini dikemukakan struktur bahan yang digunakan untuk berbagai pidato seremonial.
1.
Pidato
Pembukaan dalam Seminar
a.
Pembukaan
b.
Pengantar
dan ucapan terima kasih
c.
Mengapa
tema itu yang dipilih
d.
Apa
yang diharapkan dari pembicara dan pendengar
e.
Penjelasan
jalannya acara
f.
Penutup
2. Pidato Ketua Panitia
a.
Pembukaan
b.
Ucapan
terima kasih
c.
Maksud
diadakannya kegiatan tersebut
d.
Laporan
kegiatan
e.
Harapan
untuk berpartisipasi
f.
Permohonan
maaf
g.
Penutup
3. Pidato Belasungkawa
a.
Pembukaan
b.
Penyampaian
rasa belasungkawa
c.
Apa
makna kematian bagi manusia
d.
Doa
dan harapan
e.
Penutup
4. Pidato Belasungkawa atas
nama keluarga
a.
Pembukaan
b.
Ucapan
terima kasih
c.
Peristiwa
kematian
d.
Memintakan
maaf atas kesalahannya
e.
Permohonan
untuk penyelesaian hutang-piutang
f.
Permohonan
maaf
g.
Penutup
DAFTAR PUSTAKA
Arsjad,
Maidar G. dan Mukti U.S. 1991. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa
Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Citrobroto,
R.I. Suhartin. 1979. Prinsip-Prinsip dan Teknik Berkomunikasi. Jakarta:
Bhatara.
Dipodjojo,
Asdi S. 1982. Komunikasi Lisan. Yogyakarta: Lukman.
Hadinegoro,
Luqman. 2003. Teknik Seni Berpidato Mutakhir. Yogyakarta: Absolut.
Haryadi,
1994. Pengantar Berbicara. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.
Hendrikus,
SDV, Dori Wuwur. 1991. Retorika. Yogyakarta: Kanisius.
Keraf,
Gorys. 1981. Diksi dan Gaya Bahasa. Ende-Flores: Nusa Indah.
-----------.
1997. Komposisi. Ende Flores: Nusa
Indah.
Nadeak,
Wilson. 1987. Cara-cara Bercerita. Jakarta:
Binacipta.
Pringgawidagda,
Suwarna. 2003. Pranata Adicara. Yogyakarta: Adicita.
Rakhmat,
Jalaluddin. 1999. Retorika Modern Pendekatan Praktis, Cetakan ke-5. Bandung:
Remaja Rosda Karya.
Suyuti,
Achmad. 2002. Cara Cepat Menjadi Orator, Da’I, dan MC Profesional. Pekalongan: Cinta Ilmu.
Tarigan,
Henry Guntur. 1990. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Cetakan
ke-6. Bandung: Angkasa.
Widyamartaya,
A. 1980. Kreatif Berwicara. Yogyakarta: Kanisius.
Wiyanto,
Asul dan Prima K. Astuti. 2004. Terampil Membawa Acara. Jakarta:
Grasindo.
Wuryanto,
M.E. Satrio. 1992. Pengetahuan tentang
Protokoler di Indonesia. Yogyakarta: Liberty.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar